banner 468x60 banner 468x60

Cico Simamora, Dosen Muda Untan yang Pernah Tolak Beasiswa ke Australia

  • Bagikan
Cico Simamora, Dosen Muda Untan yang Pernah Tolak Beasiswa ke Ausitralia
Cico Simamora, Dosen Muda Untan yang Pernah Tolak Beasiswa ke Ausitralia. Ist

Beberapa hari lalu, saya terlibat peliputan mahasiswa Fakultas Pertanian, universitas Tanjungpura (Untan). Mereka berhasil meneliti obat diet dan diabetes dari potensi lokal Kalimantan Barat.

Tak hanya itu, mahasiswa ini juga membuat masker antimikroba dengan bahan tenun. Alhasil, penemuan ini sontak membuat prestasi dan apresiasi tak sedikit. Bangga pasti mereka rasakan.

Tapi, tahukah kamu? Siapa sosok yang berhasil mendampingi anak-anak muda tersebut?

Ini dia sosoknya. Cico Jhon Karunia Simamora. Dosen muda kelahiran 3 Maret 1990 adalah salah satu dosen di Universitas Tanjungpura.

“Pak Cico” itulah sapaan akrab yang diberikan para mahasiswa dan rekan dosennya. Ia mengajar di Fakultas Pertanian.

Cico merupakan lulusan S2 Institut Pertanian Bogor (IPB). Salah satu kampus terbaik di Indonesia. Tak banyak orang lolos masuk ke situ, namun Cico berhasil tembus dengan beasiswa penuh.

Dikenal ramah. Jarang marah, sopan dalam berbicara, tetapi tegas saat mengajar. Saya ingat saat terlibat dalam liputan penelitian, dosen ini memberikan sejumlah instruksi jelas. Tak ribet dan mudah dipahami.

Sosoknya cukup berkharisma. Dengan penampilan bersih, rahang tegas, sisi terpelajar terlihat dari keseharian Cico. Tampak sederhana.

Dari berberapa unggahan di media soslanya pun pria ini banyak tampil bersahaja. Tak berlebihan. Gaya khas anak mudanya masih terlihat, meskipun kerap berpenampilan formal. Layaknya pengajar universitas.

Tak Ingin Jadi Dosen

Cico Simamora saat lulus IPB. Ist
Cico Simamora saat lulus di IPB. Ist

Sejak tahun 2015, ia mulai mengajar di Fakultas Pertanian. Untan. Usianya baru 24 tahun saat itu. Sangat muda. Tapi, siapa sangka pria yang baru kini berusia 31 tahun ini dulunya tak pernah berfikir jadi seorang dosen.

Menurutnya, jadi tenaga pengajar melelahkan. Ia bercerita sembari mengenang masa mudanya yang selalu memperhatikan sosok ibunya. Yap ibunya adalah seorang guru.

“Saya tidak suka jadi dosen. Dosen itu guru. Mama itu guru. Liat mama capek pas pulang ke rumah, saya kasihan. Gaji gak seberapa, itulah pikiran saya dulu,” ucapnya.

Selain karena melihat ibunya, rasa gengsi mudanya besar. Sejak sekolah dasar hingga SMA, Cico menimba ilmu di sekolah swasta. Targetnya, jadi dokter. Tak mau yang lain. Sayang, semesta tak begitu berpihak.

Ia tak lulus dalam seleksi tes pendidikan dokter. Akhirnya, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura jadi pilihan Cico.

“Tuhan itu punya rencana yang berbeda. Jadi apa yang tidak kita sukai mungkin menurut Tuhan itulah yang terbaik,” katanya.

Seiring berjalannya waktu Cico bisa menerima apa yang saat itu sudah ia pilih. Meski di awal kuliah, sering bolos. Kabur-kaburan, bahkan punya niat pindah jurusan.

“Jujur aja, dulu kuliah di Pertanian itu malu. Teman-teman gak ada mau Pertanian,” ujar dosen muda ini.

Siapa yang tahu akhir minat Cico. Awalnya meremehkan jurusan yang ia ambil, kini cinta dunia pertanian.

“Nah terus keluarga dulu latar belakang kehidupan itu petani. Dulu mikir gini ubi itu dilempar juga hidup, gak perlu sekolah pertanian. Eh ternyata itulah jalan kehidupan. Tak berharap jadi guru, malah jadi dosen,” ucapnya.

Mengajar Senior

Cico Simamora bersama tenaga pengajar. Ist
Cico Simamora bersama tenaga pengajar. Ist

Usai tuntas SI, Cico melanjutkan ke jenjang Magister Institute Pertanian Bogor (IPB) dengan beasiswa. Tahun 2015, ia lulus. Dengan nilai memuaskan. Bahkan, ia lulusan tercepat diangkatannya waktu itu.

Prestasi itu mengantarkan Cico dengan mudah diterima mengajar di Universitas Tanjungpura.

Ada banyak cerita menarik. Salah satunya, mengajar mahasiswa yang tak jauh beda soal usia dengan Cico. Maklum, usia Cico masih awal dua puluhan. Bahkan, ia mengajar seniornya saat ia masih di Fakultas Pertanian. Kakak kelas itu pernah membully dirinya. Ia ingat betul masa itu.

Ia bercerita sambil mengingat ketika ia pertama kali memasuki ruangan kelas malam untuk mengajar.

“Mereka manggil saya bapak. Mereka yang membully saya. Kok sekarang saya jadi dosennya,” ucapnya dengan nada tawa mengingat kejadian beberapa tahun silam.

Ia dikenal dosen idealis. Ia tak menampik jika di cap dosen egois. Tak hanya membagikan tentang pengalamannya saat mengajar seniornya, Cico juga menceritakan bagaimana saat pertama kali menjadi dosen.

“Dulu itu saya antara mau ngajar dengan enggak ya itu penuh pertimbangan. Itu masa sulit setiap hari. Tapi lama kelamaan itu menjadi biasa sudah bisa penyesuaian,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Cico belajar bagaimana menjadi sosok dosen yang bisa dekat dengan mahasiswa. Ia banyak belajar dari pengalaman.

Ia sadar, menjadi dekat dengan mahasiswa dapat memudahkan mereka untuk mengikuti kegiatan di luar perkuliahan. Ia pun berubah. Awalnya jadi dosen cuek tapi kini jadi dosen kebanggaan fakultas.

“Saya tidak mau itu melekat dalam image saya. Selalu berusaha tidak ada batasan dengan mahasiswa, tapi bukan berarti bisa seenaknya juga,” ungkapnya.

Munculkan Mahasiswa Berbakat

Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan lakukan pelatihan kepada masyarakat terkait hasil penelitian PKM-RE di Aula Equator, Desa Jeruju Besar yang dibimbing Cico Simamora. Ist
Mahasiswa Fakultas Pertanian Untan lakukan pelatihan kepada masyarakat terkait hasil penelitian PKM-RE di Aula Equator, Desa Jeruju Besar yang dibimbing Cico Simamora. Ist

Bidang keahlianya mengajar Mikrobiologi dan Bioteknologi. Bagaimana pemanfaatan mikroba asli Kalimantan Barat, untuk menghasilkan produk-produk. Penelitian lebih banyak mengarah untuk produk pangan dan kesehatan.

Menurut Cico momen paling berharga saat ia menjadi dosen ialah mahasiswanya berhasil menerapkan apa yang ia ajarkan. Seperti Program Kreativitas Mahasiswa.

Terbaru, para mahasiswanya meneliti Pekasam Ikan sebagai obat anti diare. Daun Nipah yang dikembangkan sebagai obat obesitas dalam bentuk permen. Buah Kakao yang dibuat tempe cokelat untuk obat diabetes.

Alhasil, ia banyak memunculkan bakat-bakat alami para mahasiswa. Bahkan, tak sedikit yang menghasilkan penemuan terbaru. Penemuan yang tak hanya membantu kehidupan tapi juga masyarakat setempat.

Ia juga kerap mendorong para mahasiswa yang ia ajar untuk ikut berbagai lomba penemuan dan penelitian.
Bukan soal lombanya. Tapi keberanian anak didiknya tampil dengan ide, kreatifitas temuan prodok lokal. Itu poin penting.

Tolak Beasiswa S3 di Luar Negeri

Cico pernah menolak beasiswa ke Australia. Ia pikir, karirnya sudah di Kota Pontianak. Tapi, ia menyesal. Penyeselan terbesar dan merasa berdosa. Belum tentu kesempaan datang dua kali.

“Saya lulus S3 beasiswa di Australi, tapi saya mikir capek sekolah terus. Saya S1 dan S2 itu sambung. Gak ada jeda,” ucapnya.

Ia masih ambisi untuk berkuliah lagi. Tapi, untuk saat ini ia masih menikmati mengajar.

“Ke depan, siapa yang tahu,” terangnya.

Traveling Sembari Mencari Ide

Cico Simamora. Ist
Cico Simamora saat berlibur dan menghabiskan waktu senggang. Ist

Cico, pria yang menarik. Ia menyukai traveling. Sejak lama jadi hobinya. Bukan perjalanan biasa, tapi mencari hal baru yang tidak pernah orang lain sadari.

Baginya, traveling tempat ia mencari ide yang berbeda dari orang lain. Penemuan baru.

Cico, menyukai perjalanan ke dalam hutan. Terbukti ia lebih suka berpergian ke daerah pedalaman, terpencil. Terutama, potensi lokal untuk penelitian. Contohnya daerah Putussibau.

“Saya suka kalau mencari hal-hal baru. Hal baru itu seperti ini, orang yang gak pernah mikir ke arah situ. Tapi saya suka,” terangnya.

Selain traveling, Cico juga hobi membaca. Ia menyukai buku dan novel fiksi yang berkaitan dengan ilmiah. Baginya, membaca sebagai salah satu jalan untuk membuka wawasan dan pengetahuan.

Ingin Hasilkan Teknologi Berguna untuk Masyarakat

Penyerahan Hasil Penelitian Masker Kain Tenun Antimikroba kepada Dekranasda Pontianak oleh Tim PKM-RE Fakultas Pertanian dengan bimbingan Cico Simamora. Ist
Penyerahan Hasil Penelitian Masker Kain Tenun Antimikroba kepada Dekranasda Pontianak oleh Tim PKM-RE Fakultas Pertanian dengan bimbingan Cico Simamora. Ist

Jauh di lubuk hati, Cico masih memiliki mimpi yang belum tercapai. Menghasikan teknologi berguna bagi masyarakat. Harga tak mahal. Terjangkau tanpa modal besar.

“Makanya, saya ingin menghasilkan sesuatu yang memudahkan. Syukur, bisa menambah pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Ia akui, banyak penelitian menarik dari anak negeri. Bahkan, Kalbar pun banyak.

“Kita itu bagus banget. Tulisan dan publikasi itu bagus, tapi untuk diterapkan dalam masyarakat ataupun industri itu sulit, mahal,” ucapnya.

Sosok Penyayang Keluarga

Cico Simamora bersama keluarga tercinta. Ist
Cico Simamora bersama keluarga tercinta. Ist

Keluarga Cico merupakan keluarga yang harmonis. Walaupun saat ini ia sudah kehilangan sosok sang Ayah. Cico adalah anak Pertama dari tiga bersaudara.

Ia merupakan anak laki-laki satu-satunya. Dua adiknya perempuan yang saat ini juga berkarir di Pontianak.

Cico di masa muda merupakan anak yang penurut, walaupun ia juga kerap di marah oleh orang tuanya. Iya, Cico juga tidak jauh berbeda dengan anak laki-laki pada umumnya yang senang bermain. Cico dikenal selalu mengutamakan keluarga.

Pria berdarah Batak ini selalu menyempatkan waktu bagi keluarga. Baginya, keluarga tidak boleh dilupakan. Ia pun kerap membuat jadwal harian. Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Cico menjadikan kedua orang tuanya sebagai panutan yang menginspirasi. Memotivasinya dalam menjalani hidup. Baginya, kedua orang tuanya mempunyai peran yang sangat besar dalam hidupnya.

Dari yang sebelumnya, ia tidak ingin menjadi seorang dosen hingga saat ini ia sudah berkarir dalam dunia pendidikan.

Mempunyai orang tua yang memiliki karakter berbeda membuat Cico terinspirasi. Baginya, sosok ibu yang punya semangat pantang menyerah. Sang ayah, sosok sederhana. Tinggi dalam berjuan dalam hidup.

”Kalau semangat dan pantang malu itu nurun dari Ibu. Kalau kecerdasan itu dari ayah,” akunya.

Pesan Cico Untuk Generasi Muda

Antusiasme masyarakat Desa Jeruju Besar saat pelatihan pembuatan produk dari pangan lokal oleh Fakultas Pertanian Untan. Silvia
Tampak mahasiswa Fakultas Pertanian, Untan melatih masyarakat Desa Jeruju Besar bagaimana pembuatan produk dari pangan lokal. Silvia

Selain membagikan kisah hidupnya, Cico juga memberikan pesan yang memotivasi bagi anak muda. Ia berpesan anak muda selalu jadi diri sendiri. Tak harus mencontoh keberhasilan orang lain.

“Jadilah yang berbeda dari mereka. Jangan jadi generasi copy paste,” katanya.

Generasi muda harus menyukai tantangan dan hal baru. Belajar lebih keras. Pantang Menyerah. Karena menjadi yang berbeda dan unik itu sulit. Cukup satu sumur tapi dalam. Jangan banyak sumur tapi dangkal.

Moto Hidupnya “Berbuatlah segala sesuatu itu sebaik mungkin. Seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia”.

Ia yakin dan percaya, ada campur tangan Tuhan di setiap hidup manusia. Manusia hanya bisa berencana. Sementara Tuhan punya hak penuh menentukan.

Cico sama dengan anak muda lainya. Ingin berbuat terbaik. Tak hanya dalam pekerjaan tapi juga untuk keluarga. Inginnya satu, mampu menghasilkan karya inspirasi, dikenang ketika ia sudah tak ada lagi di dunia. (Nia)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: