Kurikulum Industri Hanya Mencetak Generasi Buruh

  • Bagikan
Sri Pujiani, S.Pd
Sri Pujiani, S.Pd

Presiden telah meminta kampus mengajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri. Bukan kurikulum dosen. Agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata, kata Jokowi dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia yang ditayangkan YouTube Universitas Gadjah Mada, Selasa (27/7/2021).

Menurut Joko Widodo, banyak pengetahuan dan keterampilan yang menjadi tidak relevan lagi dan menjadi usang karena disrupsi. Disrupsi adalah perubahan cara atau pola kehidupan manusia dalam menyelesaikan masalah serta menggantikan sistem yang lama dengan sistem yang belum ada presedennya.

Berbicara era disrupsi tidak akan lepas dari kata revolusi industry 4.0. Revolusi keempat ini adalah perubahan di bidang industri akibat pesatnya perkembangan teknologi, seperti artificial intelligence, robotik, virtual reality, internet of things, dan lain-lain, sebagaimana dilansir dari ibtimes.id.

Kurikulum industri di jenjang perguruan tinggi ini, seragam dengan program Link and Match di SMK. Dengan kurikulum ini tampak Pendidikan yang ada diatur untuk mencetak generasi buruh bagi investor. Menjadi ancaman jangka panjang bagi bangsa. Karena kehilangan SDM pakar ilmu yang menjadi sumber lahirnya inovasi maslahat bagi rakyat.

Kurikulum seperti ini tidak sesuai dengan pasal 31 ayat 3 UUD 1945 berbunyi “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghozali menulis, “Jika tujuanmu ilmu hanya untuk bersaing atau membanggakan diri, mengalahkan kawan-kawanmu, mencari perhatian manusia dan mengumpulkan harta dunia, maka kamu sedang berusaha merobohkan agamamu, menghancurkan dirimu dan menjual akhiratmu dangan dunia.”

Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) membuat semua sistem negara termasuk pendidikan ditentukan menurut hawa nafsu investor.

Wajar jika kurikulum yang ada malah berhasil membentuk kepribadian hedeonis dan materialis. Seharusnya semua sistem kenegaraan dirancang untuk membentuk insan yang beriman dan bertakwa.

Karena iman dan takwa, akan membimbing seseorang untuk selalu mendekatkan diri kepada pencipta dan semakin berakhlak mulia. Rasulullah bersabda, “Bertakwalah engkau kepada Allah di manapun/kapanpun/ dalam keadaan bagaimanapun.” (HR At-Tirmidzi). Allah SWT menegaskan dalam QS: Ibrahim: 27 bahwa, ” Dia membiarkan sesat orang yang dzalim dan egois dan abai akan aturan Allah.”

Sejatinya, pendidikan harus membuat generasi penerus yang memimpin peradaban gemilang. Sistem pendidikan Nasional harus mampu melahirkan penemu dan ahli di bidangnya yang berguna bagi dunia.

Intelektual yang inovatif tidak lahir dari sistem sekuler. Seperti halnya Al Biruni, (bapak geologi diusia 17 tahun, Ibnu Sina (Bapak Kedokteran), Ibnu Haytam (Penemu Lensa kamera) serta banyak lagi cendekiawan muslim lain yang banyak menyumbangkan pengetahuannya pada peradaban emas Islam.

Untuk mewujudkan sistem pendidikan tersebut tentu tak bisa disandarkan pada sistem demokrasi saat ini. Sistem demokrasi adalah sistem sekuler yang pasti bertolak belakang dengan Islam. Sehingga, perlu diganti dengan aturan Islam secara sempurna.

Jika sistem nya telah benar maka arah pendidikan pasti untuk menambah pemahaman Islam agar tercipta insan yang beriman, bertakwa serta berakhlak mulia. Indonesia bisa melampaui Baghdad dijaman dulu yang merupakan pusat rujukan pengetahuan dunia.

Dalam pikiran Khalifah Abbasiyah ketujuh, Al-Ma’mun (813-833), masyarakat ideal masa depan hanya bisa diwujudkan melalui ilmu pengetahuan dan rasionalisme.

Untuk mencapainya, berbagai bidang pengetahuan yang ada di seluruh kejayaan harus dikumpulkan di satu lokasi terpusat.

Ia yakin jika para cendekiawan terbaik dari dunia Islam dapat dikumpulkan untuk saling belajar satu sama lain, akan terbukalah ‘kemungkinan yang tak terbatas’.

Baitul Hikmah ini terletak di Bagdad, yang dianggap sebagai pusat intelektual dan keilmuan pada masa Zaman Kegemilangan Islam (The Golden Age of Islam).

Karena sejak awal berdirinya kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya para ilmuwan menyebut bahwa Bagdad sebagai profesor masyarakat Islam. (Viva.co.id)

Jika sistemnya telah benar tidak akan ada lagi SDM yang tidak mampu berdaya saing walau dalam era disrupsi seperti Sekarang ini.

Penulis: Sri Pujiani, S.Pd

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: