banner 468x60 banner 468x60

Harus Tau! Ini 5 Kuliner Kalbar yang Jadi Warisan Budaya

  • Bagikan
Pengkang. net

PONTIANAK, insidepontianak.com – Halo sobat Inside, siapa sih disini yang tidak mengenal Kalimantan Barat? Ya, provinsi yang satu ini tentunya sangat mudah dikenali, apalagi ibu kotanya yang dijuluki sebagai kota khatulistiwa.

Tapi tahukah kamu bahwa di Kalimantan Barat ini ada lho kuliner yang ditetapkan sebagai warisan budaya. Kuliner tersebut masuk dalam kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat. Penasaran? Yuk simak informasi berikut ini.

1. Pengkang

Pengkang. net

Nama Pengkang ini tak asing didengar. Perlu sobat inside ketahui bahwa Pengkang ini merupakan makanan tradisional yang sudah dicatatkan dalam warisan budaya di Kalimantan Barat.

Pengkang adalah olahan makanan yang berbahan baku ketan bersantan dengan isi utama udang ebi, dan berbagai rempah. Dikemas menggunakan daun pisang berbentuk segitiga dan dimasak dengan cara dipanggang atau dibakar dengan sistem jepitan atau ikatan tali.

Usaha pengkang dimulai pada tahun 1934 oleh Datuk Ismail dan Toa Ramis. Kekuatan citarasa pengkang ini telah dibuktikan dengan keberlangsungan usaha makanan ini yang mampu bertahan selama empat generasi.

Pengkang ini sendiri berasal dari desa Peniti, Kecamatan Jungkat, Kabupten Mempawah, Kalimantan Barat.

2. Putu Tattak

Kue Putu. net
Kue Putu. net

Selanjutnya ada kuliner dari Sambas, tepatnya di Kecamatan Jawai yaitu Putu Tattak. Putu tattak adalah sejenis kue yang dikenal oleh masyarakat Melayu Sambas yang bermukim di Kabupaten Sambas, khususnya Kecamatan Jawai.

Putu tattak disebab lantara proses pembuatannya adalah dengan cara memotong bagian kue putu itu. Memotong dalam istilah bahasa Sambas adalah tattak. Inilah yang menjadi sebab nama kue ini disebut putu tattak.

Kue putu ini sejenis kue kering yang terdapat di Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas disajikan sebagai salah satu kue pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada masa dahulu dan hingga saat ini masyarakat Sambas sangat bergembira menyambut kedua hari raya ini. Sebagai wujud kegembiraan itu mereka menyiapkan aneka jenis kue-kue untuk disantap tamu yang hadir pada saat lebaran itu. Salah satunya adalah kue putu tattak itu.

Kue putu tattak itu terbuat dari tepung beras dan gula halus. Untuk membuat kue putu tattak, terlebih dahulu beras direndam dan agar tekstur berasnya lebih lembut dan mudah untuk ditumbuk.

Setelah ditumbuk beras itu lalu diayak dan menjadi tepung. Tepung beras itu kemudian dicampur dengan gula halus dan diaduk secara merata.

Campuran tepung beras dan gula itu ditekan-tekan dan didiamkan sebentar agar rasa manis yang berasal dari gula halus itu menyerap ke dalam tepung. Beberapa saat kemudian, proses mencetak kue dilakukan.

Cetakan yang dipergunakan adalah cetakan yang terbuat dari kayu. Dalam proses mencetaknya tidak sulit, hanya dengan menaburkan adonan ke dalam cetakan kayu itu secara merata dan tidak terlalu tebal agar putu tattak ini tidak keras.

Setelah adonan rata di dalam cetakan, lalu dipotong-potong dengan pisau kemudian dilanjutkan dengan proses pengukusan. Dalam mengukus kue putu ini harus benar-benar matang. Setelah matang kukusan kue putu itu diangkat dan dibiarkan dingin di dalam cetakan.

Setelah dingin kue putu itu dikeluarkan dari cetakan dan dijemur di panas matahari sampai benar-benar kering dan renyah. Dalam proses penjemuran ini jika kurang kering maka putu itu tidak tahan lama.

Apabila hasil jemuran kue putu tattak itu sudah kering lalu kue putu itu ditata di dalam toples dan siap untuk dihidangkan di hari raya ataupun untuk cemilan sehari-hari. Putu Tattak ini sudah dicatatkan dalam warisan budaya di Kalimantan Barat tepatnya tahun 2019.

3. Sungkui

Sungkui. net
Sungkui. net

Sungkui merupakan salah satu makanan khas Sanggau. Makanan yang menyerupai Lontong bentuknya mirip dengan Lepat Pisang biasanya hanya didapat saat lebaran idulfitri maupun idul adha menjadi tradisi tahunan.

Dinamai Sungkui karena dibuat dari nasi beras yang dibalut dengan daun sungkui menyerupai lepat pisang.Dimasak sekitar 6 jam sampai 8 jam sehingga menjadi seperti lontong memanjang dan tipis.

Warnanya yanghijau dan aroma yang khas dimakan dengan ayam opor,daging rendang dan nanas masak sambal (paeri nenas) biasanya juga dilengkapi dengan kua sop.

Makanan Sungkui juga sama dengan makanan Brunei hanya namanya yang berbeda disebut dengan Ngirik,hanya perbedaan adalah nasi dari pulut, menggunakan daun Sungkui, tanaman yang menyerupai daun kunyit.

Namun, sedikit keras warnanya hijau tua,daunya juga lebar dapat digunakan membukus nasi sebagai penganti kertas.

Namanya nasi Tungkus yang mempunyai aroma khas harum nasinya.Daun didapat dipasaran dijual pedangan musiman. kuliner yang satu ini juga sudah dicatatkan dalam Warisan Budaya di Kalimantan Barat.

4. Tape Menaon

Tape Menaon. net
Tape Menaon. net

Tape menaon adalah kuliner tradisional yang terbuat dari ketan hitam. Makanan ini merupakan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga menjadi makanan yang sering kali disajikan pada saat Hari Raya Idul Fitri. Disiapkan untuk para tamu yang datang.

Dalam proses pengolahannya, ketan hitam yang telah dicuci bersih, ditiriskan dan dikukus hingga matang akan mengalami proses fermentasi.

Ketan kukus itu ditempatkan di dalam wadah ceper (berukuran lebar) dan dibiarkan beberapa saat hingga dingin.

Setelah itu, ketan kukus tadi akan dicampur dengan ragi, gula merah dan gula putih. Setelah diaduk dan tercampur rata, ketan dimasukkan ke dalam yang tidak terbuat dari plastik.

Dahulu wadah yang digunakan untuk memfermentasi ketan terbuat dari tanah liat, yang disebut dengan pasu. Wadah ini ditutup rapat dengan kain untuk mencegah agar uap yang dihasilkan tidak keluar. Proses fermentasi berlangsung sekitar 1×24 jam.

Proses selanjutnya adalah memasak tape ketan dengan gula kelapa dengan menggunakan kuali. Selama proses memasak, adonan ketan harus selalu diaduk sehingga tidak lengket ke permukaan kuali dan gosong.

Kuliner yang satu ini berasal dari Desa Tanjung, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, dan sudah dicatatkan menjadi warisan budaya di tahun 2018.

5. Kerupuk Basah

Kerupok Basah net
Kerupok Basah net

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan danau, seperti masyarakat Suhaid di Kapuas Hulu, temet atau kerupuk basah merupakan alternatif makanan olahan dari ikan hasil tangkapan sehari-hari.

Selain diolah menjadi temet, ikan hasil tangkapan masyarakat diolah menjadi ikan asin, ikan asap/ikan salai, serta kerupuk kering. Ikan asin dan ikan asap dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk olahan ikan berupa kerupuk basah (temet) dan kerupuk kering.

Temet biasanya dikonsumsi sebagai kudapan yang penyajiannya tidak mengenal waktu khusus. Temet relatif mudah ditemukan karena cukup banyak yang menjualnya, baik di warung ataupun dijajakan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Harga jual temet tergantung pada jenis ikan yang digunakan sebagai bahan utama pembuatannya. Semakin baik kualitas daging ikan yang digunakan serta semakin banyak daging ikan yang digunakan, maka harga jualnya pun semakin tinggi (mahal).Ikan yang sudah dibersihkan akan diambil dagingnya.

Daging ikan tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan tepung kanji atau tepung sagu. Sebagai penambah rasa diberi bawang putih dan garam. Dengan tambahan air, semua bahan diaduk hingga tercampur rata dan menjadi kenyal.

Setelah itu adonan dibagi dalam beberapa bagian, masing-masing dibentuk menjadi silender atau bulat memanjang. Adonan yang telah dicetak tersebut kemudian direbus ke dalam air mendidih dan dimasak hingga terapung di atas permukaan air yang menandakan bahwa sudah matang dan siap untuk dikonsumsi.

Saat disajikan, temet diiris tipis-tipis supaya mudah untuk disantap. Temet dihidangkan bersama dengan sambal khusus yang terbuat dari kacang tanah goreng yang telah dihaluskan dicampur dengan cabe, gula, garam dan air hangat.

Sambal itu dimasak di atas api hingga mengental. Kuliner tradisional yang satu ini berasal dari Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, dan statusnya sekarang sudah dicatatkan menjadi warisan budaya.

Gimana, menarik bukan? Sebagai informasi tambahan sobat inside juga bisa mendaftarkan kuliner tradisional yang khas menjadi warisan budaya di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat. Dan informasi yang kami bagikan tersebut juga secara resmi kami dapatkan dari BNPB. (Nia)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: