banner 468x60 banner 468x60

Air Minum Kemasan, Dokter Spesialis Kandungan: BPOM Sudah Nyatakan Aman

  • Bagikan
Ilustrasi Anak Sehat. (Shutterstock)
Ilustrasi Anak Sehat. (Shutterstock/suara.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dokter spesialis kandungan, M. Alamsyah Aziz, angkat bicara terkait kabar tentang kandungan Bisfenol A (BPA) dalam air minum dalam kemasan (AMDK), yang dikatakan pihak-pihak tertentu bisa membahayakan kesehatan janin dan anak balita.

Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) ini mengatakan, bahwa hal ini tak perlu dipermasalahkan, karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan aman.

Ia menyebut, kelainan bawaan yang terjadi pada anatomi janin itu memang bisa disebabkan karena adanya eksposur bahan-bahan yang berbahaya, termasuk BPA jika jumlah yang masuk ke dalam tubuh itu cukup tinggi, misalnya mencapai 250 miligram.

“Tapi kenyataannya, yang ditemukan pada ibu hamil dan janin sangat jauh di bawah rata-rata batas aman yang sudah ditetapkan BPOM, yaitu sebanyak 600 mikrogram per kilogram berat badan per hari. Jadi migrasi BPA yang terjadi pada galon guna ulang berada di bawah batas keamanan,” ujarnya, saat menjadi pembicara dalam acara diskusi media bertema “Standar Keamanan Kemasan Pangan dan Kesehatan Konsumen” yang digelar secara online, dikutip Suara.com, beberapa waktu lalu.

Dia minta para ibu hamil tidak khawatir menggunakan kemasan AMDK galon guna ulang, karena aman dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun pada janinnya. Berbicara tentang ibu hamil, kata dr. Alamsyah, yang perlu diperhatikan adalah asupan gizi, makronutrien dan mikronutrien yang baik selama kehamilan. Menurutnya, hal-hal itu akan berdampak terhadap suplai kebutuhan gizi yang baik untuk pertumbuhan janin.

“Jika kebutuhan gizi ibu tidak terpenuhi, ia akan melahirkan outcome yang sangat berpengaruh pada bayi, sehingga bayi menjadi kecil. Gizi ibu yang buruk juga menyebabkan janin akan kehilangan peluang untuk memperoleh pembentukan otak yang optimal,” katanya.

Alamsyah menegaskan, pengaruh dari air dalam kemasan galon guna ulang tidak ada sama sekali. Karena pada kenyataannya, dosis yang ditemukan dalam bayi dan janin sangat kecil, bahkan 1000 kali lebih rendah dari batas aman yang ditetapkan BPOM.

“Jadi safety limitnya jauh sekali. Masalah seperti komplikasi kanker, hipertensi, pendarahan yang terjadi pada ibu hamil, itu jauh lebih besar, dan masalah seperti gizi buruk dan stunting justru ada di depan mata kita,” ucap dr. Alamsyah.

Dia juga menjelaskan, tidak semua zat berbahaya bisa menembus plasenta, karena adanya sistem pertahanan dalam tubuh.

“Plasenta memiliki pertahanan untuk meniadakan terjadinya transmisi secara vertikal, baik yang sifatnya yang seperti BPA atau seperti virus,” tukasnya.

Selain aman untuk ibu hamil, penggunaan AMDK galon guna ulang ini juga aman dikonsumsi anak-anak balita seperti yang disampaikan dokter spesialis anak, Farabi El Fouz. Menurutnya, selama kemasan itu sudah dinyatakan aman oleh BPOM dan Kemenperin, maka aman untuk dikonsumsi.

“Selama itu sesuai dengan aturan BPOM, silakan (dikonsumsi). Tapi kalau misalnya tidak sesuai, ya jangan. Selama BPOM yang mengeluarkan arahan, kita ikuti. Kalau BPOM sudah mengatakan kemasan itu aman, itu sudah jaminan mutu pasti aman,” katanya.

Pada 2021, BPOM baru saja melakukan pengujian laboratorium terhadap sampling kemasan AMDK jenis polikarbonat (PC) atau galon guna ulang. Hasilnya, ada migrasi Bisfenol A (BPA) dari kemasan galon sebesar rata-rata 0,033 bpj.

Nilai ini jauh di bawah batas maksimal migrasi yang telah ditetapkan BPOM, yaitu 0,6 bpj. BPOM memastikan kepada masyarakat bahwa AMDK galon guna ulang yang beredar, hingga kini aman untuk dikonsumsi.

Selain itu, BPOM juga melakukan pengujian cemaran BPA dalam produk AMDK. Hasil uji laboratorium (dengan batas deteksi pengujian sebesar 0,01 bpj) menunjukkan cemaran BPA dalam AMDK tidak terdeteksi.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: