Batu Nek Jago, Kisah Legenda yang Jadi Destinasi Wisata Alam Potensial

  • Bagikan
Warga senagaja datang ke Taman Nek Jago karena penasaran dengan batu keramat tersebut
Warga senagaja datang ke Taman Nek Jago karena penasaran dengan batu keramat tersebut. Ist

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sejumlah daerah Kalimantan Barat masih belum banyak tersentuh. Padahal, wilayah tersebut bisa menjadi destinasi wisata lokal, selain memperkenalkan kearifan lokal juga bisa jadi penambah income ekonomi masyarakat sekitar.

Nah, kali ini sobat inside, kita akan berkunjung ke Kabupaten Sambas, tepatnya Desa Bukit Sigoler, Dusun Pelanjau, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

Di sana ada satu lokasi wisata yang menjadi tempat favorit warga sekitar. Namanya, Taman Wisata Batu Nek Jago. Letaknya di dekat Sungai Sebangkau, sungai yang cukup deras dan menjadi sumber kehidupan warga setempat.

Lokasi masih sangat asri, hijau pohon dan dedaunan di sepanjang menuju sungai seperti lambaian selendang bidadari. Nuansa alamnya sangat terasa, cukup menenangkan jiwa bagi kamu yang suka wisata alam nan asri.

Sebenarnya, Batu Nek Jago dalam pandangan warga sekitar semacam legenda atau cerita rakyat lokal yang diceritakan dari mulut ke mulut. Baru tahun 2011 lalu, sebuah penerbit lokal mencetak cerita rakyat tersebut dalam versi utuh.

Pintu gerbang masuk Taman Wisata Nek Jago. @Kabarpontianak
Pintu gerbang masuk Taman Wisata Alam Batu Keramat Nek Jago. @Kabarpontianak

Konon menurut warga setempat, batu keramat itu adalah jelmaan dari Nek Jago. Seorang tua yang ditinggal di Pelanjau bersama istri dan anak menantunya. Mereka semua dikutuk menjadi bongkahan batu besar di tepi sungai.

Sang istri bernama Nek Sari dan sang cucu tercinta bernama Maman. Kisah berkutat di tiga tokoh tersebut tanpa detail menyebutkan nama anak dan menantu Nek Jago. Begitu juga di buku terbitan tersebut.

Nek Jago dan keluarga tinggal di sebuah pondok sederhana, yang tak jauh dari sungai Sebangkau. Pria tua itu sangat mencintai sang cucu. Biasanya, ia akan bermain bersama Maman usai ia berburu di hutan atau dalam waktu senggang Nek Jago.

Seperti biasanya, pagi itu ia hendek ke hutan untuk berburu. Hasil Buruan itu untuk persediaan makan keluarganya dalam beberapa waktu. Babi hutan dan Kijang adalah buruan kesukaan pak tua itu.

Masuk hutan, dan menunggu mangsa terlihat. Nek Jago sepertinya sudah hafal dengan aktivitas itu. Ia tahu kapan buruannya terlihat dan kapan harus mengambil tindakan.

Namun, hingga menjelang sore, Nek Jago sama sekali tidak melihat hewan buruan. Sama sekali nihil. Pulang dengan tangan kosong sampai sang istri Nek Sari heran. Ia berfikir tidak biasanya sang suami pulang dengan tangan hampa.

Ia pun menyemangati sang suami untuk mencoba lagi esok paginya. Kali ia berpesan kepada sang suami harus lebih pagi bangun untuk berburu.

Dini hari, lain dari biasanya Nek Jago pergi berburu. Masuk hutan, ia menunggu dengan sabar. Tiba-tiba sumbu api yang menerangi jalan Nek Jago padam. Ia kebingungan, tetiba ia melihat sesuatu yang bersinar dikejauhan.

Ini salah atu batu keramat di lokasi Taman Wisata Alam Nek Jago. @kabarpontianak
Ini salah atu batu keramat di lokasi Taman Wisata Alam Nek Jago. @kabarpontianak

Ternyata ada tumbuhan memancarkan sinar terang, atau tepatnya cendewan terang. Ia berinisiatif meraupkan sinar cendawan tersebut kekeningnya. Pikirnya untuk penerangan jalan.

Dari kejauhan ia melihat Babi hutan. Anehnya saat didekati hewan liar tersebut mati mendadak. Begitu juga saat ia melihat Kijang, hewan bertaduk itupun mati diam, tanpa perlawanan.

Nek jago dengan hati riang pulang ke rumah. Didapati rumah sepi hanya suara sang cucu bermain sendirian. Ia mendekat. Peristiwa aneh terjadi lagi. Si cucu tiba-tiba terjerembab dan terjatuh ke lantai. Ia lemas dan kemudian meninggal. Sama seperti dua hewan buruannya saat di hutan tadi. Nek Jago terkejut bukan kepalang.

Ia merasa bersalah dan menangis sejadi-jadinya karena baru sadar bahwa sinar cendawan itu beracun. Saking sedihnya, ia meronta-ronta, seperti kesurupan hingga gubuk bambu rumahnya roboh.

Istri, anak dan menantu datang dari ladang dan terkejut melihat rumah mereka hancur, serta melihat tubuh sang cucu yang membujur kaku.

Semua pun bersedih, hingga malamnya turun hujan deras. Air sungai meluap. Banjir pun menerjang keluarga Nek Jago. Mereka semua menjadi batu atas permintaan Nek Jago kepada Dewata.

Begitulah kisah Batu Nek Jago. Sampai saat ini, bagi yang ingin melihat lokasi wisata ini masih ada hingga sekarang. Kalian bisa langsung ke lokasi dengan banyak petunjuk ke lokasi tersebut.

Posisi batu keramat tersebut berada di dalam sungai Sebangkau, Dusun Pelanjau. Batu yang paling depan (hulu) dipercaya oleh masyarakat adalah Nek Jago. Sedangkan batu keramat yang dibelakangnya (hilir) adalah Nek Kalamun.

Dekat panseban sebrang adalah batu keramat Nek Saher, sedangkan batu keramat yang berada diatas Nek Jago itu iyalah cucunya, Maman.

Sampai sekarang masyarakat Dayak yang berdomisili di Pelanjau dan sekitarnya masih meyakini tempat tersebut, bahwa membayar niat jika menginginkan sesuatu cita-cita atau keinginan bisa tercapai.

Karena keadaan alam yang sangat mendukung maka pada tahun 1970an beberapa pengurus di kampung menjadikan tempat tersebut menjadi tempat wisata dan tempat hiburan.

Wahana hiburan yang dapat dijadikan destinasi bagi pengunjung ialah sungai, gunung, situs sejarah, kolam biru Sianyuk, buah-buahan, hiburan band dan patung buaya putih yg memiliki sejarah di daerah tersebut.

Leonardus Joko, Kepala Dusun Pelanjau, berharap supaya wisata batu Nek Jago bisa mendapat perhatian dari pemerintah setempat, setidaknya membantu memajukan Taman Wisata Batu Nek Jago ini.

Pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) juga suda semaksimal mungkin dalam dua tahun ini untuk kembali mengembangkan taman wisata tersebut.

Diharapkan pemerintah dapat mengucurkan dana guna pengembangan dan pembangunan tempat tersebut agar lebih indah lagi dan meningkatkan destinasi serta perekonomian daerah setempat. (Desi)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: