banner 468x60

Perda Toleransi Dibahas, Sri Wartati : Jaga Kehidupan Bermasyarakat Tanpa Konflik

  • Bagikan
Rapat bersama Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Pontianak, Senin (6/9/2021). Ist
Rapat bersama Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Pontianak, Senin (6/9/2021). Ist

PONTIANAK, insidepontianak.com – Toleransi adalah kata sakti dalam mengurai sekat-sekat perbedaan yang ada. Konflik yang kerap terjadi, seperti Ahmadiyah harusnya tidak berakhir kepada tindakan pembakaran sehingga melukai kondisi mental negara.

Ini menjadi salah satu penyebab Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) Pontianak bersama sejumlah pihak menggagas Peraturan Daerah tentang Penyelengaraan Toleransi Dalam Kehidupan Bermasyarakat.

Keseriusan ini pun dibawa dalam rapat bersama bersama Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Pontianak, Senin (6/9/2021).

Ketua Pengurus Yayasan SAKA, Sri Wartati, mengatakan poin penting dalam rapat adalah pentingnya toleransi dalam masyarakat.

Kata dia, Perda Toleransi tersebut bersifat luas. Tak spesifik dalam hal ke agama, tapi tentang umum dan etnisitas.

“Toleransinya lebih ke umum. Toleransi tidak hanya agama, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Perda ini toleransi lebih ke kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, Kota Pontianak memiliki potensi dalam kehidupan bertoleransi. Meskipun tidak masuk dalam jajaran kota bertoleransi, yang masih diduduki Kota Singkawang nomor dua se-Indonesia, tapi setidaknya Kota Pontianak berbenah menuju itu.

“Toleransi di Kota Pontianak saya pikir potensi untuk tumbuh dan berkembang itu ada. Kalau saya melihat, potensinya ada. Bisa dilihat kebajikan lokal atau budaya lokal kita sendiri itu. Nah, dari seluruh etnis di Pontianak ini yang menggambarkan Indonesia,” ujarnya.

Seluruh etnis ada di Kota Pontianak. Tak sulit, kata Sri bagi Kota Pontianak untuk mewujudkan kota toleransi.

Sementara Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kota Pontianak, Mujiono, menuturkan, dibuatnya Perda ini untuk kebaikan bersama dan masyarakat Pontianak.

Nantinya, aturan ini akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kerukunan. Tujuannya satu, torensi.

Meskipun demikian, Perda yang ada masih dalam proses pengkajian dan diskusi lebih lanjut, terutama beberapa item dari materi Perda itu.

“Masih terus kita diskusikan. Toleransi ini kan memang sangat sensitif sekali. Jadi, kita diskusi secara detail supaya nanti produk Perda ini menjadi lebih baik. Kita tak ingin ada lagi ketersinggungan dan sebagainya,” pungkas legislator PAN itu. (Nia)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: