banner 468x60

Petani di Desa Sagu Sambas Galakkan Tanaman Semangka Berkelanjutan

  • Bagikan
Petani Semangka di Desa Sagu
Petani semangka di Desa Sagu. (Ist)

SAMBAS, insidepontianak.com – Desa Sagu, yang berada di Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, punya potensi luar biasa di sektor perkebunan buah semangka. Lahan di sana subur dan cocok ditanam buah yang kaya akan kandungan air tersebut.

Di sana, kebanyakan warga menanam dua jenis buah semangka, yaitu semangka inul dan semangka non biji. Mereka memilih dua jenis buah hibrida tersebut karena dianggap mudah dibudidayakan.

“Setiap tahun produksi buah semangka dari kebun petani di Desa Sagu tidak pernah putus. Jika didukung pemerintah dan dikembangan secara maksimal, maka potensi itu bisa menjadi produk unggulan desa,” kata Ketua Petani Muda Berkemajuan (PMB), Ardiansyah, Sabtu (28/8/2021).

Ardiansyah bersama timnya, berkesempatan mengunjungi salah satu pekebun buah semangka di sana yang merupakan salah satu anggota PMB. Semangka di Desa Sagu kata dia, bisa dijadikan One Village One Product (OVOP). Sebab, kebun buah semangka di sana dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“Tentu saja buah semangka di Desa Sagu bisa jadi OVOP. Seperti apa yang selalu digemparkan pemerintah yang meminta setiap desa minimal ada satu produk unggulan. Desa Sagu sangat cocok OVOP nya adalah semangka, karena setiap tahun produksinya selalu ada, bisa jadi Kampung Semangka,” katanya.

Ardiansyah mengatakan, di Desa Sagu tidak hanya ada buah semangka saja. Sektor perikanan di sana juga potensial. Salah satunya budidaya ikan Arwana Silver. Kendati belum sepenuhnya ditekuni masyarakat di sana secara keseluruhan, namun pembudidaya yang ada, cenderung berhasil dengan Arwana Silver yang dikembangbiakkan.

“Jadi di sana juga ada Arwana Silver. Tidak cuma buah semangka saja, kita tahu kalau ikan Arwana Silver itu ada penggemarnya, ada orang yang mau membelinya dengan harga tinggi. Artinya ada potensi di situ, apalagi kalau dibina dan beri bantuan dari pemerintah, makin bagus,” katanya.

Ardiansyah berharap, perkebunan buah semangka yang ada di sana mendapat dukungan pemerintah. Salah satunya penyediaan sektor hilir, sebab dia tidak ingin petani merugi saat panen raya semangka.

“Petani semangka harus punya kepastian harga. Jangan sampai saat panen raya harganya anjlok seperti rambutan sekarang, yang hanya Rp2.500 per ikat. Itu karena buah yang berasal dari kita masih banyak beredar di daerah kita sendiri,” pungkasnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: