banner 468x60 banner 468x60

Sepenggal Kisah dari Gubuk Tua di Tanah Harapan: Jalan Terjal Sunarto, Hantar Tiga Anaknya Sukses Jadi Sarjana

  • Bagikan
Sunarto menunjukan tiga foto wisuda anaknya. Ist
Sunarto menunjukan tiga foto wisuda anaknya. Ist

Mata pria tua itu nanar. Memandang lurus kerumunan di depannya. Tampak merah. Rahang bawah bergetar samar. Bibir tua itu mengatup rapat.

Sesekali menghela nafas. Tak lama, tubuh ringkihnya bergetar hebat mendengar sebuah nama akrab dari pengeras suara di atas kepalanya. Air mata tak terbendung. Jatuh di pipi yang mulai keriput itu.

Ia dipapah. Duduk sosok wanita disebalahnya. Membisikan kata-kata lembut, menenangkan. Tatapan bangga tertuju ke depan. Pria tua itu lagi menangis.

Ia adalah Sunarto dan istrinya, Eka Sumaryanti. Datang, dari desa jauh di ujung Kalbar.

Hari itu, mereka hadir di wisada anak ketiganya. Dari lima anak, tiga lulusan sarjana di salah satu universitas bergengsi di Kota Pontianak.

Mereka berasal dari Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang. Nama asing di telinga. Terletak di ujung perbatasan.

Tak jauh dari pos lintas batas dua negara Indenesia-Malaysia. Butuh tiga jam untuk sampai ke lokasi desa, jika berangkat dari pusat kota Bengkayang.

Sosoknya bersahaja. Sederhana. Apa adanya. Tak terlalu menuntut dalam hidup. Pekerja keras. Ini terlihat dari garis-garis di wajah tuanya. Tampak lelah. Tapi masih energik.

Sunarto warga transmigrasi yang sudah hijrah ke Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupate Bengkayang. Ist
Sunarto warga transmigrasi yang sudah hijrah ke Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupate Bengkayang. Ist
Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: