banner 468x60

Tolak PTM, Forum Guru Somasi Pemerintah

  • Bagikan
Suasana pembelajaran tatap muka di SMPN 1 Pontianak. Ist
Suasana pembelajaran tatap muka di SMPN 1 Pontianak. Ist

JAKARTA, insidepontianak.com – Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) menolak Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Alasannya, FAGI menilai PTM riskan menciptakan klaster penyebaran Covid-19 baru di sekolah. Penolakan itu pun berujung somasi kepada pemerintah.

Ketua FAGI Iwan Hermawan menyampaikan, tiga alasan para guru tetap menolak PTM. Pertama, pemerintah dan kepala daerah tidak mejalankan rekomendasi WHO dalam melakukan PTM. Itu dilihat dari sikap pemerintah pusat dan kepala daerah hanya berpatokan kepada Inmendagri saja.

“Yang namanya PTM itu hanya berdasarkan persyaratan administrasi, jadi mereka hanya melihat Inmedagri, mereka lupa ada regulasi lain, persyaratan lain yang terlupakan, rekomendasi WHO tidak diperhatikan,” ucap Iwan dalam dikusi online Ngopi Seksi, dilansir dari Suara.com, Minggu (3/10/2021).

“Saya lihat informasi kepala daerah ini tidak jujur, tidak berani potensi covid di kabupaten tautau udah PTM, jadi kalau tidak percaya dengan dokter sama siapa,” tambahnya.

Ia melanjutkan, alasan kedua yaitu vaksin di sektor pendidikan belum merata. Padahal, ungkap Iwan, Ikatan Dokter Anak merekomendasi siswa harus divaksin minimal 70 persen dari jumlah siswa yang diperbolehkan melakukan PTM.

“Tapi kenyataannya, bahkan ada yang tidak konsisten Menteri kita, kan dalam SKB 4 menteri mengatakan seluruh guru harus divaksin sebelum mengajar, tapi tidak melihat inmendagri vaksin tidak disyaratkan PTM, pada akhirnya sekolah-sekolah yang belum 70 persen tetap dilakukan pembelajaran tatap muka, saya kira ada pelanggaran yang dilakukan mereka,” katanya.

Terakhir ketiga, FAGI menilai masih banyak sekolah yang belum menerapkan protokol kesehatan dengan benar. Akibatnya, banyak anak sekolah yang terpapar saat ikuti PTM.

“Sekarang yang terjadi ribuan sekolah kan, terbukti SD yang paling banyak terpapar, kenapa karena anak SD belom divaksin, hampir 40 persen yang terpapar anak SD,” kata dia.

Karaena itu, Iwan mengancam mengajukan somasi kedua kepada pemerintah, jika memang PTM masih terus dilanjutkan.

“Minggu depan kita akan buat somasi kedua, karena kita tiga kali somasi, kalau tiga kali tidak dindahkan kita lanjut ke proses hukum, saat ini belum ada jawaban dari mereka terhadap kami,” pungkas Iwan.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: