banner 468x60 banner 468x60

Kota Pontianak Belajar Cara Merawat Toleransi ala Kota Salatiga

  • Bagikan
Merawat toleransi. net
Merawat toleransi. net

PONTIANAK, insidepontianakcom – Kota Pontianak memiliki perbedaan kultural dan beragam, Perbedaan tersebut harus dikelola dengan cara-cara yang tepat atas kerjasama pemerintah dan masyarakat Kota Pontianak.

Dalam kegiatan studi banding virtual antara pemerintah kota Pontianak dengan Kota Salatiga, belum lama in, tergambar bagaimana cara merawat keberagaman.

Sejumlah pemangku kebijakan, seperti Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI) dan kepala kantor Perwakilan Kementerian Agama kota Salatiga membagikan pengalaman kerja yang sudah dilakukan, dalam berkontribusi membangun kota lebih toleran.

“Kita pastinya belajar bagaimana merawat toleransi. Kota Pontianak bisa menjadikan contoh Kota Salatiga yang sukses dengan program toleransinya,” kata Ketua FKUB Kota Pontianak, Abdul Abdul.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Agama Salatiga. Taufiq Rahman, mengungkapkan, Kota Salatiga adalah kota kecil yang beragam. Dengan multikultural yang cukup kental.

“Ciri horizontal adalah adanya keberagaman suku, agama, dan tradisi, sedangkan ciri veritkal adalah adanya perbedaan ekonomi dan pandangan politik, sehingga memberikan ciri khusus di Kota Salatiga,” ujar,

Disebutnya, Kota Salatiga memiliki rumah moderasi, yaitu rumah bersama yang menjadi tempat berkumpul dan penyelesaian jika terjadi sebuah konflik antaragama.

Kota Salatiga juga masih kental dengan unsur kebudayaan disebut memerlukan peran agama dalam memberikan keseimbangan namun tidak bertubrukan dengan nilai-nilai budaya.

Tak hanya perdamaian, di Salatiga, agama juga diupayakan dalam peningkatan ekonomi dan melaksanakan penyuluhan agama dengan konteks budaya lokal.

“Sebelum melakukan penyuluhan, biasanya penyuluh harus mengenali kulutur budaya lokal. Setelah itu, baru memberikan penyuluhan sesuai dengan kebudayaan popular di suatu tempat, seperti penggunaan pakaian ataupun yang lainnya,” tambah Taufiq.

Tak hanya bertugas merawat toleransi, pemerintah kota Salatiga juga berusaha untuk bisa menyelesaikan permasalahan terkait hal tersebut.

“Jika terjadi permasalah isu SARA yang berkenaan dengan agama, maka kami akan berkoordinasi dengan FKUB. Jika isu suku maka kami akan berkoordinasi dengan Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia,” ucap Taufiq.

Untuk melancarkan rancangan tersebut, FKUB Salatiga punya program untuk menciptakan kerukunan dimulai dari kecamatan, aktif dalam kegiatan di ruang lingkup provinsi Jawa Tengah dan ikut serta dalam kegiatan akhir tahun untuk kegiatan-kegiatan lintas iman.

“FKUB juga aktif melakukan sosialisasi kebhinnekaan dan lintas iman di masyarakat. Bahkan kegiatan upacara bhakti sosial, kesehatan, dan tampil bersama-sama Forum Persatuan Bangsa Indonesia,” tambah Noor Rofiq.

Tidak hanya mengurusi kerukunan agama, sejalan dengan itu, FPBI juga membagikan peran mereka dalam melakukan mediasi antara kelompok yang berbeda dalam bidang etnis.

Pendekatan budaya dan kultural dalam membuka ruang-ruang perjumpaan kelompok yang berbeda pun kerap dilakukan seperti Temu Akrab etnis yang dilakukan setiap dua tahun sekali.

Pemerintah juga sangat antusias dalam mewujudkan 3W, Wasis, Waras, dan Warep. Yang artinya adalah semakin tinggi pendidikannya maka akan semakin toleran, semakin tinggi kesejaterhaannya maka menjadikan masyarakatnya menjaga kesejahteraannya. (Silvia)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: