banner 468x60 banner 468x60

Rasakan Khasiatnya, Profesor Ini Ungkap Cara Terbaik Minum Teh

  • Bagikan
Meminum teh juga ada cara terbaiknya. suara.com
Meminum teh juga ada cara terbaiknya. suara.com

PONTIANAK, insidepontiaak.com – Teh memang baik untuk kesehatan karena mengandung antioksidan yang disebut katekin. Tapi Anda juga perlu waspada mengenai adanya air berwarna teh, yang terbukti tidak memiliki manfaat kesehatan.

Ini terjadi apabila kandungan antioksidan katekin sudah hilang dari dalam teh karena sudah teroksidasi atau terpapar oleh udara yang mengandung oksidan.

Itulah kenapa menurut Peneliti Teh, Profesor dr. Dede Kusumana, jangan membiarkan teh terlalu lama setelah diseduh dengan air panas, karena teh memiliki waktu terbaik untuk diminum agar mendapat manfaatnya.

“Minum teh supaya katekinnya masih ada, sambil menunggu panasnya hilang, mungkin 15 sampai 20 menit. Kalau teh sudah satu jam katekinnya bakal turun,” ujar Profesor Dede dalam acara diskusi Teh 63, dikutip Suara.com, Selasa (12/10/2021).

Katekin adalah kandungan antioksidan alami yang ada di dalam teh. Katekin juga merupakan salah satu turunan poliphenol yang memiliki khasiat antioksidan tinggi, yang punya beragam manfaat kesehatan.

Selaiknya antioksidan pada sayur dan buah, yang akan mudah teroksidasi oleh udara yang mengandung oksidan atau zat di udara yang merusak tubuh.

Sehingga sayur, buah dan termasuk juga teh tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena manfaat untuk kesehatan manfaatnya akan hilang, dan hanya sekedar menjadi air berwarna teh.

“Jadi banyak tuh direstoran air teh dibiarkan berlama-lama di teko, itu cuma air berwarna teh jadinya, tapi antioksidannya sudah hilang,” ungkap Profesor Dede.

Profesor yang juga ahli penyakit jantung koroner dan stroke itu menerangkan, ada baiknya teh diminum tiga kali sehari, dengan porsi masing-masing 200 mililiter.

“Sehingga sehari kita konsumsi berjumlah 600 mililiter. Setiap sebelum makan dikonsumsi 200 mililiter. Atau bagi mereka yang perutnya tidak kuat bisa dikonsumsi setelah makan,” pungkas Profesor Dede.

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: