banner 468x60 banner 468x60

Pertama Kalinya Pemkab Kubu Raya Buka ToT Kelas Bahasa Isyarat

  • Bagikan
Pelatihan kelas Training of Trainer (ToT) Bahasa Isayarat Kabupaten Kubu Raya (BISI-Ku). (Istimewa)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk pertama kalinya membuka pelatihan kelas Training of Trainer (ToT) Bahasa Isayarat Kabupaten Kubu Raya (BISI-Ku) bagi Dinas dan instansi pemerintah yang ada di daerah ini.

“Dengan dibukanya kelas perdana ToT Bisi-Ku diharapkan mampu memberikan pelayanan berbasis kesamaan hak dan kesetaraan di kabupaten Kubu Raya dan sebagai sarana bagi komunitas tuli dengan keluarga dan masyarakat,” kata Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan usai membuka kelas ToT Bisi-Ku di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa, Jum’at (1/10/2021).

Muda bersyukur dan mengapresiasi Kepala SMA Taruna Bumi Khatulistiwa langsung merespon dan bersedia dua kelas di sekolah itu digunakan untuk kelas ToT.

“Dari 30 peserta ToT ini akan dibagi dua kelas, sehingga setiap kelasnya ada 15 peserta yang akan mengikuti 12 pertemuan untuk level satu kemudian naik menjadi level dua untuk 12 pertemuan berikutnya,” ujar bupati.

Bupati menyampaikan, pertemuan ini dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat. Pelatihan ini sifatnya ToT, sehingga nanti peserta ini diharapkan sudah bisa memenuhi standar karena sudah ada sertifikatnya dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pubisindo) yang ada di Jakarta.

“Dalam pelatihan, Pubisindo juga menegaskan teman-temannya yang ada di Kubu Raya, baik dari komunitas tuli Kalbar maupun komunitas peduli inklusi dan kesetaraan. Yang mana mereka diberikan kuasa dan kepercayaan untuk memberikan kelas ini,” katanya.

Bupati Muda menuturkan, pemerintah Kubu Raya membuka kelas ini dengan sponaitas, karena kita berfikir bagaimana kita juga harus bisa melayani tanpa pengecualian, artinya, negara harus hadir.

“Coba kita bayangkan, kalau itu keluarga kita atau siapapun dia yang tidak bisa menyampaikan bahkan tidak bisa diterima di sekolah, baik itu SD, SMP dan SMA, apalagi mereka yang mau kuliah tapi tidak bisa. Tentunya hal itu merupakan peluang untuk bisa diberdayakan dan juga bisa kita perjuangkan,” paparnya.

Bupati menuturkan, peserta kelas ToT ini juga dari dinas-dinas, baik Dinas Pendidikan diantara guru SD, SMP, PAUD dan TK masing-masing mereka ada keterwakilan.

“Bahkan ada dari Dinas Kesehatan, di setiap puskesmas nantinya ada tenaga kesehatan yang bisa bahasa isyarat, karena tidak menuntut kemungkinan anak-anak kita banyak yang mengalami dan memiliki keterbatasan mendengar dan berbicara sehingga sulit dilayani,”tutur bupati.

Menurut Bupati, hal ini juga harus dipikirkan selama ini, seperti di Disdukcapil, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak karena sudah ada kasus yang menjadi korban kekerasan yang ternyata memiliki keterbatasan seperti ini.

“Tentunya kondisi ini menjadi ancaman dan kerentanan terhadap hal-hal seperti itu, apalagi kekerasan seksual. Saya kira negara harus hadir dengan prinsip SDGs. Artinya salah satunya dengan inklusi dan kesetaraan itu tidak ada yang ditinggalkan,” ungkap bupati.

Bupati menilai, dibukanya kelas ToT ini merupakan keterpanggilan pemerintah Kubu Raya untuk mewujudkan inklusi dan kesetaraan.

“Mudah-mudahan ini berjalan lancar yang nanti hasilnya dapat memperluas, yang pada akhirnya di Kubu Raya juga bisa hadir sekolah yang bisa menerima anak SD dan SMP. Tentu harapan kita juga akan memprogramkan beasiswa dan sebagainya,” tutup bupati. (Jek)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: