Kalak BPBD Kayong Utara Ceritakan Pengalaman saat Terkonfirmasi Covid-19

  • Bagikan
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Kayong Utara, Kalimantan Barat, Noorhabib. (Fauzi/Inside Pontianak)

KAYONG UTARA, Insidepontianak.com – Setelah menjalani isolasi mandiri, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Kayong Utara, Kalimantan Barat, Noorhabib menceritakan pengalamannya bertahan dari Covid-19.

Noorhabib menceritakan, di Bulan Maret lalu, ia bersama istri sempat melakukan perjalanan ke Pontianak. Saat pulang ke Kabupaten Kayong Utara, Noorhabib menggunanakan kapal kelotok, yang saat itu penumpang cukup ramai. Tiba di rumah, setelah beberapa hari, sang istri mulai mengeluhkan penciuman yang mulai hilang, melihat gejala itu, ia pun menceritakan ke anak perempuannya yang bekerja sebagai perawat. Anaknyapun menyarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ke Puskesmas Sukadana, dan melakukan swab antigen pada 5 April. Hasil swab PCR istrnya postif Covid-19.

Melihat hasil tersebut, Noorhabib pun juga melakukan swab PCR dan hasil swab PCR, dirinya pun positif. Ia bersama istripun mulai melakukan isolasi mandiri. Di masa isolasi mandiri sebagai pasien positif Covid-19, Noorhabib menceritakan beberapa gejala yang dirasakannyan cukup mengkhawtirkan, di antaranya istrnya mulai merasakan sakit perut, sering buang air besar, bahkan beberapa kali istrinya mengeluhkan sesak nafas.

“Ada satu hal di luar kebiasaan saya, pada saat itu saya mengalami perasaan ingin buang air kecil terus. Dari pagi sampai jam 10 malam, saya hitung ada 30 kali saya buang air kecil. Kondisi tersebut membuat saya drop. Dan tekanan darah saya saat itu jauh menurun, sekitar 80/70. Sedangkan istri saya, yang dialaminya kehilangan penciuman, perasa dan gejala sesak nafas. Bahkan jarak kamar kami ke Wc itu hanya 6 meter, kadang- kadang baru tiga langkah harus berhenti, nafas terasa sesak,” ungkap Noorhabib saat berbagi pengalaman terkonfirmasi covid-19, Rabu (4/8/2021).

Ketakutan mantan Kasatpol PP ini semakin bertambah, ketika mengetahui hasil swab PCR dirinya juga dinyatakan positif. karena ,sebelum dinyatakan positif melalui swab PCR ia sempat mengasuh kedua cucunya yang saat itu berumur 2 tahun lebih dan berumur 6 bulan. karena saat itu, anaknya sibuk mengurus istrinya yang dalam kondisi sakit.

“Setelah saya dinyatakan positif 8 April. Anak cucu dan menantu saya PCR semua, termasuk yang kecil itu (cucu). Mereka bertiga negatif, anak saya yang perawat itu positif, karena ia merawat saya langsung setiap saat, hampir setiap hari datang ke mumah,” tuturnya.

Ia berharap seluruh warga dapat jujur kepada petugas medis dan lain sebagainya, bila memiliki gejala Covid-19. Hal ini penting, karena ketika orang tersebut tidak jujur dengan apa yang dia alami, atau tidak jujur habis melakukan perjalanan ke luar daerah, maka ketika tenaga medis yang menangani tidak siap dengan perlengkapan penanganan Covid-19, maka menyebabkan tenaga medis menjadi rentan terpapar.

“Kalau kita pergi ke suatu wilayah, apalagi itu sudah zona merah. Kita harus jujur ke pihak petugas kesehatan. Kalau kita tidak jujur, kita bilang tidak ke mana – ke mana, kasian mereka yang menangani kita, karena mereka tidak siap. Saya jujur, kami bilang pulang dari Pontianak,” ceritanya.

Noorhabib sendiri diketahui sudah melakukan vaksin dua kali, di Bulan Januari vaksin pertama dan di Bulan Februari vaksin kedua. Sedangkan istrinya baru melakukan vaksin tahap pertama pada bulan Juli. (Fauzi)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: