banner 468x60 banner 468x60

Rian Setiawan Kisah Sang ‘Dokter’ bagi Pecandu Narkoba dari Ujung Negeri

  • Bagikan
Rian Setiawan: Pendiri Yayasan Geratak. Ist
Rian Setiawan: Pendiri Yayasan Geratak. Ist

Rian Setiawan, pemuda 29 tahun asal Sepuk Tanjung, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas dianggap ‘dokter’ oleh sejumlah pecandu narkoba di Kalimantan Barat. Dia tak pernah menempuh pendidikan kedokteran. Apalagi, spesialis kejiwaan. Namun, setiap hari dia mengobati orang depresi. Berhadapan dengan orang yang putus asa dalam hidup.

Tak ada yang menyangka Rian bisa terlibat aktif dalam penanganan pasien gangguan narkoba. Banyak berjasa, banyak diapresiasi. Bahkan, tak sedikit yang memintanya jadi pembicara di forum publik.

Pengakuan ini tak ujuk-ujuk ia dapatkan. Berbagai hal sudah ia lalui.

Ia masih ingat hari itu. Kejadian beberapa tahun silam. Tampak berbekas. Tapi, justru jadi titik balik sosok Rian seperti sekarang ini.

Pecandu Narkoba Akut

Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggalah, menerangi jendela kaca di ruang tamu rumah Rian. Bapaknya, Jamhari, baru saja pulang dari kebun belakang rumah. Jarum panjang di jam dinding menunjukkan pukul 10.10 WIB. Dia menyeka peluh di dahi, melepaskan sepatu but, lalu meletakkan parang seleng di bawah meja kompor. Ketika Jamhari bersiap untuk mandi, tiba-tiba pekikan keras melantang dari kamar anak sulungnya.

Lagi-lagi, Rian mengamuk.

Terdengar suara barang-barang kaca pecah. Kamar pun berantakan. Suaranya terdengar sampai ke rumah tetangga. Rian mengobrak-abrik isi kamar. Entah apa yang dicari. Orang tuanya berusaha menenangkan.

Para tetangga menyangka dia menderita gangguan jiwa, sebab Rian seringkali mengamuk tanpa alasan yang jelas. Pernah satu ketika, saat meminta uang, Rian sampai mengancam ingin membakar rumah jika tidak dituruti. Jamhari sudah tidak tahan dengan perilaku anak lelakinya, dia lalu melapor ke polisi.

“Saya ditangkap dan dibawa ke Polres Sambas untuk di amankan, lantaran mengamuk dan mau membakar rumah,” cerita Rian.

Polisi heran, mulanya Rian disangka menderita gangguan jiwa. Tapi saat diperiksa, dia bicara lancar. Dia sadar kesalahannya, dia juga mengetahui perbuatan membakar rumah sendiri mengancam keselamatan keluarga, bahkan tetangga. Di hadapan polisi semuanya terungkap, Rian ternyata hidup dalam gelap, dia terjerumus di dunia hitam karena candu narkoba.

Terjerumus saat SMP, Hingga Jadi Mahasiswa Pengedar Sabu

Rian dan teman-temannya ketika masih menjadi pecandu narkoba. Hari-harinya dipenuhi aktivitas dunia malam. Ist
Rian dan teman-temannya ketika masih menjadi pecandu narkoba. Hari-harinya dipenuhi aktivitas dunia malam. Ist

Rian, pertama kali kenal narkoba dari ganja. Saat itu, Rian masih duduk di bangku SMP. Dia melihat teman-temannya melinting rokok berisi tembakau ganja. Penasaran, dia pun coba-coba. Berawal dari sekali dua kali tarik, sampai ketagihan. Dari ganja, bergeser ke sabu-sabu.

Bahkan saat SMA, Rian sudah mencoba inex dan pil ekstasi. Orang tuanya masih belum tahu perilaku Rian saat itu. Pemuda kurus ini memang dikenal anak nakal. Selalu buat onar. Saking tak mampu lagi, orangtua mengirim Rian sekolah di Pontianak. Harapannya, ia bisa berubah dan mandiri.

“Saya dipindahkan sekolah ke Pontianak, maksud hati orang tua ingin saya menjauhi lingkungan di kampung. Tapi apa yang ada, lingkungan di Pontianak lebih hancur lagi. Dulu saya nongkrong di Ambalat (Jalan Budi Karya Pontianak). Di sana, ada sabu, inex dan ekstasi. Itu dulu, tidak tahulah sekarang seperti apa,” katanya.

Selain pecandu, Rian dulunya juga pengedar sabu di wilayah Singkawang, Bengkayang dan Sambas (Singbebas). Sambas dikenal sebagai kawasan ujung negeri Kalbar. Kawasan rentan jual beli berbagai jenis barang. Tak terkecuali narkoba. Saat itu statusnya masih mahasiswa.

Dia kerap bolak-balik Sambas-Pontianak untuk mengambil barang haram di markas bandar besar di wilayah Pontianak Timur. Dalam sekali perjalanan, Rian membawa 100 gram sabu. Dia mengecer itu sepanjang jalan protokol, dari Pontianak ke Sambas.

Niat awal, jadi pengedar sabu bisa menghemat uang. Waktu itu, sebagian sabu bisa dijual untuk menutupi sebagian yang dia gunakan sendiri. Tapi ternyata, makin lama bisnis barang haram itu makin membuatnya tenggelam. Menjadi pengedar sabu tidak ubahnya seorang pebisnis jual beli. Harus ada modal dan kadang-kadang harus menanggung hutang pelanggan.

“Bagaimana cara saya menagih uang sabu, jadi saya waktu itu beli pistol jenis FN. Pelurunya ada 13. Saya bahkan tidak pernah menembak. Saya pakai itu untuk nagih uang sabu saja,” katanya.

Rian terpaksa putus kuliah. Padahal, tinggal satu semester lagi ia lulus sarjana diploma III. Orang tuanya memasukan Rian ke rumah rehabilitasi di Pontianak. Kini, siapa sangka Rian yang tak lulus kuliah bisa jadi ‘dokter’ bagi para pecandu.

Keinginan Rian satu, ingin menebus dosa-dosa masa lalu. Karena setiap gram sabu yang dia edarkan dulu, telah merusak masa depan generasi muda dan mengubur harapan para orang tua.

“Biarkanlah kisah hidup saya menjadi pelajaran bagi anak-anak muda sekarang, agar tidak terjerumus ke dunia hitam seperti saya dulu,” katanya

Mulai Jalani Rehabilitasi

Rian (baju biru) ketika menjalani rehabilitasi di RSJ Sungai Bangkong Pontianak. Dia kerap mendapat kunjungan dari keluarga. Termasuk almarhum ayahnya Jamhari yang sangat perhatian selama dia direhab./Dok Pribadi/insidepontianak.com
Rian (baju biru) ketika menjalani rehabilitasi di RSJ Sungai Bangkong Pontianak. Dia kerap mendapat kunjungan dari keluarga. Termasuk almarhum ayahnya Jamhari yang sangat perhatian selama dia direhab./Dok Pribadi/insidepontianak.com

Perjalanan Rian untuk pemulihan diri dimulai. Ia di rehab di RSJ Sungai Bangkong Pontianak. Disana pun ia kerap jadi sorotan. Sebab dia satu-satunya residen yang paling sulit dikendalikan.

Dua bulan awal, pikirannya kacau balau. Halusinasi dan cemas tidak jelas. Seketika marah, seketika itu juga diam. Perilaku Rian sangat menyulitkan konselor.

Sikap Rian saat di rehab sangat kontras dengan residen yang lain. Kebanyakan residen yang baru masuk bisa dikontrol dalam tempo dua pekan. Sedangkan dia, baru bisa tenang setelah dua bulan.

“Setiap hari saya mengamuk, saya selalu dimasukkan ke ruangan isolasi. Disiram air, diikat dengan tali dan banyak lagi. Itu semua terjadi selama dua bulan saat awal masuk rehabilitasi,” katanya.

Selama itu, dia selalu berkasus. Berkelahi dengan residen lain, bahkan dengan konselor. Dia ingat betul, pernah ingin menikam konselornya dengan garpu.

Saat rehabilitasi kata dia, ada sesi terapi emosional. Di mana, konselor bersikap menjengkelkan di hadapan residen, dengan maksud menguji kesabaran. Rian yang labil, ketika dipancing sedikit, langsung emosi.

Berjalan waktu, Rian mulai bisa ditenangkan. Mulai bisa berbaur. Bisa beradaptasi dan tak gampang marah. Pelan-pelan kesadaran Rian untuk jadi manfaat bagi orang sekitar tumbuh. Apalagi, selama di sana banyak pelajaran dan pengalaman ia rasakan. Tak hanya duka, suka pun tak terhitung.

Delapan bulan di rehab tak terasa. Rian belajar makna hidup. Belajar mendapat kesempatan kedua. Ia mulai sadar, bahwa hidupnya bisa lebih berarti. Kesadaran itu merembes di sanubari. Menguat dan mencoba lapas dari keterikatan barang haram itu. Akhirnya, ia berhenti jadi pecandu narkoba.

Misi Menyelamatkan Pecandu di Maluku

Rian saat menjadi konselor adiksi dan menjalankan program rehabilitasi di Lapas Kelas II A Ambon, Provinsi Maluku./Dok Pribadi/insidepontianak.com
Rian saat menjadi konselor adiksi dan menjalankan program rehabilitasi di Lapas Kelas II A Ambon, Provinsi Maluku./Dok Pribadi/insidepontianak.com

Selesai di rehab, Rian diaggap punya potensi sebagai konselor. Dia dikirim ke Maluku menjadi konselor adiksi yang menangani pecandu narkoba Lapas Kelas II A Ambon, tahun 2015. Tiga bulan lebih di sana, ia sukses jadi penolong para pecandu.

“Di sana (Ambon), saya seperti disekolahkan agar bisa menjadi konselor adiksi bagi para pecandu narkoba,” katanya.

Rian pemuda biasa. Tak terlalu mencolok dalam hal penampilan. Posturnya kurus dan ramping. Tapi, jangan terkecoh, tubuh cekingnya mampu membuat para pecandu di Ambon tunduk. Bayangkan saja, bagaimana caranya berhadapan dengan orang Ambon yang otaknya rusak akibat zat adiktif.

Ternyata, dia datang dengan membawa niat baik. Pendekatan dilakukan dari hati ke hati. Sebagai orang yang pernah memakai narkoba, dia pasti paham perasaan mereka. Sekalipun itu orang Ambon.

Dia percaya, setiap orang pasti bisa berubah. Biarpun pecandu narkoba kelas berat sekalipun. Tapi, jika orang itu tidak punya komitmen, itu akan menjadi sulit. Dalam satu program rehabilitasi di Ambon, ada 60 pecandu. Dari jumlah itu, ada sekitar 20 persen yang gagal direhab dan kembali menjadi pecandu.

Selain itu, ada faktor lain yang memberi pengaruh besar seorang mantan pecandu bisa kambuh, yakni keluarga dan lingkungan. Tanpa dukungan keluarga, seorang yang pernah jadi pecandu mudah terjerumus ke lubang sama. Rian menyebutnya dunia gelap dan suram.

“Saya datang ke Ambon dengan niat ingin membantu mereka. Ingin menjadikan mereka keluarga. Intinya komunikasi dari hati ke hati. Ketika kita paham apa yang mereka rasakan, kita akan maklum. Apalagi kita pernah melakukan hal serupa,” katanya.

Mendirikan Yayasan Geratak

Tahun 2018 di Vietnam, Rian mengikuti kegiatan Recovery Simposium oleh Colombo Plan Drugs Advisory Program. Saat itu dia dilatih melakukan pengobatan terhadap penyalahguna narkoba menggunakan metode Universitas Treatment Curriculum (UTC)./Dok Pribadi/insidepontianak.com
Tahun 2018 di Vietnam, Rian mengikuti kegiatan Recovery Simposium oleh Colombo Plan Drugs Advisory Program. Saat itu dia dilatih melakukan pengobatan terhadap penyalahguna narkoba menggunakan metode Universitas Treatment Curriculum (UTC)./Dok Pribadi/insidepontianak.com

Pulang dari Maluku, Rian bergabung dengan yayasan rehabilitasi swasta bernama Yayasan Pontianak Plus di Jalan Gusti Hamzah, Gang Nursalim, Pontianak Kota. Di sana, seorang pecandu narkoba yang minta di rehab harus membayar Rp 4 jutaan sebulan.

Uang itu untuk kebutuhan makan minum sehari-hari si pecandu, juga dibagi untuk keperluan perlengkapan dasar lain. Di situ, Rian melihat kebanyakan orang yang direhab berasal dari Kabupaten Sambas.

Dalam benak Rian, yayasan rehabilitasi swasta sudah banyak membuat pupus harapan para orang tua. Padahal kebanyakan orang tua sudah tidak tahu lagi anaknya mau di bawa ke mana. Ketika mendengar biaya rehabilitasi yang tinggi, mereka kebanyakan mundur dan pasrah.

“Jika ada 10 orang pecandu narkoba datang ke yayasan itu, 8 diantarnya tidak tahan dan pulang. Paling 2 orang bertahan. Karena tidak mampu membayar biaya yang cukup tinggi. Jika dikalkulasi, biaya hidup satu orang dalam satu bulan itu sudah berapa. Wajar jika swasta mematok harga segitu,” katanya.

November 2017, Rian dan ayahnya, Jamhari mendirikan Yayasan Geratak. Rehabilitasi itu dipusatkan di rumahnya sendiri. Motivasinya cuma satu, rasa prihatin terhadap para pecandu narkoba di Sambas yang ingin mengubah diri.

Di Sambas, tak ada tempat rehabilitasi. Berbekal kemampaun diri, dan dukungan penuh sang ayah, Rian optimis apa yang dilakukannya membawa kebaikan dan perubahan.

“Saya dan ayah saya mencoba mendirikan Yayasan Geratak sebagai tempat rehabilitasi pecandu narkoba. Sebagai modal awal, saya dengan pengalaman sendiri sebagai mantan pecandu narkoba. Ayah saya sebagai orang yang pernah punya anak seperti saya,” katanya.

Tahun yang sama, Rian pernah mengajukan permohonan bantuan dana hibah ke pemerintah daerah, tapi sampai sekarang belum dapat. Padahal di yayasannya itu, 70 pecandu narkoba yang harus diberi makan setiap hari.

“Kalau di kami, semuanya gratis. Bantuan sangat penting, tapi belum ada dari pemerintah,” katanya.

Sejak awal dia ingin sekali ada BNN di Kabupaten Sambas. Tahun 2017, dia bersama sejumlah pihak berupaya memperjuangkan pembentukan BNN di Kota Sambas. Namun, karena moratorium, sampai sekarang keinginan itu belum tercapai.

“Waktu itu kami terus mengusahakan ada BNN di Sambas. Tapi hanya kata iya-iya saja, tidak ada tindak lanjut dari pihak yang berwenang,” katanya.

Yayasan Geratak di awal pendirian menanggung seluruh biaya para pecandu. Dulu, jumlah orang yang direhab tak sebanyak sekarang. Saat ini, ada 72 orang residen, sebagian besar dari luar Sambas. Residen dari Sambas hanya belasan orang. Untuk sumber dana, yayasan selain percaya kepada Allah SWT, para pengurus selalu patungan. Ada juga donatur dari kalangan eksternal.

“Awal hanya ada 10 orang. Naik menjadi lagi 15 orang dan makin banyak,” katanya.

Dapat Hibah Rehabilitasi

Usaha Rian dilihat banyak orang. Ia ingat saat beraudiensi dengan Pengadilan Negeri Sambas, banyak dukungan mengalir penuh untuk Yayasan Geratak. Sampai akhirnya, PN Sambas meminjampakaikan gedung milik mereka di Jalan Pangsuma, Pemangkat sebagai lokasi rehabilitasi.

Jumlah permohonan rehabilitasi makin besar. Konselor adiksi pun bertambah. Hampir semua konselor di Yayasan Geratak adalah mantan pecandu narkoba. Bahkan, tak segan menarik teman-temannya di RSJ Sungai Bangkong dulu untuk ikut membantu. Faktanya, Yayasan Geratak punya banyak pengurus, tapi peran mereka lebih banyak sebagai pendukung operasional.

“Kalau layanan kepada residen kami ada 9 orang, inilah yang setiap hari bekerja. Saat ini ada belasan orang pecandu dari Sambas yang kami rehab. Sisanya dari berbagai daerah di Kalbar. Paling dominan dari Pontianak. Jumlah residen juga bertambah,” katanya.

Membuat Banyak Orangtua Tersenyum

Jauhari, ayah Rian selalu mendukungnya untuk keluar dari jerat narkoba. Kini, sang ayah bisa tersenyum dan berbangga atas pencapaiannya. dok pribadi
Jamhari, ayah Rian selalu mendukungnya untuk keluar dari jerat narkoba. Kini, sang ayah bisa tersenyum dan berbangga atas pencapaiannya. dok pribadi

Mengurus orang banyak dalam satu lingkungan itu tidaklah mudah. Apalagi, semua adalah pecandu narkoba. Rian merasa, hal yang paling berkesan dalam hatinya adalah detik-detik di mana orang tua residen membawa anaknya pulang dengan wajah tersenyum. Ada kepuasan batin di sana yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Awal datang, hampir semua orang tua yang membawa anaknya ke Yayasan Geratak berurai air mata. Ketika pulang, mereka tersenyum. Rian merasa dejavu. Ketika momen itu tiba, dia selalu teringat masa lalu. Ia ingat orangtuanya.

Ayah Rian, Jamhari sudah meninggal dunia. Kisah orang tua yang tersenyum saat membawa pulang anaknya jadi gambaran jelas. Jadi pengingat bagaimana perjuangan orang tua saat masa sulit menimpa anak-anaknya.

“Disitulah rasa kepuasan batin bagi saya dan teman-teman konselor lain. Alhamdulilah, ada orang yang berhasil kami selamatkan. Saya yakin almarhum bapak pasti bahagia di sana,” katanya.

Ia ingin membuat banyak orang tua tersenyum. Salah satunya, meminta sokongan pemerintah untuk keberlangsungan pusat rehab miliknya, mesti tak kunjung didapat.

Dari bertemu Bupati sampai menteri, tetap hampa. Dari 2017 sampai 2020. Tapi, ada hal yang menarik, ketika Kabupaten Sambas dipimpin Satono-Rofi, seluruh pengurus Yayasan Geratak merasa ada harapan besar. Baru selesai dilantik, Satono-Rofi sudah datang ke Yayasan Geratak untuk melihat langsung kondisi mereka.

“Saya bersyukur sekali sekarang Sambas dipimpin Bupati baru. Saya pernah putus asa dari 2017 meminta bantuan pemerintah daerah, sampai ganti Bupati masih belum dapat. Ketika Satono-Rofi baru dilantik, mereka langsung ke sini. Itu membuat semangat saya dan teman-teman bangkit lagi. Pastinya, akan banyak senyum orang tua di sana,” katanya.

Merawat Orang Sekaligus Diri Sendiri

Yayasan Geratak miliknya selalu memberikan metode penyembuhan dnegan melibatkan banyak residen untuk aktiv setiap harinya. dok pribadi
Yayasan Geratak miliknya selalu memberikan metode penyembuhan dengan melibatkan banyak residen untuk aktif setiap harinya. dok pribadi

Ada kepuasan batin. Seorang anak dengan masa depan suram dan serba tidak jelas, mampu mengubah orang lain menjadi lebih baik. Di satu sisi, dia dipaksa berkomitmen dengan pemulihan dirinya sendiri. Sementara di sisi lain, seorang pecandu narkoba bisa kambuh kapan saja.

“Kalau saya mengurus yang begini, artinya ada beban moral. Jangan sampai saya kembali menjadi pecandu lagi. Disitulah komitmen diuji. Takut ada rasa ingin kembali. Rasa coba-coba itu selalu ada. Tapi tekad kuat memusuhi narkoba, itu membuat saya kuat,” katanya.

Rian sering berujar ke sesama konselor, bahwa Yayasan Geratak adalah tempat mengabdi. Tak ada gaji. Semuanya cuma modal niat membantu orang lain saja. Hebatnya, sampai sekarang mereka tetap berkomitmen.

Merawat dan merehabilitasi para pecandu narkoba bukan perkara mudah. Banyak persoalan dan banyak masalah terjadi. Setiap hari ada saja keributan dilakukan pecandu ini. Persis seperti ia saat dulu direhab. Jadi, ia dan rekan lainnya maklum dan paham benar tugas sebagai pendamping para pecandu ini.

Orang yang memakai narkoba itu emosionalnya tak stabil. Sering ngamuk dengan halusinasi tingkat tinggi. Hasrat untuk mendapatkan barang itu sangat kuat. Bahkan karena tidak diberi uang, Rian ingin membakar rumah sendiri.

“Kalau dalam pengaruh narkoba itu, yang kita ikutkan adalah emosional. Bukan akal sehat,” katanya.

Jangan Pernah Menyerah

Selalu ada cahaya di sudut gelap. Selalu ada harapan di ujung kepasrahan. Seakan jadi motto hidup Rian dalam menjalankan apa yang ia yakini. Menjadi penyembuh bagi mereka yang putus asa, melewati masa suram dari kungkungan narkotika.

Ia pernah lelah, tapi ia tak putus asa. Tetap bangkit dan terus bersemangat. Sebagai pendamping, tak ada kata menyerah dalam kamusnya. Rian sudah bertekad mengabdikan diri sebagai pejuang bagi mereka yang terjerat.

Dalam metode pemulihan yang ia lakukan, ia tak pernah menggurui atau menyalahkan siapapun. Cara terbaik adalah mendukung mereka segera pulih. Tetap memberikan mereka harapan masa depan cerah. Apapun kondisi para pecandu.

Di hari-harinya ini, ia ingin terus memberikan suntikan positif bagi rekan-rekan para pecandu di tempatnya. Tak ingin berpuas diri. Selalu berharap banyak pihak terlibat dalam kerja sosial ini. Mereka, para pecandu punya masa depan.

Mendorong mereka bangkit. Pasti ada harapan, menunggu untuk bangkit. Raih mimpi mereka yang tertinggal. (Ya’ Muh Nurul Anshory)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: