banner 468x60 banner 468x60

Gandeng Perusahaan, JARI dan Pemkab Kubu Raya akan Kelola Koridor Bekantan di Lanskap Kubu

  • Bagikan
FGD RAPKB
Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Koridor Bekantan (RAPKB) di Hotel Gardenia Kubu Raya, Senin (27/9/2021). (Ist)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Lembaga JARI Indonesia Borneo Barat, bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menggagas Rencana Aksi Pengelolaan Koridor Bekantan (RAPKB) di lanskap Kubu yang melibatkan perusahaan. Rencana aksi ini sebagai upaya menjaga, melindungi, serta mengelola habitat dan populasi bekantan di sekitar lanskap kubu.

Direktur JARI Indonesia Borneo Barat, Firdaus menjelaskan, lanskap Kubu memiliki luas 732 ribu hektare lebih, yang di dalamnya memiliki variasi ekosistem unik, seperti mangrove dan gambut yang sangat luas.

Lanskap Kubu didominasi keberadaan berbagai manajemen unit, baik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) maupun perkebunan. Padahal, berdasarkan survei WWF Indonesia 2018 lalu, terdapat 54 titik perjumpaan dalam koridor Bekantan.

“Hal ini membuat konservasi species bekantan sangat tergantung pada pengelolaan manajemen unit tersebut,” kata Firdaus dalam kegiatan FGD RAPKB di Hotel Gardenia Kubu Raya, Senin (27/9/2021).

Menurutnya, ancaman kepunahan species bekantan semakin tinggi karena sebagian besar hidup di luar kawasan konservasi dan kondisinya terancam oleh konversi hutan, kebakaran, perburuan, perdagangan dan pembangunan.

Para pemegang izin konsesi yang memiliki komitmen dalam upaya perlindungan Bekantan sendiri memiliki hambatan dan tantangan tentang manajemen konservasi species tersebut.

Berangkat dari hal itu, maka, kata Firdaus dibutuhkan panduan tentang Praktek Pengelolaan Terbaik (PPT) untuk membantu pemegang konsesi dalam pembuatan rancangan manajemen konservasi yang sesuai dengan kebutuhan Bekantan.

Hal ini pun termaktub dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2013 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Bekantan tahun 2013-2022.

Aturan itu, merumuskan sejumlah kegiatan prioritas pengelola kawasan dalam meningkatkan usaha konservasi bekantan, yang dapat menjamin keberlanjutan populasinya.

Oleh karena itu, kaloborasi multipihak dalam pengelolaan habitat Bekantan sangat diperlukan dengan membentuk Koridor Bekantan di sepanjang sempadan sungai di Lanskap Kubu.

“Koridor ini tidak hanya untuk melindungi bekantan. Namun juga hutan mangrove sebagai tempat hidup satwa tersebut,” ujarnya.

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengatakan, rencana pengelolaan koridor bekantan ini menjadi bagian dari Kepung Bakul, dalam pengelolaan Sumber Daya Alam di Kubu Raya.

“Ini menjadi bagian Kepung Bakul dalam pegelolaan koridor Bekantan, sebagai bagian untuk manajemen konservasi yang lebih terukur dan lebih ditajamkan,” kata Muda.

Bila mengacu pada peraturan yang berlaku, menurut Muda hal ini bisa mendorong prinsip keberlanjutan Bekantan dan habitatnya.

Utamanya, dalam meminimalisir ancaman terhadap spesies tersebut. Perburuan, misalnya. Bukan hanya itu, Muda juga menekankan terhadap pemantauan keberadaan Bekantan, serta perkembangbiakannya.

Hal ini patut menjadi perhatian, apalagi kata Muda Bekantan menjadi satu di antara potensi Kubu Raya dalam sektor ekowisata. Bekantan punya nilai penelitian, mascot Kubu Raya.

“Jadi, ada indikator ancamannya. Misalnya perburan masih menjadi tantangan. Jangan sampai pemburu masuk ke dalam kawasan koridor tersebut,” ucapnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: