Selamatkan Area Gambut: Kalibandung dan Sungai Asam Jadi Bahan Gotong Royong Bersama

  • Bagikan
Petani Kalibandung Ahmad memperlihatkan lahan gambut yang ditanami jahe dan disiram air dari kolam buatan di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (25/7/2021). FOTO Jessica Wuysang [3/9 14.56] Siti: Seorang Staf Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) menyiram air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. FOTO/Dokumen YNKI
Petani Kalibandung Ahmad memperlihatkan lahan gambut yang ditanami jahe dan disiram air dari kolam buatan di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (25/7/2021). FOTO Jessica Wuysang [3/9 14.56] Siti: Seorang Staf Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) menyiram air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. FOTO/Dokumen YNKI

PONTIANAK, insidepontianak.com – Makin suramnya masa depan Gambut Kalbar, menjadi kekhawatiran tersendiri pemerintah dan penggiat lingkungan.

Berbagai pihak melakukan upaya bersama dalam menyelamatkan ekosistem gambut. Seperti di Desa Kalibandung dan Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

banner 336x280

Penyelamatan gambut perlu dilakukan karena ada bagian yang mengalami degradasi. Warga, pemerintah, lembaga terkait, dan NGO, saling bergotong royong, meski menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah.

“Masih ada yang membersihkan lahan dengan cara bakar, istilah kami itu namanya dipanduk. Karena cara Ini yang dinilai paling cepat dan tanpa memakan biaya,” ungkap Hayat (31), saat menceritakan tantangan menjaga areal gambut di Dusun Maju Bersama, Kampung Sangkar Dunia, Desa Kalibandung, belum lama ini.

Hayat merupakan petani yang memanfaatkan lahan bekas perkebunan kelapa sawit milik PT. Bina Lestari Khatulistiwa Sejahtera (BLKS). Bersama sejumlah petani lokal, ia mencoba peruntungan dengan menanam jahe di lahan itu.

Hayat dan petani lain berupaya untuk menerapkan praktik baik dalam bercocok tanam. Mereka sadar, lahan gambut yang mereka kelola saat ini rentan terbakar.

Terlebih masih ada sebagian masyarakat yang menerapkan pola membakar untuk membuka lahan. Cara ini mengancam area gambut yang ia kelola apabila aktivitas membakar lahan tidak mampu dikendalikan.

Komentar
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: