banner 468x60 banner 468x60

Makin Mengkhawatirkan! Jumlah Bunuh Diri Anak di Jepang Meningkat Selama Pandemi Covid-19

  • Bagikan
Ilustrasi pencegahan bunuh diri. (Shutterstock)
Ilustrasi pencegahan bunuh diri. (Shutterstock/suara.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dalam dua tahun Pandemi Covid-19, banyak negara tak hanya rugi kesehatan tapi juga ekonimi dan mental warganya.

Tak heran pandemi juga mengganggu kesehatan pikiran sebagian orang. Seperti di Jepang, dimana angka bunuh dirinya makin mengkhawatirkan.

Survei Kementerian Pendidikan di Jepang mengungkap, pandemi juga meningkatkan jumlah kasus bunuh diri anak yang mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Melansir ANTARA, yang dikutip Suara.com, sebanyak 415 anak dari usia sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) tercatat bunuh diri.

Kasus-kasus bunuh diri anak usia sekolah yang terjadi saat pandemi COVID-19 itu mendorong penutupan sekolah-sekolah dan mengganggu kegiatan belajar di ruang kelas pada 2020.

Jumlah kasus bunuh diri anak itu naik hampir 100 kasus dibandingkan dengan tahun lalu (2019), yang merupakan angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1974, seperti diberitakan surat kabar Asahi.

Aksi bunuh diri memiliki sejarah panjang di Jepang sebagai suatu cara untuk menghindari rasa malu atau aib. Jepang telah lama menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara Kelompok Tujuh (G7).

Namun, suatu upaya nasional telah menurunkan angka bunuh diri sekitar 40 persen selama 15 tahun, termasuk penurunan kasus selama 10 tahun berturut-turut mulai dari 2009.

Akan tetapi, di tengah pandemi, kasus bunuh diri meningkat pada 2020 setelah satu dekade menurun, dengan jumlah wanita yang melakukan bunuh diri melonjak di tengah tekanan emosional dan finansial yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Selama pandemi ini, lebih sedikit pria yang bunuh diri (dibandingkan wanita).

Kementerian pendidikan Jepang menyebutkan rekor tertinggi lebih dari 196.127 anak sekolah tidak masuk selama 30 hari atau lebih, menurut laporan media lokal negara itu.

Hasil survei menunjukkan bahwa perubahan di lingkungan sekolah dan rumah akibat pandemi COVID-19 berdampak besar pada perilaku anak-anak, kata seorang pejabat kementerian pendidikan Jepang seperti dikutip media NHK.

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: