Daud ‘Cino’ Yordan: Anak Ketapang Mengukir Prestasi Tinju Kelas Dunia

  • Bagikan
Daud Yordan saat bertanding di salah satu kerjuaraan. Ist
Daud Yordan saat bertanding di salah satu kerjuaraan. Ist

Pekik gempita dan dukungan lantang terdengar. Pria itu berdiri di tengah ring arena tinju. Ia tertunduk.Kaki kananya ditekuk. Kedua tangan yang dibalut sarung tinju merah, terjuntai di lantai. Tak lama, ia berdiri lagi. Perawakan pria itu tegap. Ekspresinya kaku. Wajahnya penuh lebam biru. Ada luka di pelipis mata kiri. Tampak warna merah menyembul di antara luka lebam.

Daud Yordan,” sorak-sorai terus memanggil.

Tetiba, sudut bibir pria di atas ring tersenyum. Mulutnya terangkat, menujukkan sebaris gigi rapi. Tak menghiraukan luka dan bengkak lebam, ia mengangkat kedua tangan. Tampak gembira.

Official berhamburan menyerbu pria bernama Daud Yordan itu. Mengangkat Daud ke udara. Tahun itu, adalah gelaran Sea Games, Thaliand. Tahun 2004, pertama kali Yordan tampil di ajang internasional.

Ia tak menang. Hanya medali perak yang diraih. Meski tak membawa emas, Daud Yordan puas. Kiprahnya diakui. Babak belur pun terobati.

Sejak saat itu, nama Daud Jordan terus berkibar. Berbagai juara ia rengkuh. Ia jadi kebanggaan Kalbar. Catatan moncer di berbagai kejuaraan menasbihkan Daud Yordan sebagai petinju Indonesia, paling berprestasi di ajang tinju dunia.

Kenal Tinju dari Kecil

Daud Yordan, petinju asal Kayong Utara kelahiran Ketapang meraih banyak prestasi hingga tinju kelas dunia. Ist
Daud Yordan, petinju asal Kayong Utara kelahiran Ketapang meraih banyak prestasi hingga tinju kelas dunia. Ist

Namanya Daud Yordan. Ia lahir di Desa Simpang 2, Kecamatan Simpang 2, Kabupaten Ketapang, 10 Juni 1987.

Tinju sudah menjadi kesukaan dalam keluarga besarnya. Abang Daud, seorang petinju. Damianus Yordan. Dari sang kakak ini, ia mengenal tinju.

Damianus menularkan hobi tinju kepada para adik, termasuk Daud. Sang kakak melihat Daud punya potensi. Tak heran, ia langsung memboyong si Kecil Daud hijrah ke pusat kota di Ketapang.

Waktu itu Daud baru berusia 8 tahun. Ia anak ke 5 dari 6 bersuadara. Baru duduk di bangku sekolah dasar. Merantau sendiri, tanpa kedua orang tua. Hermanus Lay Tjun dan Natalia awalnya enggan melepas Duad. Takut, kebutuhan harian dan belajar terganggu.

“Karena tak tinggal sama orangtua lagi, jadi mandiri,” kata Daud.

Berbekal restu dan kepercayaan orang tua, Daud kecil makin bersemangat. Ia giat belajar sambil berlatih. Mimpinya jelas, menjadi petinju kelas dunia.

Kerja keras, berlatih tekun selalu ditanamkan sang kakak. Jika ingin sukses, tahapan sejak dini harus dijalankan. Termasuk jauh dari orang tua, berdikari tanpa mengeluh.

“Anak –anak zaman sekarang seusia itu masih banyak menyusu, tapi saya sudah pindah. Pisah sama orangtua untuk mengejar cita-cita,” ungkap Daud.

Matang di usia dini dan tau apa yang dimau, Daud mulai menemukan jati diri. Dengan latihan keras dibimbing sang kakak, fisik dan mental terbentuk.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: