banner 468x60 banner 468x60

Gelaran Fesyen Hari Batik Nasional di Candi Prambanan Sukses Digelar

  • Bagikan
Fesyen show Gantari di Candi Prambanan (Dok. LAKON Indonesia) Kain-kain yang dipamerkan cenderung memiliki warna cerah seperti oranye, ungu, merah, hijau.
Fesyen show Gantari di Candi Prambanan (Dok. LAKON Indonesia) Kain-kain yang dipamerkan cenderung memiliki warna cerah seperti oranye, ungu, merah, hijau. suara.com

PONTIANAK, insidepontianak.com – Usai bergelut dengan pandemi, yang membuat segala aktivitas keramaian ditiadakan, kini geliat berbagai kegiatan mulai menguap. Salah satunya pagelaran busana di Candi Prambanan.

Diketahui situs bersejarah Indonesia itu bukan hanya dikenal sebagai lokasi wisata dan area keagaman, tetapi juga simbol kebudayaan yang agung.

Dan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, LAKON Indonesia bekerjasama dengan Kemenparekraf serta Jakarta Fashion and Food Festival (JF3), menggelar fesyen show bertajuk GANTARI, di komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah pada 9 Oktober 2021 lalu.

Pendiri LAKON Indonesia Thresia Mareta mengatakan, dipilihnya Candi Prambanan sebagai lokasi fesyen show adalah karena sejarah serta nilai budaya yang terkadung di area komplek candi agama Hindu terbesar di Indonesia tersebut.

“Candi Prambanan merupakan tempat yang punya nilai budaya tinggi dan sejarah. Saya bersyukur bisa berkolaborasi bersama maestro-maestro Indonesia di Candi Prambanan,” kata Thresia, dikutip Suara.com, beberapa waktu lalu.

Dalam pagelaran ini, LAKON Indonesia berkolaborasi dengan banyak pihak mulai dari pengrajin, artisan, seniman sekelas Didi Nini Towok, desainer Irsan, hingga Adi Purnomo sebagai arsitek.

Acara bertajuk GANTARI itu dilaksanakan secara hybrid dengan penonton terbatas dan protokol kesehatan yang sangat ketat, serta ditayangkan secara daring di kanal Instagram dan YouTube Lakon Indonesia.

Fesyen show dibuat bercerita dengan menggambarkan metamorfosa LAKON Indonesia, melakoni peranannya dalam menggali budaya dan tradisi serta mempertahankan prinsip dasar yang telah diwariskan secara turun temurun.

Fesyen show sendiri mempresentasikan 150 koleksi pakaian siap pakai yang diperagakan oleh 100 orang model, yang mengangkat kekayaan kain hasil karya tangan pengrajin tradisional berupa batik, jumputan, dan tenun lurik, dengan bahan serat natural yang cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Kain-kain yang dipamerkan cenderung memiliki warna cerah seperti oranye, ungu, merah, hijau. Tak hanya, Thresia juga mengatakan bagaimana potongan yang ditampilkan telah menyesuaikan dengan potongan modern.

“Kita menyesuaikan dengan tren fesyen saat ini tapi juga menyesuaikan demgan kainnya. Ini sebagai bentuk penghargaan pada kain agar tak merusak motif dan tak banyak sisa kain yang terbuang,” tambah Thresia.

Ia mengatakan, kain-kain yang digunakan merupakan hasil kerjasama antara LAKON Indonesia dengan para pengrajin di daerah Jawa yang saat ini telah menginjak tahun kedua.

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: