13 Tahun Berjualan, Baru Tahun Ini Penjualan Bendera Turun Drastis

  • Bagikan
Saiful penjual bendera di Kabupaten Ketapang
Saiful penjual bendera di Kabupaten Ketapang

KETAPANG, insidepontianak.com – Menjelang peringatan hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 76, sejumlah pedagang bendera merah putih mulai ramai berjualan di sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang.

Satu diantara pedagang bendera Saiful (32) yang membuka lapaknya di Jalan S Parman, tepatnya di depan Kantor Camat Delta Pawan. Pria asal Kabupaten Garut, Jawa Barat ini mengaku telah berjualan sejak akhir Juli 2021.

“Sudah 12 hari jualan bendera di sini,” ungkapnya sembari memperlihatkan aneka jenis dagangan yang dijualnya.

Saiful mengatakan kalau dirinya sudah mulai berjualan bendera merah putih sejak tahun 2008 silam. Bendera yang diambil dari agen ia jual keluar pulau Jawa, hingga akhirnya sampai di Kalimantan Barat.

“Sudah 13 tahun saya berjualan bendera ini, sejak tamat sekolah bang. Ini kan jualan musiman, biasa sehari hari kerja di proyek,” ujarnya.

Saiful pun menyebut, dirinya menjual berbagai bentuk bendera dengan harga yang bervariasi. Termurah seharga Rp 5.000 dan termahal seharga Rp 300.000.

“Saya menjual bendera berbahan kain dari ukuran kecil, sedang dan besar. Kemudian ada juga umbul-umbul serta background yang harganya mencapai Rp 300 ribu,” tuturnya.

Ia mengatakan kalau penjualan akan makin ramai saat sudah ada pemberitahuan dari pemerintah untuk mulai memasang bendera di rumah masing-masing.

Sementara untuk jenis bendera yang paling banyak dicari yang berbentuk umbul-umbul. Biasanya umbul-umbul dipasang di depan perkantoran atau pinggir jalanan kampung-kampung.

”Kalau umbul-umbul ukuran 4 meter, saya jual Rp 25 ribu. Yang tiga meter Rp 20 ribu,” ujarnya yang berjualan tiap hari dari pukul 6.30 Wib hingga 17.00 Wib.

Ketika ditanya terkait omset penjualan, Saiful mengaku selama dua tahun terakhir ini terjadi penurunan lantaran pandemi Covid-19 masih menghantui Indonesia.

Akibatnya, omset daganganya turun drastis hingga 50 persen. Sebelum pandemi Covid-19, omset yang diperolehnya cukup lumayan.

Dalam sehari, saya bisa membawa uang pulang ke rumah berkisar Rp 400 ribu-Rp 500 ribu.

“Kita jualan paling sampai 17 Agustus sudah pulang kampung, ” ujarnya.

Tahun ini benar-benar terasa penurunan penjualan. Saiful tak menampik jika bisa untung merupakan berkah. Jika pun tidak, ia berharap bisa balik modal.

“Kalau dulu pulang bisa bawa uang untung bersih hingga 4 jutaan lebih, sekarang bisa balik modal dan untung dikit sudah Alhamdulillah,” keluhnya. (Fauzi)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: