Priyo Tri Laksono, Kisah Jatuh Bangun Sang Penjaga Pintu Jeruji

  • Bagikan
Kepala Rutan Kelas II B Sambas, Priyo Tri Laksono. Ist
Kepala Rutan Kelas II B Sambas, Priyo Tri Laksono. Ist

Sekujur tubuh Priyo tiba-tiba lemas. Otot dan tungkainya lunglai. Dia merasa ada pusaran angin melilit tubuhnya. Pria gagah itu ambruk seketika. Teman-temannya panik, dalam keadaan setengah sadar dia dibawa ke rumah sakit.

Mulanya dokter menduga dia terserang demam tifus. Penyakit ini sering menyerang semua usia. Tak terkecuali, tubuh seorang pekerja keras. Dalam hati dia bingung, selama hidup tidak pernah ada riwayat demam tifus.

Seorang perawat datang membawa baki berisi turniquet, alkohol swab, abocath ukuran 22 dan tabung kecil. Dia bersiap melakukan tindakan.

Darah dari arteri Priyo disedot dengan spuit 1 cc sebagai sampel. Kemudian perawat berbaju putih itu memasang infus glukosa di tangan kiri. Sampel itu dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan penunjang.

Tak berapa lama, Priyo sadar sepenuhnya. Dia melihat di balik tirai ada pasien lain di sebelahnya, posisinya setengah duduk dan memakai nasal kanul sama sepertinya.

Perawat datang lagi kepadanya dan langsung melakukan anamnesis. Kali ini menanyakan banyak hal seputar kebersihan lingkungan tempat dia tinggal dan makanan sehari-hari.

Sembari mengatur tetesan infus 20 tetes per menit, perawat lantas menjelaskan, bahwa penegakkan diagnosa medis harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, mereka biasa menyebutnya tes widal.

“Mungkin dokter dan perawat jaga saat itu mengira saya benaran sakit tifus. Kalau tifus itukan sakit karena ada bakteri tifus di saluran pencernaan,” katanya.

Setengah jam berlalu, hasil pemeriksaan darah lengkap keluar. Hemoglobin normal, sel darah putih normal, semua normal. Paling penting, dokter bilang tifus negatif. Dia tidak sakit apa-apa. Kadar gula darahnya juga normal, tapi dia merasa raganya tak berdaya. Seperti orang lumpuh.

Dua bulan berlalu, penyakit itu sering kambuh. Priyo mengira dia diguna-guna. Dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan dia normal. Tak sakit. Padahal dia kerap pingsan. Perasaan sering was-was, jantungnya berdebar-debar. Dia yakin itu bukan sakit tifus.

“Waktu pulang ke Jawa Timur karena sakit saya sering mengalami hal yang tidak masuk akal. Rasanya tiba-tiba ada pusaran angin yang melilit tubuh saya. Padahal tidak ada, setelah itu saya langsung lemas dan tumbang,” katanya.

Priyo mengatakan, dia juga sering bermimpi buruk. Ada satu mimpi yang membuatnya semakin cemas saat itu. Dalam mimpi dilihatnya orang membawa keranda untuknya dan menunggu di depan rumah.

Menderita sakit aneh itu membuat Priyo putus asa. Apalagi, orang tuanya saat itu memintanya untuk berhenti bekerja. Dia ingin sekali cepat sembuh karena sebentar lagi akan menikah. Akhirnya dia berobat kampung.

“Ibu saya bilang, sudahlah le. Lepaskan saja pekerjaanmu. Dalam hati, saya yakin Allah maha penolong,” katanya.

Sakit yang didapat Priyo membuatnya terpaksa menunda pernikahan. Padahal dia sudah menyiapkan uang untuk resepsi besar-besaran. Enam bulan dia sakit, uang itu hampir habis dipakai berobat.

Ketika itu dia merasa sedang berada di antara hidup dan mati. Apalagi masa-masa kritis itu tak hanya menyerang tubuh, tapi juga finansialnya.

Priyo Tri Laksono ketika bertugas sebagai Kepala Pengamanan Rutan di Rutan Landak. Ist
Priyo Tri Laksono ketika bertugas sebagai Kepala Pengamanan Rutan di Rutan Landak. Ist

Dia ingat betul sakit yang dia ceritakan itu didapatnya saat bertugas di Rutan Landak. Tahun 2007-2011 dia bertugas di Rutan Landak sebagai perintis bersama 12 petugas lainnya.

Namun, siapa sangka. Pria sakit-sakitan ini, malah kini menjabat sebagai Kepala Rutan Kelas II B Sambas. Dia duduk di posisi itu sejak awal Januari 2020, menggantikan Effendi.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: