banner 468x60 banner 468x60

Kisah Dadang Nekat, Berebut Anak hingga Berakhir di Balik Jeruji Penjara

  • Bagikan
Endang Harianto alias Dadang Nekat, pria asal Kalimantan Tengah divonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Pontianak, Rabu (13/10/2021). Ist
Endang Harianto alias Dadang Nekat, pria asal Kalimantan Tengah divonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Pontianak, Rabu (13/10/2021). Ist

PONTIANAK, insidepontianak.com – Endang Harianto alias Dadang Nekat, pria asal Kalimantan Tengah ini sangat ingin bertemu sang buah hati, AZ yang tinggal bersama mantan istrinya di Kalbar.

Awalnya, sang buah hati lewat beberapa unggahan pemberitaan lokal di Kalteng, dirawat olehnya sejak tahun 2018. Ia berperan sebagai ayah sekaligus ibu bagi putri semata wayangnya itu.

Setahun berlalu. JE, mantan istri Dadang datang ke Kalteng. Ia menginap di salah satu hotel di sana. Tujuan sang istri, ingin melihat sang buah hati. Apalagi, saat it, sang putri tengah berulang tahun ke empat tahun 2019.

Begitu penuturan musisi Kalteng itu.

Banyak kisah dan cerita Dadang berusaha membawa gadis kecilnya itu untuk ikut bersama dia ke Kalteng. Bahkan, ia tak segan datang ke Jakarta untuk menemui pakar anak, Kak Seto. Ia mengadukan masalah itu kepada ahlinya. Tak hanya itu, bahkan ia bersurat ke sejumlah lembaga penting negara.

Sejak awal tahun 2020 lalu, ia tak pernah lagi bertemu sang anak. Komunikasi tak ada. Kontak pun tak bisa. Ia sempat putus asa tapi tak tak menyerah.

Datang ke Kalbar

Hingga akhirnya, Dadang datang ke Kalbar. Tempat rumah mantan istri dan anaknya tinggal. Niatnya, hanya bertemu sang buah hati.

Untuk memuluskan tekadnya itu, Ia mendatangi KPAID Kalbar.

Ini pun diakui Tumbur Manalu, Devisi Pelayanan Pengaduan, Mediasi dan Pemantauan Evaluasi KPAID Kalbar, Kamis (14/10/2021).

Dadang adalah klainnya. Ia datang mengadu ingin bertemu anaknya yang dibawa mantan istrinya itu. KPAID pun menjadi penjembatan antara kedua belah pihak.

Disepakati bahwa Dadang bisa bertemu anaknya. Tapi, hanya dalam kota. Artinya, sang buah hati tidak boleh dibawa ke luar Kalbar.

“Mereka sepakat. Kita jadi penjembatan keduanya. Waktu itu mereka masih menikah. Belum bercerai,” ujar Tumbur.

Bawa Kabur AZ ke Kalteng

Pertemuan Dadang dan buah hati terjalin. Beberapa kali kerap bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Namun, di pertemuan yang kesekian Dadang membawa putrinya kabur hingga ke Kalteng.

JE, mantan istri Dadang menyalahkan KPAID yang menuding lembaga negara itu bersekongkol dengan Dadang untuk membawa kabur putrinya itu.

“Kami tersudut oleh pihak ibu AZ ini,” ucap Tumbur.

Tak tinggal diam, sang ketua KPAID Kalbar terbang ke Kalteng. Tapi, tak bertemu. Malah, Dadang mengadukan persoalan ini ke tingkat pusat. Bahkan, malapor ke KPA di Jakarta. Dalam pengakuannya itu, KPAID Kalbar dianggap tidak melayani dengan baik kasusnya.

“Pusat konfirmasi ke kami. Kami jelaskan. Perwakilan Kak Seto pun datang dan meminta penjelasan. Setelah dijelaskan, baru mereka paham apa yag sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Dadang Tertangkap

Selama di Kalbar, ia menginap di salah satu hotel di Kota Pontianak. Hotel di Jalan Gajahmada. Tak berapa lama, Dadang tertangkap di awal Februari 2021. Ia ditangkap polisi atas tuduhan prostitusi anak di bawah umur.

“Kami syok, kami cek. Apakah benar Dadang yang itu. Ternyata benar,” ujarnya.

Kasus peseteruan anak pun menghilang. Pria kurus ini menghadapi tuntutan yang lebih besar, eksploitasi seksual. Apalagi, tak hanya Dadang, tujuh tersangka ditangkap dalam pengembangan kasus ini. Saat ditangkap, Dadang tak banyak melawan. Ia menyerah saat digelandang ke kantor polisi.

Divonis 5 Tahun Penjara

Usai melewati proses persidangan, Endang Harianto alias Dadang Nekat akhirnya divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kota Pontianak, Rabu (13/10/2021). Dadang tersandung kasus eksploitasi seksual yang melibatkan anak di bawah.

KPAID Kalbar tak puas dengan hukuman yang dijatuhkan kepada Dadang. Dalam kasusnya, Dadang dikenakan pasal 88 UU Perlindungan Anak. Bunyinya ‘Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Harusnya, Dadang dijerat pasal 81 UU Perlindungan Anak. Dimana vonis pidana penjara lebih berat hingga 15 (lima belas) tahun.

“Pengenaan pasal 88 kepada Dadang tak tepat. Harusnya pasal 81, tanpa ada vonis minimal,” ujarnya.

Kasus dengan Banyak Terdakwa

Dari pengembangan kasus Dadang, faktanya ada tujuh lagi terdakwa yang terseret dalam kasus prostitusi anak ini.

Kesemuanya divonis. Empat terdakwa yang baru saja dihukum adalah AG, Gd, NP dan TR. Mereka divonis sama, yaitu satu tahun penjara.

Dua lainnya, yaitu HD dan MT sudah lebih dahulu dijatuhi hukuman pada tanggal 6 Oktober lalu. Sementara satu terdakwa masih di bawah umur, SG dan secara hukum dilindungi UU Perlindungan Anak. Sanksi pun berbeda. SG dianggap anak bermasalah dengan hukum. Ia hanya mendapat hukuman sosial di bawah pengawasan Lapas Anak.

Tujuh tersangka dalam persidangan memiliki peran beragam, mulai dari petugas hotel yang jadi penyedia jasa prostitusi, mucikari, PSK, bahkan salah seorang tersangka terlibat dalam pembelian narkoba.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: