banner 468x60

Kalbar Target Vaksinasi 70 Ribu Ibu Hamil

  • Bagikan
Vaksinasi Ibu Hamil di Pontianak
PANTAU - Gubernur Kalbar, Sutarmidji memantau pelaksanaan vaksinasi bagi ibu hamil yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Kalbar di Pontianak, Kamis (19/8/2021). (Dok. Insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, mulai melakukan vaksinasi kepada kelompok ibu hamil. Gubernur Kalbar, Sutarmidji menargetkan 70 ribu ibu hamil akan divaksinasi dalam waktu dekat.

“Kita akan mengutamakan vaksinasi bagi yang usia kehamilannya di atas 3 bulan dan sebelum 8 bulan,” kata Gubernur Sutarmidji, saat menghadiri kegiatan pencanangan vaksinasi Covid-19 ibu hamil Indonesia yang di laksanakan oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Kalbar di Pontianak, Kamis (19/8/2021).

Percepatan vaksinasi ibu hamil dianggap mendesak. Sebab, penularan Covid-19 klaster keluarga masih cukup tinggi. Sementara, penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkungan keluarga sulit terpantau.

Sehingga, yang beresiko jika terjadi penularan klaster keluarga adalah bagi mereka yang sedang hamil. Bahkan, bisa menjadi penyebab kematian ibu hamil di masa pandemi.

Menurut Gubernur Sutarmidji, Covid-19 menyerang paru-paru. Sementara wanita hamil memerlukan pernafasan yang lancar dan kuat. Terutama saat hendak memasuki proses persalinan. Karena itu, kesehatan ibu hamil harus dijaga di masa pandemi. Vaksinasi menjadi perlu diberikan untuk melindungi tubuhnya jika terpapar Covid-19.

“Jadi, vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil ini sangat penting untuk mengurangi risiko yang tidak kita inginkan,” tuturnya.

Gerakkan Puskesmas

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengatakan, ibu hamil memang merupakan kelompok masyarakat yang sangat berisiko tinggi terpapar Covid-19. Bahkan tercaat, ibu hamil yang terpapar Covid-19 di Indonesia, angkanya mencapai 36 persen.

“Untuk itu, kita mendorong agar ibu hamil secepat mungkin untuk divaksinasi, termasuk untuk ibu nifas dan ibu menyusui,” kata Harisson.

Harisson pun meminta dinas kesehatan dan Satgas Covid-19 di daerah, segera mempersiapkan rencana vaksinasi untuk ibu hamil.

“Silakan gerakkan Puskesmas dan bekerja sama dengan pihak lainnya, untuk mempercepat capaian vaksinasi ini,” pesannya.

Vaksin Cegah Perburukan

Perhimpunan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI), menyerukan perlunya langkah dan rekomendasi terkait pencegahan peningkatan kasus ibu hamil terkonfirmasi Covid-19 dalam keadaan berat (severe case). Langkah tersebut, yakni pemberian vaksin terhadap ibu hamil.

Ketua Umum POGI, Ari K Januarto membeberkan, populasi ibu hamil menjadi lebih rentan dan lebih cepat mengalami perburukan hingga kematian. Terlebih dengan ditemukan varian baru Covid-19 yang masuk di Indonesia.

Berdasarkan data dari Pokja Infeksi Saluran Reproduksi POGI dan POGI Cabang selama April 2020 hingga April 2021, terdapat 536 kasus Covid-19 pada ibu hamil.

Dari data tersebut, sekitar 51,9 persen di antaranya merupakan ibu hamil tanpa gejala dan tanpa bantuan napas (OTG).

“Usia kehamilan di atas 37 minggu sebanyak 72 persen, kematian komplikasi Covid-19 sebanyak 3 persen, dan Perawatan intensif ibu (ICU), sebanyak 4,5 persen masuk ICU,” katanya, dalam siaran pers, belum lama ini.

Dia juga menyebutkan, Covid-19 meningkatkan risiko kejadian persalinan prematur dan komplikasi kehamilan lainnya. Meski hingga saat ini belum ada data ilmiah mengenai efektifitas maupun potensi bahaya pemberian vaksin Covid-19 untuk ibu hamil dan menyusui mengingat tergolong dalam kelompok vulnerable population.

“Namun dengan mendapatkan vaksinasi dalam kehamilan akan mencegah ibu hamil bergejala berat bila terpapar Covid-19,” jelasnya.

Tidak Ubah Efikasi Vaksin

Dia menerangkan, secara teoritis, kehamilan tidak mengubah efikasi suatu vaksin. Tetapi hal ini perlu penelitian lebih lanjut. Dapat terjadi transfer IgG dari ibu ke fetus sehingga bisa memberikan imunitas pasif pada neonatus.

Vaksin yang masuk ke dalam tubuh akan masuk ke dalam sel, kemudian ditangkap oleh APC/sel penyaji antigen dan di pecah menjadi peptide kecil yang diikat oleh MHC, setelah itu akan di presentasi kan ke sel T helper/ CD4.

Sel CD 4 akan merangsang sel limfosit B untuk mengeluarkan berbagai macam sitokin yang kemudian berkembang menjadi sel plasma untuk memproduksi antibodi. Antibodi yang diproduksi adalah IgM, IgG dan neutralizing antibody (netralisasi antibodi).

Proses ini mencapai waktu kurang lebih dua pekan. Bila seseorang sudah melakukan vaksinasi Covid-19 maka jika terjadi infeksi Covid-19, tubuh yang sudah memiliki sel B memori akan lebih cepat mengenali antigen tersebut sehingga antibodi netralisasi akan segera terbentuk dalam waktu singkat.

Selain itu, POGI juga meminta agar pemerintah menunjuk dan menyiapkan pusat rujukan Covid-19 untuk ibu dan anak di setiap propinsi dan kabupaten/kota termasuk di Kalimantan Barat. Dilengkapi dengan fasilitas kamar bersalin tekanan negatif, ruang isolasi ibu, ruang isolasi bayi baru lahir, serta ICU dan NICU.

Untuk diketahui, saat ini, International Federation of Obstetrics and Gynecology (FIGO) telah memberikan penegasan secara kuat untuk mengikutsertakan ibu hamil dan menyusui pada fase 3 penelitian vaksin Covid-19 untuk seluruh produsen vaksin

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: