Cukai Rokok Naik, Petani Tembakau dan Pekerja Tertindas

  • Bagikan
Ilustrasi Rokok
Pedagang menunjukkan bungkus rokok bercukai di Jakarta, Kamis (10/12/2020). (Antara/ Foto/ Aprillio Akbar/Suara.com)

JAKARTA, insidepontianak.com – Pemerintah berenana menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT). Kebijakan itu pun dinilai akan membuat petani tembakau dan pekerja sigaret kretek tangan (SKT) makin terjepit.

Dosen Departemen Sosiologi FISIP UGM, AB Widyanta menyarankan, rencana kenaikan cukai rokok tahun depan perlu ditunda.

banner 336x280

“Rencana kenaikan cukai rokok 2022 harus dihentikan terlebih dahulu. Karena pandemi sudah banyak mem-PHK orang. Pemerintah perlu punya sense of crisis karena ini mempengaruhi kehidupan banyak orang,” ucap Widyanta, dilansir dari Suara.com, Selasa (14/9/2021).

Ia pun meminta, pemerintah harus melek mata secara kritis, bahwa tembakau merupakan komoditas yang menghidupi banyak keluarga di Indonesia untuk mempertahankan hidup.

“Kalau pun memang negara ini mau menaikkan cukai, maka, negara harus bertanggungjawab atas kesejahteraan petani tembakau dan petani cengkih,” pesannya.

Dia berharap negara tidak seenaknya membuat kebijakan, di saat negara memperoleh kontribusi cukai hampir Rp200 triliun tiap tahunnya.

Dengan kontribusi itu, seharusnya pemerintah tidak bisa seenaknya sendiri. Diapun menilai, selama ini pemerintah tidak pernah bersungguh-sungguh melakukan proteksi dan pemberdayaan petani tembakau, petani cengkih, dan buruh industri rokok

Selain tidak pernah memberdayakan petani tembakau dan cengkih, lanjut dia, pemerintah juga abai terhadap masalah tata niaga tembakau dan cengkih yang memberatkan petani.

“Ada alasan dari pemerintah untuk menaikkan CHT, salah satunya penerimaan negara, dan negara hanya mau itu. Tapi bagaimana perlindungan petani tembakau, cengkih, dan buruh? Kalau cukai mau dinaikkan, harus dihitung soal ini. Petani selalu jadi yang tertindas,” sebutnya.

Ekonom Muda UGM, Sulthan Farras menambahkan, apabila cukai rokok dinaikkan, ada sektor yang akan terganggu, khususnya sektor padat karya sigaret kretek tangan (SKT).

“Berbagai studi membuktikan saat terjadi penurunan produksi IHT, ada PHK yang menimbulkan kemiskinan. (Pekerja) SKT utamanya adalah ibu-ibu untuk melinting,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan cukai rokok pasti akan berdampak mulai dari produsen, konsumen, dan petani dan pekerja tembakau. Karena itu, ia menekankan, pentingnya perlindungan segmen SKT dari segmen lainnya yang bersifat padat modal.

Komentar
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: