banner 468x60 banner 468x60

Hutan Adat Dibabat, Warga Pelanjau Tebas Desak Pemerintah Bersikap

  • Bagikan
Tumpukan Kayu
Warga temukan tumpukan kayu olahan di lahan hutan adat di Dusun Pelanjau, Desa Bukit Segoler, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Kayu itu diduga hasil pembabatan di hutan adat tersebut. (Ist)

SAMBAS, insidepontianak.com – Ratusan hektare hutan adat di Dusun Pelanjau, Desa Bukit Segoler, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, diduga dibabat untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Jejak pembabatan itu ditemukan warga yang berburu.

Kepala Dusun Pelanjau, Leonardus Joko, membenarkan. Laporan pemburu yang diterimanya telah ditindaklanjuti. Kamis, 7 Oktober 2021, ia bersama aparat dan beberapa warga ke lokasi.

“Setibanya di lokasi, kedatagan kami ternyata diketahui oleh mereka yang membabat hutan adat tersebut. Alat berat dan mesin sawmil sudah mereka amankan,” kata Leonardus.

Aktivitas pembabatan itu memicu kemarahan pemuda setempat. Camp pekerja dan sawmill yang berada di hutan adat dibakar.

“Masyarakat membakar 4 sawmill yang masih aktif, 1 sawmil yang sudah tidak aktif, 1 unit generator kecil, 1 unit generator besar, 1 unit sepeda motor milik karyawan dan 11 unit kamp karyawan yang bekerja di sawmill serta pengurus kebun kelapa sawit,” ucapnya.

Leonardus memperkirakan, luas lahan hutan adat yang dibabat capai 100 hektare, di tiga lokasi. Yakni, Bakong, Tungku dan Pangkalan Nanas. Di lokasi ini ditemukan bibit kelapa sawit yang sudah ditanam. Sedangkan pohon-pohon besar yang ditebang, telah diolah menjadi berbagai macam ukuran.

“Kami melihat langsung tumpukan kayu-kayu balok dan kasau di sekitar camp pekerja,” katanya.

camp
Warga membakar camp pekerja pembabat hutan adat di Dusun Pelanjau, Desa Bukit Segoler, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. (Ist)

Tiga hari pascakejadian kata Leonardus, Danramil Tebas, Samikun mendatangi warga Dusun Pelanjau untuk mendengar aspirasi. Namun sampai sekarang, belum ada titik terang dan tindakan terhadap pelaku pembabatan.

Pada Senin 11 Oktober 2021, Leonardus dan beberapa perwakilan warga Dusun Pelanjau mengadu ke Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sambas. Sebab, hutan adat yang dibabat merupakan hak ulayat masyarakat.

Menurut Leonardus, oknum tak bertanggungjawab tersebut, tak hanya menebang dan mengolah kayu. Namun mereka juga menguasai hutan adat.

“Kami telah memeriksa status hutan tersebut di peta desa. Bahwa lokasi yang dibabat statusnya adalah hutan produksi yang mana fungsinya untuk menjaga kelestarian alam sekaligus hak ulayat masyarakat dayak,” katanya.

Leonardus menyebut, 2020 lalu, diduga oknum yang sama pernah melakukan hal serupa. Mereka memasang patok tanah sepanjang 2.000 meter, dengan lebar 8 meter.

Saat itu, dilakukan pertemuan bersama Forkopimcam Tebas. Bahkan, sampai diangkat ke Tapem Pemda Sambas, yang dihadiri oleh Bupati Sambas.

“Namun sampai sekarang belum ada titik terang, seperti apa keputusan pemerintah,” katanya.

Leonardus berharap pemerintah mengambil sikap tegas atas persoalan ini. Dia mengatakan, sudah sepekan ini masyarakat dayak di sana menantikan sikap pemerintah untuk memediasi pertemuan dengan oknum tak bertanggungjawab tersebut.

“Pemerintah tak boleh menutup mata dengan persoalan yang kami hadapi sekarang. Hari ini saya melaporkan persoalan ini ke Camat Tebas. Jika tidak ada tindaklanjut pemerintah, maka jangan salahkan warga bertindak sesuai hukum adat dayak,” pungkasnya.

Kapolres Sambas, AKBP Laba Meliala, belum memberi keterangan terkait masalah hutan adat dibabat. Insidepontianak.com, sudah melakukan upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp. Namun, sampai sekarang pesan yang dikirim belum dijawab.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: