banner 468x60 banner 468x60

Era Baru Kebangkitan Ekspor di Pulau Borneo

  • Bagikan
Pelabuhan Internasional Kijing
Kedatangan KM Golden Fortune di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat ( Kalbar) Jumat (27/08/2020) siang. (Ist)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kedatangan KM Golden Fortune di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Jumat (27/08/2020) siang, jadi momentum sekaligus era baru kebangkitan ekonomi di Pulau Borneo ini.

Kapal pengangkut dengan berbendera Marshall Is untuk pertama kalinya datang dengan misi mengangkut 5.000 MT Crude Palm Oil (CPO) milik PT Wawasan Kebun Nusantara (WKN ).

Kapal ini berlayar dari Pelabuhan Kijing dengan rute langsung ke India. Hadirnya pelabuhan bertaraf Internasional di Kalbar, pengiriman logistik dari komoditi CPO sudah tidak lagi transit ke pelabuhan lain, seperti Belawan, Medan atau Tanjung Periuk, Jakarta.

“Baru pertama ini kapal bobot besar bersandar ke Pelabuhan Kijing. Inilah ekspor perdana kita. Kapal ini akan membawa CPO dari Kijing ke India, tanpa harus transit,” kata Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Syaefudin kepada Insidepontianak.com.

Beroperasinya aktivitas ekonomi di Pelabuhan Internasional Kijing, diyakini tidak hanya rute pelayaran bisa singkat, tetapi juga mampu menekan biaya logistik nasional. Disinilah era baru ekonomi Kalbar dimulai.

Pulau Borneo dengan luas satu setengah kali Pulau Jawa, selama ini memang dikenal surganya komoditi bernilai ekspor dengan volume besar. Tidak hanya perkebunan, tetapi juga pertanian, tambang hingga mineral ada di pulau ini. Hanya saja, jalur tol laut di Kalbar seperti pelabuhan belum terintegrasi dengan maksimal.

Kalbar sebenarnya memiliki 10 pelabuhan yang melayani rute pengangkutan logistik dari hulu hingga pesisir Kalbar. Adapun sebaran dari pelabuhan itu, di antaranya di Kabupaten Sambas, Kubu Raya, Mempawah, dan Kayong Utara. Sementara pelabuhan induk di Kota Pontianak.

Hanya saja, untuk pelabuhan induk, lokasinya dianggap sebagian kalangan sudah strategis untuk melayani aktivitas ekonomi di Kalbar. Untuk Pelabuhan Pontianak, lokasinya di jantung Kota Pontianak, Kalbar.

Dalam perjalanan, pelabuhan ini punya keterbatasan kapasitas peti kemas. Pelabuhan ini hanya memiliki kedalaman kurang lebih enam meter saja dan itu berada di alur Sungai Kapuas.

Karena berada di alur sungai, kapal penumpang dan kargo kerap kandas, aktivitas pelabuhan bahkan sempat lumpuh. Beberapa insiden kapal kandas di Muara Sungai Kapuas. Yang paling diingat dari masyarakat Kalbar, insiden kapal pengangkut semen KLM Rahmatia yang kandas di muara Sungai Kapuas, Senin,14 Februari 2011.

Akibat kejadian ini, hampir sebulan, seluruh daerah di Kalbar mengalami inflasi. Sejumlah kapal tertahan dan tak dapat masuk ke pelabuhan. Itu baru permasalahan alur sungai menuju pelabuhan.

Permasalahan lain, adalah kawasan peti kemas yang sempit. Data IPC Cabang Pontianak, pada 2018, penanganan peti kemas 300.000 Teus.

Adapun kunjungan kapal atau vessel call pada 2018, sebanyak 528 domestik dan 59 internasional. Tapi, adanya kapasitas penanganan peti kemas yang naik dari tahun ke tahun, dengan rata-rata 5,4 persen, menjadi alasan kebutuhan perluasan pelayanan.

“Harapan itu ada pada kehadiran Pelabuhan Internasional Kijing, “kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya.

Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah. Atau, sekitar 71 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Pembangunannya dimulai pada April 2018, dengan nilai proyek Rp14 triliun dan bagian dari proyek strategi nasional.

Pelabuhan dengan spesifikasi panjang dermaga 5 kilometer, dan kedalaman pelabuhan sekitar 15 meter, menjadi pembangunan pelabuhan terbesar se-Kalimantan.

Di kawasan ini, setidaknya tersedia 1,95 peti kemas mampu terlayani. Bahkan, untuk kapasitas terminal cair mencapai Rp12,1 juta ton per tahun, dan kapasitas curah kering 15 juta ton per tahun. Sementara untuk kapasitas terminal multipurpose, sebesar 1 juta ton per tahun. Adanya fasilitas ini, Kijing digadang-gadang menjadi pintu gerbangnya ekonomi dan pelabuhan terbesar se-Kalimantan.

“Hadinya pelabuhan skala internasional ini, membuka kesempatan pihak swasta berpartisipasi menunjang kemajuan daerah, dengan aktivitas ekonominya,” kata Acui menambahkan.

Ia mencontohkan, untuk komoditi perkebunan misalnya. Kalbar, dengan luas satu setengah kali Pulau Jawa, memiliki konsesi perkebunan sawit terluas se Indonesia dengan 2 juta lahan konsesi dengan penghasil CPO 4 juta ton per tahun.

Sayang, potensi ini belum maksimal dirasakan Pemerintah Daerah. Terutama berkaitan dengan pendapatan daerah dari sektor pajak ekspor. Pelabuhan Pontianak bukan pelabuhan internasional. IPC Pontianak hanya melayani rute untuk domestik.

Sebab, untuk ekspor CPO ke luar negeri, seperti Tiongkok dan India, kapal pengangkut logistik harus transit terlebih dahulu. Artinya, sebelum sampai ke negara tujuan.

CPO Kalbar mesti transit dan melakukan bongkar muat kapal, seperti Pelabuhan Internasional di Belawan, Medan dan Tanjung Periok, Jakarta. Selama itu pula, ada lost state pendapatan daerah dari pajak ekspor untuk kas daerah.

“Padahal Kalbar bila ada pelabuhan bertaraf internasional, potensi pajak dari aktivitas ekspor dari sawit saja bisa satu triliun masuk ke kas daerah. Dana itu jika dipakai untuk pembangunan, besar sekali pengaruhnya,” kata Dewan Penasehat Kamar Dagang Industri (Kadin) Kalbar, Mohammad Rifa’at.

Data Dinas Perkebunan dan Peternakan 2021, pajak ekspor CPO memberikan pemasukan bagi Kalbar Rp1,2 triliun. Pendapatan itu meliputi, nilai bea keluar Rp225 miliar dan pungutan ekspor Rp945 miliar.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Muhammad Munsif, Jumat (17/9/2021), kenaikan ekspor CPO Kalbar tidak terlepas keberadaan Pelabuhan Internasional Kijing. Pada Januari – Agustus 2021, realisasi ekspor CPO sudah mencapai 490.083 ton.
Puncaknya 14 Agustus lalu, 10 komoditi ekspor yang dilepas dalam rangkain meredeka ekspor. Itu terdiri dari tiga sektor. Yaitu Hortikultural, Perkebunan dan Peternakan.

Untuk sektor Hortikultural terdiri dari tanaman hias sebanyak 1000 batang dengan negara tujuan USA dan Hongkong, Pasta Durian sebanyak 26,500 kilogram, dengan negara tujuan China.

Sementara, untuk sektor perkebunan yakni kelapa bulat 1.132 kilogram, dan 52 ribu kilogram kelapa parut kering tujuan Pakistan dan Italia. Selanjutnya, Palm Kernel Expeller sebanyak 2.2 juta kilogram tujuan Vietnam, Santan Kelapa sebanyak 53 ribu kilogram tujuan China.

Tak hanya itu, adapula biji pinang sebanyak 108 ribu kilogram tujuan Thailand dan Pakistan, RBD palm oil tujuan ekspor ke China, karet ke China dan India sebanyak 504 ribu kilogram.

Jumlah ekspor itu membuat realisasi penerimaan bea keluar (ekspor) per 14 September 2021 melebihi target, sebesar 582.514.771.000 atau 319,25 persen dari target penerimaan yang hanya berjumlah 182.462.678.000.

Kini, Pemerintah Daerah terus mendorong perusahaan pemanfaatkan pelabuhan terbesar di Kalimantan tersebut. Terlebih saat ini, harga komoditas sawit tengah menunjukkan tren positif, baik itu tandan buah segar (TBS), CPO, maupun Palm Kernel Oil (PKO).

“Ekspor sawit langsung dari Port Kijing sudah dalam bentuk olahan CPO/PKO menjadi 10 jenis produksi turunannya yang siap menjadi bahan baku industri pangan, kosmetik, dan lain sebagainya,” kata Munsif.

Dari aktivitas ekpor inilah, Kalbar berhasil menempati posisi IV se- Indonesia dengan volume ekspor perkebunam dan pertanian terbanyak. Muaranya, ada pada pelayanan di Pelabuhan Internasional Kijing.

“Pelabuhan inilah nantinya menjadi salah satu dari tujuh hub utama di Indonesia,” kata Humas IPC Cabang Pontianak, Hendra menambahkan.

Hendra mengatakan, hub utama yang dimaksud, adanya kebijakan merger empat BUMN Pelabuhan yaitu PT Pelindo I-IV segera direalisasikan pada 1 Oktober 2021.
Di sini, PT Pelindo II bertindak sebagai surviving entity atau perusahaan penerima penggabungan. Adapun nama perusahaan hasil penggabungan menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

Tujuan kebijakan merger ini, bagaimana Indonesia, sebagai negara kepulauan dan aktivitas pelabuhannya bisa terintegrasi, dari Timur- Barat hingga antar benua dan bagaimana menjalankan bisnis logistik secara modern.

Setidaknya, kebijakan merger ini, menjawab permasalahan dari Pelindo, di mana biaya logistik nasional dianggap tinggi bila dibandingkan dengan negara lain yakni, sekitar 23 persen dari total Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.

Dibandingkan dengan negara tetangga, termasuk negara-negara ASEAN, biaya logistik Indonesia terhadap PDB sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari Vietnam (15%), Thailand (13,2%), Malaysia (13%), dan Singapura (8,1%).

Hadirnya kebijakan integrasi merger di tubuh Pelindo, tak lain agar terbentuknya ekosistem logistik nasional, serta penyeragaman standarisasi pelayanan. Karena, Indonesia, sebagai negara yang terpisah dengan banyak pulau. Keseragaman dan konektivitas pelayanan sangat dibutuhkan.

“Kita berharap ada peningkatan dari volume ekspor-impor dan trafik pelabuhan. Nantinya bisa merangsang pertumbuhan ekonomi baru di daerah,” kata Hendra.

Motivasi Petani

Kepala Bidang Pangan, Distan TPH Kalbar Dony Saiful Bahri, kemudahan akses ekspor dengan dukungan pelabuhan yang terintegrasi, membawa angin segar bagi pelaku usaha, terutama di sektor pertanian.

“Paling tidak, kita mau ekspor komoditi ke luar negeri, tidak perlu transit. Cost pengiriman bisa ditekan,” kata Dony.

Cost yang tadinya biasa melalui pelabuhan di Pontianak harus menempuh pelayaran dan terlebih dahulu bertambat Dumai, sebelum melanjutkan berlayar ke luar negeri.

Dengan adanya pelabuhan internasional ini, Kalbar sangat diuntungkan. Selain sektor dari pajak, sektor lapangan kerja. Hadirnya pelabuhan, akan membuka jaringan ekonomi baru bagi pelaku usaha di daerah, dengan memanfaatkan akses pelabuhan untuk tujuan ekspor.

“Terutama bagi para petani muda, bagaimana memasarkan hasil pertanian dengan market luar negeri,”kata Dony Saiful Bahri, Jumat, (18/9/2021).

Saat ini, Dinas Pertanian Kalbar mendorong dan memfasilitasi petani bagaimana mereka bisa meningkatkan produksi pertanian, mulai dari budidaya, pengolahan, panen, pascapanen, hingga pemasaran. Sejauh ini, ada beberapa hasil pertanian sudah diekspor.

Sebagian besar, CPO diambil dari Kabupaten Sanggau, Ketapang, dan Sintang. Durian Pasta diambil dari petani Bengkayang Sanggau dan Kubu Raya yang hingga kini masih di Ekspor.

“Pasarnya,Ada India, China, Hongkong, bahkan Eropa,” tambahnya.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji Melepas Ekspor
Gubernur Kalbar, Sutarmidji melepas ekspor komuditas kelapa di Pelabuhan Dwi Kora Potianak, Selasa (14/9/2021) (Ist)

Gubernur Kalbar, Sutarmidji, angka ekspor hasil pertanian di Kalbar terus meningkat. Bahkan sudah melampaui target ekspor Kalbar 2021, yang dipatok senilai Rp3,9 triliun.

“Sampai Juli 2021 jumlah (ekspor) kita sudah capai Rp4,8 triliun. Perkiraan saya sampai akhir tahun bisa Rp6 triliun. Artinya pertumbuhan ekonomi bagus,” kata Sutarmidji.

Bahkan, saat ini buah durian juga telah di ekspor ke berbagai negara, seperti Hongkong dan China.

“Orang selama ini tak tau,” kata dia.

Bupati Mempawah, Erlina optimistis hadirnya Pelabuhan Internasional Kijing akan memberi dampak besar bagi ekonomi Kabupaten Mempawah. Khusunya masyarakat sekitar Kecamatan Kijing, Kabupaten Mempawah.

“Dengan pelabuhan ini setidak-tidaknya secara tidak langsung perekonomian di Kecamatan Sungai Kunyit akan bertambah,” kata Erlina.

Beroperasinya Pelabuhan Internasional Kijing, diyakini mampu menekan biaya logistik nasional yang selama ini mengganjal dan mampu menyumbang PAD dari berbagai potensi yang ada di Kalbar.

Erlina juga berharap, IPC (PT Pelindo II) memprioritaskan sumber daya manusiayang ada di Kabupaten Mempawah untuk bekerja di Pelabuhan Internasional Kijing. Pemkab Mempawah pun siap menyiapkan SDM agar dapat bekerja di Pelabuhan Kijing.

Gubernur Sutarmidji
Gubernur Kalbar Sutarmidji, melepas sejumlah produk pertanian dan perkebunan Kalbar saat Merdeka Ekspor, (14/9/2021) siang. (Adpim Prov Kalbar)

Dampak Positif

Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Ermin Elviani menyambut baik kehadiran Pelabuhan Internasional Kijing. Dia optimis kehadiran pelabuhan kijing membawa dampak positif perekonomian masyarakat.

“Kita harap masyarakat juga dapat membaca peluang usaha dan ekonomi ini agar demi kebaikan dan peningkatan ekonomi masyarakat pula,” kata Ermin Elviani.

Di sisi lain, Kalbar memiliki berbagai potensi komoditi. Salah satunya, perkebunan sawit terluas se Indonesia. Namun, hasil perkebunan itu selama ini belum maksimal dirasakan oleh Pemerintah Daerah, terutama berkaitan dengan pendapatan daerah dari sektor pajak ekspor.

“Kita berharap dengan kehadiran pelabuhan kijing dapat meningkatkan perekonomian Kalbar,” pungkasnya. (Andi Ridwansyah)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: