Buntut Pembakaran Rumah Ibadah Ahmadiyah, Tokoh Kalbar : Tenang dan Jangan Terprovokasi

  • Bagikan
Aksi pembakaran rumah ibadah Ahmadiyah di Sintang. net
Aksi pembakaran rumah ibadah Ahmadiyah di Sintang. net

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pembakaran rumah ibadah Jama’ah Ahmadiyah, di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalbar menuai kecaman semua kalangan.

Mereka tak hanya menyesalkan aksi sekelompok massa yang membakar dan menghanguskan rumah ibadah tersebut, tapi juga merobek kerukunan umat bergama yang mulai tenang dalam beberapa tahun ini di Kalbar.

banner 336x280

Sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat Kalbar pun ramai-ramai ‘turun gunung’ menyikapi persoalan sensitif tersebut.

Seperti pernyataan tegas, Kanwil Depag Kalbar, Syahrul Yadi, dalam video singkatnya yang beredar, Minggu (5/9/2021)

Ia mengimbau semua pihak, untuk bijak dan berhati-hati menyikapi kondisi kejadian itu dengan menyerahkan kepada aparat dan pemerintah.

“Kita tidak ingin rugi. Tetap tenang, aman, damai. Solusi supaya memberikan hal terbaik bagi bangsa dengan spirit kesabaran, ketenangan,” ujarnya.

Sementara Ketua Umum MUI Kalbar, Muhammad Basrihar, meminta masyarakat tidak terprovokasi akan isu-isu yang menyebar terkait peristiwa itu.

“Jangan terprovokasi. Kita serahkan semua kepada pemerintah,” ujarnya.

Tindakan pembakaran itu merusak dan merugikan tatanan masyarakat. Kaharudin Plt Ketua PWNU Kalbar, menyebut dalam Islam tidak diajarkan kekerasan.

“Dakwah hendaknya dilakukan penuh hikmah, bijaksana, kelembutan, pentahapan. Sehingga Islam bisa diterima. Kehidupan masyarakat pun lebih tenang. Kita harus menciptakan masyarakat Kabar lebih damai,” ungkapnya.

Abdul Syukur, FKUB Kota Pontianak, optimis kasus ini bisa diselesaikan sesuai proses hukum yang berlaku.

“Jaga suasana ketertiban dan keamanan agar tetap kondusif, terutama di Kota Pontianak. Jangan terpengaruh informasi yang tidak bertanggungjawab. Tetap tenang,” pintanya.

Fisabilillah, Tokoh Agama Desa Parutan, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, mewanti-wanti masyarakat tak ikut-ikutan.

Meskipun demikian, semua berharap agar persoalan ini tak menjadi gamburan buram toleransi Kalbar dikemudian hari. Maman Suratman, Ketua LSM Mempawah Berani, berharap kejadian tersebut tidak terulang di masa depan.

“Serahkan pada proses hukum,” ucapnya.

Faktanya, kasus ini rentan berdampak masif jika tak ditangani serius. Menurut Pengeran Ratu Surya Negara, Kabupaten Sanggau, Gusti Arman, penegakan hukum harus diproses tegas.

“Warga Sanggau jangan terlibat dalam hal ini. Apapun perbuatan yang menimbulkan kerusakan, harus diproses,” katanya.

FKUB Jawa Tengah, Taslim Syahlan, menganggap kasus ini dilakukan oleh oknum berandal berkedok agama. Untuk itu, kasus ini jangan jadi pembiaran tanpa tindakan tegas.

“Mau Ahmadiyah, Syiah, siapapun dia, agama apapun harus dilindungi tanpa diskriminasi. Mereka bukan umat beragama yang baik. Mereka perusuh. berkedok agama. Harus tegas, jangan sampai tidak tegas,” ucapnya. (wati)

Komentar
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: