Bertemu Malka, Sosok Penjual Aksesoris Kemerdekaan yang Berjuang Saat Pandemi

  • Bagikan
Namanya Malka. Penjual aksesoris kemerdekaan di Jalan Husein Hamzah
Namanya Malka. Penjual aksesoris kemerdekaan di Jalan Husein Hamzah. Ist

PONTIANAK, insidepontianak.com – Bulan Agustus mulai menyapa, ini berarti perhelatan besar akan ada di depan mata. Yups, perayaan itu adalah hari jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) negara tercinta, Republik Indonesia (RI).

Layaknya tahun-tahun lalu, sejumlah ruas jalan di sudut kota sudah mulai dipadati penjual aksesoris perayaan hari jadi.

Semarak merah putih menghiasi, mulai terlihat di sejumlah kantor instansi dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta. Bahkan, tak sedikit warga mulai memasang bendera merah putih di halaman rumah mereka.

Kali ini sobat Inside, kita tak akan membahas suasana kota jelang HUT RI ini. Tapi, kita akan melihat lebih dekat penjualan aksesoris merah putih, terutama bendera berbagai ukuran dan umbul-umbul yang dijual di sepanjang protokol Kota Pontianak.

Seperti, Jalan Husein Hamzah. Saya pun mendekat, motor saya parkir tak jauh dari kios kelontong. Tujuan saya, mendatangi penjual aksesoris di seberang jalan, tak jauh dari kendaraan yang saya ‘titipkan’ sementara kepada penjaga kios.

Saya bertemu Malka. Ia penjual aksesoris kemerdekaan. Usianya sekitar 30 tahunan. Masih muda, tapi tak sungkan berpanas-panas, apalagi di tengah pemberlakuan PPKM Level 4.

Ketika saya mendekat, pria muda itu menyapa. Ia mengira saya pembeli potensial, untuk membeli dagangannya itu.

“O, mau wawancara saya, boleh Kak?” katanya, usai tahu niat saya mendekat.

Kebetulan, hari ini, Jumat (6/7/2021). Hari pendek pikirku, karena tak lama lagi masuk waktu salat Jumat. Malka sangat ramah.

Ia menjawab semua pertanyaan saya dengan lugas. Tampak raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan, saat menjelaskan, mengapa ia berjualan di tengah pandemi.

Sejak seminggu lalu, Ia mulai menggelar lapaknya. Pria asal Cianjur, Jawa Barat, menyatakan, pendapatannya tak seberapa lantaran dalam situasi pandemi Covid-19.

Pria kelahiran 1988, antusias menjual bendera dan sejumlah pernak-pernik. Alasannya bikin terenyuh. “Demi menebar benih-benih nasionalisme masyarakat,” kata Malka.

Meskipun pendapatannya turun drastis. Dalam satu hari, paling hanya laku belasan bendera. Sebelum pandemi, keuntungan yang didapat lumayan. Tahun ini, ia hanya bisa pasrah soal keuntungan.

“Saya berharap, dagangan habis dan tak dibawa pulang, ketika kembali ke kampung halaman,” ujarnya.

Sudah lima tahun, ia menjual pernak pernik kemerdekaan ini. Hampir tidak pernah absen mencari rupiah, seperti saat pandemi sekarang ini.

Niat dan semangat Malka tak surut. Baginya, dapat rejeki belasan hingga ratusan ribu rupiah, sudah membahagiakan, diri dan keluarganya di kampung.

Setidaknya, ia dapat bertahan di tengah situasi PPKM yang ketat ini. Jika pun ada untung, keluarga di kampung menunggu kirimannya itu.

Jelang kemerdekaan ini, ia hanya punya impian kecil. Malka hanya ingin pandemi segera berlalu, dan bisa berjualan seperti biasa lagi, tanpa takut dirazia petugas.

Saya pun pamit. Jam di tangan sudah menunjuk pukul 10.30 WIB. Malka juga sudah bersiap-siap untuk salat Jumat. Ia merapikan jualannya.

“Terima kasih bang,” ucapku.

Ia tersenyum sambil memegang bendera merah putih di dadanya. Sebelum undur, saya pun menjepret Malka. Senyumnya makin lebar. Ia tunjukkan saat beraksi di depan kamera dengan percaya diri.

Merdeka! Teriaknya ketika saya beranjak pergi.

Saya pun cukup bangga dengan sikap penjual bendera ini. Sebab, ditengah pandemi, ia tetape menunjukkkan sikap nasionalismenya dan berjuang untuk tetap hidup. (Desi)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: