Pasokan Vaksin dari Pusat Lambat, Capaian Vaksinasi Daerah Rendah

  • Bagikan
Antre Vaksin
Petugas kesehatan menunggu usai menerima vaksin COVID-19 Sinovac di Sleman, Yogyakarta, 28 Januari 2021. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko via REUTERS)

YOGYAKARTA, insidepontianak.com — Meski pemerintah pusat berkali-kali meminta percepatan vaksinasi, pelaksanaannya di daerah terus tersendat karena ketiadaan stok. Kementerian Kesehatan mengakui kendala utamanya adalah kiriman dari produsen yang datang dalam jumlah terbatas.

Kementerian Kesehatan mencatat sampai saat ini Indonesia sudah menerima kiriman 151,9 juta dosis vaksin. Jumlah itu hanya 30 persen dari total kebutuhan, yang mencapai lebih dari 460 juta dosis.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid mengaku sudah menerima keluhan pemerintah daerah terkait persoalan ini.

“Kita ketahui di bulan Juli ini beberapa daerah mengatakan mereka belum bisa memberikan vaksin karena vaksinnya belum dikirim dari pusat, karena memang kita ketahui jumlah vaksin yang kita terima 151,9 juta itu sebenarnya masih kurang lebih 30 persennya dari kebutuhan kita,” kata Nadia dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, Selasa (28/7), seperti dilansir VOA.

Indonesia baru saja menerima kiriman vaksin Sinovac sebanyak 21,2 juta dosis, yang diklaim sebagai jumlah kiriman terbesar. Biasanya, produsen ini hanya mengirimkan antara 10 juta hingga 15 juta dosis dalam sekali kirim. Vaksin yang diterima pekan ini, kata Nadia, akan digunakan pada Agustus mendatang untuk meningkatkan jumlah dosis yang bisa disuntikan.

Nadia menambahkan, total 462 juta dosis baru akan bisa dipenuhi pengirimannya oleh produsen sampai dengan Desember 2021. Karena itulah, dengan stok total seluruh merek vaksin antara 50 juta hingga 70 juta dosis, pemberian suntikan harus dilakukan bertahap. Jumlah warga yang bisa disuntik adalah separuh dari jumlah dosis tersedia. Kemenkes berharap kiriman pada Oktober hingga Desember bisa mencapai 80 juta dosis per bulan.

“Di bulan Juli ini kita mendapatkan total 54 juta dosis, terdiri dari Sinovac bentuk bulk 39,2 juta dosis, Astrazeneca 6,7 juta dosis, Sinopharm untuk vaksinasi gotong-royong itu 4 juta dosis dan Moderna 4,5 juta dosis,” tambah Nadia.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: