Pandemi Belum Usai, Jangan Lalai

  • Bagikan
Pedagang Gerobak Berjualan di Tengah Pandemi
Penjaja makanan melewati mural di tengah pandemi virus corona di Jakarta, Senin, 8 Juni 2020. (AP/VOA Indonesia).

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 4 di Kota Pontianak berlanjut hingga 9 Agustus 2021 (Kompas.com, 32/8).

Hal ini berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 28 Tahun 2021, mengingat bed occupancy rate (BOR) yang dinilai masih tinggi di kota itu. Kota Khatulistiwa itu pun masuk zona orange dengan penularan sedang namun tetap harus diantisipasi dengan tidak lengah dan lalai.

banner 336x280

Perpanjangan PPKM Level 4 ini masih tetap memprioritaskan bahwa apotik dan toko obat boleh dibuka 24 jam. Sektor esensial diperbolehkan melakukan work from office (WFO) dengan menerapkan protokol kesehatan (50 persen dari kapasitas kantor, dan 25 persen untuk layanan administrasi).

Pasar tradisional dan pedagang kaki lima atau warung makan sejenis diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat. Begitu juga dengan supermarket dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00 waktu setempat dengan kapasitas pengunjung 50 persen dan lain-lain.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bekerjasama dengan Kodam XII/Tanjungpura melalui personel di Kodim 1207/Pontianak akan membangun posko terpadu penanganan Covid-19 di tiap kelurahan di Kota Pontianak. Sehingga terpantau hingga RW dan RT.

Sebagaimana percontohan posko di Kelurahan Benua Melayu Darat, yang berhasil secara keberlanjutan menyediakan data warga yang isolasi mandiri, sakit di rumah sakit, sembuh, meninggal dan lain-lain.

Sebelumnya juga digagas Pemkot Pontianak sejak bulan Februari 2021 adanya kampung tangguh sebagaimana kampung sehat pada aspek kesehatan, ekonomi sosial dan keamanan.

Itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk menekan penularan Covid-19 sudah sedemikian rupa. Namun, PPKM Level 4 tetap meninggalkan beragam cerita duka.

Bulan Juli sempat terjadi kelangkaan oksigen. Salah seorang warga, yang sempat mengantri oksigen di salah satu agen, pasrah pulang sembari menangis, semua rasanya terlambat dikarenakan ibu yang hendak diberi oksigen sudah meninggal. Beritanyaa pun viralke mana-mana.

Pandemi Juli telah membuat kemiskinan makin terekspose. Mengutip berita lokal Pontianak, pasangan Eko dan Sulasti yang tinggal di Jalan Selat Panjang tinggal di gubuk yang tidak layak untuk berlindung bersama 4 anaknya.

Kita tidak tahu bisa jadi ada keluarga miskin lain di suatu tempat yang mungkin sangat memerlukan bantuan dan sedang terpapar Covid-19.

Sementara itu Kabupaten Melawi harus berhadapan dengan meningkatnya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), bahkan bulan Juli menangani 414 ODGJ.

Belum lagi terkait hak-hak anak yang mana putus sekolah dengan berbagai macam kondisi, mengalami stunting, rentan tertular Covid-19 dan angka kekerasan yang meningkat mereka alami.

Di akhir Juli, animo masyarakat menjalankan vaksinasi justru harus berhadapan dengan menipisnya stok vaksin Covid-19 dan obatnya.

Setelah memantau berbagai problem, membuat ratusan mahasiswa aksi damai di depan DPRD Kalbar mempertanyakan seputar tanggung jawab pemerintah di masa pandemi. (Kalbarnews, 30/7).

Itu baru sekelumit cerita sepanjang PPKM Level 4 Juli yang lalu. Kita masih punya hati dan fikiran untuk tidak tinggal diam melihat itu semua.

Karena problematika itu sendiri terjadi, tak lepas dari ulah manusia. Allah SWT berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar Rum: 41).

Tangan manusia yang lalai dalam mengelola bumi ini memiliki daya rusak. Jika sedikit saja lalai, maka bisa berdampak meski berawal dari hal kecil.

Perhatikan virus Covid-19 yang menyebar di banyak lokasi. Ia hidup pada benda mati, namun jika bertemu dengan mahluk hidup baik manusia atau harimau Ragunan sekalipun, virus mendapat inang untuk hidup.

Ini tandanya kebersihan kita dan sekitar kita menjadi faktor awal ada dan tidak adanya penularan. Untuk hal kecil ini saja, banyak manusia lalai. Didalam rumah, kantor, fasilitas umum, pasar dan lain-lain, punya perabotan dan kondisi udara yang perlu dibersihkan rutin.

Kita yang mobile hendaknya pula mewaspadai dengan membatasi diri ke tempat umum tanpa hal mendesak.

Proteksi diri dengan masker berkualitas dan menjaga kebersihan diri. Ingat ini pandemi. Bukan endemi atau epidemi semata. Kenalilah bagaimana virus itu menular.

Masyarakat pun tak boleh lalai. Kepedulian antar tetangga, antar masyarakat tanpa diskriminasi saling tolong menolong. Di saat pandemi mungkin hampir satu gang atau komplek, penghuni tiap rumah bergiliran melakukan isolasi mandiri.

Ini kesempatan berbagi rejeki meski hanya segengam beras untuk bubur ayam. Sayangnya dibeberapa tempat masih ada stigma sosial yang malah menjauhkan yang sakit bahkan dengan pandangan dan sikap yang sangat tidak ramah.

Ingatlah bahwa kita adalah bagian dari masyarakat yang memiliki norma agama dan sosial, seumur hidup kita dituntun kitab suci, dididik orangtua dan para guru di sekolah, mengapakah tata krama menguap kala pandemi? Dibalik upaya memutus penularan, jangan sampai kita krisis ukhuwah dan persatuan.

Terpenting yang tidak boleh lalai adalah penguasa. Bayangkan betapa besar kekuatan yang dimiliki penguasa. Mengemban amanah yang dititipkan rakyat untuk mengatur negeri ini dengan seksama.

Dari konsep hingga aplikasinya. Semua ahli bisa dikerahkan. Semua pendapat bisa dikumpulkan. Semua dana bisa dioptimalkan. Sayang sekali jika hanya mendengar pakar yang selama ini mendukung secara politik saja di pemilihan umum.

Jika punya track record oposisi atau tertuduh anti NKRI, tak didengar bahkan dianggap tak boleh peduli dengan negeri ini. Tak semua suara rakyat didengar lagi di demokrasi yang slogannya mengagungkan suara rakyat. Karena suara hanya diperlukan untuk kotak suara, suara tidak diperlukan untuk memberi saran dan kritik. Mental penguasa tak lagi nyaman di hati rakyat.

Baiklah, pandemi belum usai maka tak boleh satu elemen pun di negeri ini lalai. Jika epidemiolog ada yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara terakhir yang lepas dari pandemi, maka berupayalah agar estimasi itu tidak terjadi.

Kita sebagai individu peduli tentang pandemi, tambahlah ilmu pada ahlinya dan pakarnya agar teredukasi dengan baik, jangan banyak menimba berita dan kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Masyarakat harus menjadi kontrol baik pada masyarakat itu sendiri juga pada apa yang menjadi kebijakan penguasa. Penguasa harus merefleksi diri, janganlah mau diintervensi lembaga dunia dan negara adidaya, karena negeri ini harusnya kembali diatur dengan sistem yang kuat dan berdasarkan Kitab Suci.

Kemana lagi semua kita kembalikan, kecuali pada pertolongan Ilahi. Sebagaimana Khulafaur Rasyidin pernah menjadi negara madani bagi semua agama dan bangsa.

Mengaturnya dengan syariat dan mempraktekkannya berbentuk kebijakan yang sesuai dengan fitrah manusia, menyelamatkan nyawa manusia dan menentramkan hati rakyatnya.

Penulis: Yeni Arissa, Pemerhati Problem Sosial dan Politik

Komentar
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: