banner 468x60

Keanekaragaman Hayati Lanskap Kubu : Tak Lagi Damai dan Terancam Rusak! 

  • Bagikan
Seorang Staf Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) menyiram air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. FOTO/Dokumen YNKI
Seorang Staf Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) menyiram air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. FOTO/Dokumen YNKI

PONTIANAK, insidepontianak.com – Keanekaragaman hayati Lanskap Kubu, Kalimantan Barat memerlukan perhatian ekstra bagi segenap elemen terkait, seperti pemerintah, perusahaan dan masyarakat dalam rangka menjamin pembangunan yang keberlanjutan.

Faktanya, Lanskap Kubu tak lagi damai. Banyak ancaman mengintai keberadaan Keanekaragaman Hayati di Lanskap Kubu tersebut. Ancaman itu seperti kebakaran lahan, eksploitasi hutan, hingga pembalakan liar.

Jika dibiarkan, maka kerusakan akan semakin besar. Upaya dan komitmen dari berbagai pihak diperlukan, guna memastikan kelestarian flora dan fauna yang ada di sana.

Seperti penguatan dan pemulihan di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Desa ini merupakan bagian dari lanskap Kubu.

Lanskap yang meliputi total luasan sebesar 732.266 hektar ini memiliki variasi ekosistem yang unik daerah tropis. Termasuk dengan adanya mangrove dan gambut yang sangat luas. Masuk juga ekosistem sungai dan laut didalamnya.

Desa Kalibandung, ditetapkan berdasarkan Surat Ketetapan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 4.769 Tahun 2018 dengan luas total lebih dari 7.000 hektare. Terdiri atas 3.000 hektare hutan lindung dan 4.000 hektar hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK).

“Dalam rangka menjaga keanekaragaman hayati di wilayah hutan desa ini, tentunya yang diwaspadai dulu adalah api. Sebagai penyebab kebakaran lahan,” kata Ketua LPHD Kalibandung, Usman, soal keberadaan Hutan Desa Kalibandung yang terancam kebakaran lahan.

Usman menuturkan, salah satu langkah antisipasi yang dilakukan dalam mencegah kebakaran lahan dengan menyiagakan kolam-kolam yang berfungsi untuk menampung air. Selain itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

LPHD Kalibandung juga membentuk sejumlah kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS). Terdiri dari masyarakat petani setempat ini, menanam berbagai komoditas, seperti jahe, jagung, nanas dan kopi.

Langkah ini diambil sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus bertujuan menghentikan ketergantungan warga terhadap eksploitasi hutan.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: