banner 468x60

Jaga Kesehatan Mental, Menulis Jurnal Bisa Jadi Pengalihan Tepat

  • Bagikan
Menulis jurnal bisa membantu menjaga suasana hati. suara.com
Menulis jurnal bisa membantu menjaga suasana hati. suara.com

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ada banyak cara untuk menyenangkan hati dan rasa. Jiwa atau mental sangat berhubungan erat dengan suasana hati. Maka butuh suasana mental yang tenang untuk memulai hari.

Tahukan kamu bahwa menulis dapat menjadi cara bagi seseorang keluar dari suasana hati yang tak baik. Dalam beberapa penelitian, menulis jurnal juga diklaim sangat baik bagi kehidupan sehari-hari.

Dikatakan oleh Content Moderator Ary Kusuma Ningsih dalam acara Express Yourself, Start Journaling For Healthier Habits, dikutip Suara.com, Rabu (25/8/2021), menulis jurnal dapat membantu seseorang yang memiliki pikiran penuh.

“Kenapa menulis jurnal itu penting? Karena kan pikiran kita penuh ya, jadi saya pribadi kalau lagi bengong, muncul pikiran untuk membuat sesuatu,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ide atau pikiran yang muncul di otak tidak akan bertahan lama jika tidak langsung dituliskan. Maka dari itu, lanjut Ary, pikiran maupun ide harus segera ditumpahkan dalam tulisan.

Tidak hanya itu, menulis jurnal juga memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan mental karena dapat menjadi terapi mengurai stres.

“Kalau yang saya rasakan, yang pertama itu bisa merilis stres. Kalau kalian punya hobi olahraga dan bernyanyi, sensasinya hampir mirip dengan menulis jurnal,” lanjutnya.

Selain itu, menulis jurnal juga bisa membangun kemampuan diri dalam menulis. Sebab dengan menulis, seseorang bisa mengembangangkan proses kreativitasnya.

“Ini akan membangun kemampuan kita buat menulis, karena setelah menulis jurnal itu bisa membuat seseorang menumpahkan pikiran sekaligus perasaannya,” lanjutnya.

Selain itu, lanjut Ary Kusuma, menulis jurnal juga bisa membantu seseorang untuk mengenali dirinya sendiri. Mulai dari intropeksi diri, serta menilai kelebihan dan kekurangan pribadi masing-masing.

“Untuk mengenali diri sendiri kita butuh dua hal. Pertama kita bisa meminta perspektif dari orang lain, dan kedua perspektif dari diri kita sendiri,” ungkap Ary Kusuma.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: