banner 468x60 banner 468x60

Menkes ke Kalbar, Pengamat: Jangan Hanya Tinjau Vaksinasi, Tapi Selesikan Persoalan Distribusi Tak Proporsional

  • Bagikan
Syarif Usmulyadi
Pengamat politik Universitas Tanjungpura, Syarif Usmulyadi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pengamat Kebijakan Publik Universitas Tanjungpura Pontianak, Syarif Usmulyadi berharap kedatangan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin hari ini, Selasa (28/9/2021) ke Kalimantan Barat tak sekedar meninjau vaksinasi. Namun, menyelesaikan persoalan distribusi vaksin yang selama ini berjalan tak proporsional. Sebab, telah merugikan provinsi di luar Jawa-Bali.

“Kita berharap tak sekedar meninjau tinjau saja. Tapi menyelesaikan persoalan alokasi vaksin yang tak proporsional di berbagai daerah,” pesan Usmulyadi kepada insidepontianak.com, Selasa (28/9/2021).

Dia menilai, pendistribusian vaksin seharusnya dilakukan merata dengan mengacu pada jumlah penduduk di suatu wilayah. Hal ini sesuai anjuran organisasi kesehatan dunia atau WHO.

Namun, kenyataannya tak berjalan proporsional. Alhasil, sejumlah daerah seperti Jakarta berhasil mencapai 100 persen lebih cangkupan vaksinasi, sementara Kalbar baru 16,90 persen.

Celakanya, distribusi yang tak merata ini, malah dinilai Menteri Kesehatan, daerah dianggap tak mengikuti intruksi pusat karena tak berhasil menyukseskan percepatan vaksinasi. Padahal, persoalan utamanya terletak pada ketersediaan vaksin yang disuplai pusat sedikit.

Usmulyadi mendesak, Menkes memberi solusi terhadap persoalan ini dengan memastikan ketersediaan vaksin mencukupi kebutuhan masyarakat. Terlebih, antusias masyarakat mengikuti vaksinasi tinggi. Namun, tak didukung dengan alokasi vaksin yang memadai.

Di sisi lain, dia juga menyoroti kebijakan PCR yang diberlakukan di Kalbar. Menurutnya, kebijakan ini perlu ditinjau ulang. Sebab, tak semua daerah memberlakukan.

Kebijakan ini telah memberatkan ekonomi masyarakat. Mobilitas masyarakat yang menggunakan transportasi udara jadi terhambat dan lamban.

Usmulyadi meminta Gubenur Sutarmidji juga menjelaskan alasan penuruan harga PCR dari yang sebelumnya Rp1 juta menjadi Rp500 ribu.

“Apakah ini disubsidi pemerintah atau seperti apa? harus ada penjelasan,” pungkasnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: