banner 468x60

Cari Penghasilan Tambahan, Siswa SMA N 1 Sukadana Tak Malu Ngojek

  • Bagikan
Hendri Saputra saat mengantarkan pesanan barang milik warga Sukadana. (Fauzi)
Hendri Saputra saat mengantarkan pesanan barang milik warga Sukadana. (Fauzi)

KAYONG UTARA, insidepomtianak.com – Pandemi Covid-19 berimbas minimnya jam belajar tatap muka di sekolah. Ini lantas dimanfaatkan Hendri Saputra untuk bekerja. Ia pun memilih untuk jadi driver ojek pangkalan.

Profesi ngojek ini dianggap sebagian orang kurang menjanjikan. Terkadang, hanya dipandang sebelah mata. Namun, tak berlaku bagi pelajar SMA N 1 Sukadana ini.

“Tak malu, yang penting halal. Orang tua pun tidak mempermasalahkan saya ngojek. Selama tak ganggu jam belajar. Karena sekarang belajar masuk jam 7 pagi sampai jam 9 saja,” ungkap pemuda yang duduk dibangku kelas 10 ini, Kamis (21/10/2021).

Hendri menceritakan, dalam sehari dirinya mampu meraih keuntungan bersih Rp 20-30 ribu. Uang itu hanya untuk jajan setiap hari. Sehingga tak bebankan orang tua.

Hendri mengaku, orderan yang sering ia dapat hanya di sekitaran Kecamatan Sukadana. Biasanya beli makanan dan mengantar barang. Untuk ojek orang sendiri masih sangat minim.

“Uang didapat untuk jajan saja, jadi tidak minta uang sama orang tua lagi,” tuturnya.

Diakui hendri, ada jam tertentu orderan padat. Bisa dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 9.00 malam. Dari cuaca cerah hingga cuaca ekstrem.

“Pagi sama malam yang banyak orang order. Cuma kalau pagi saya ndak ambil order karena sekolah. Kalau malam lumayan ramai, apa lagi kalau hujan, orang malas keluar,” timpalnya.

Hendri sendiri mengaku ada pengalaman menarik selama kurang lebih 1 bulan berprofesi draiver ojek online ini. Dirinya mengaku pernah mendapat orderan perempuan sedang mabuk. Lucunya, saking teler berat si penumpang itu kerap salah memberikan uang bayaran.

“Sudah sempoyongan pas jalan. Saya bilang 25 ribu ngojeknya tapi dia beri uang 2 ribu. Saya bilang kurang, dikasi lagi 20 ribu. saya bilang kurang, soalnya 25 ribu. Barulah dikasi uang pas,” tutur Hendri.

Karena bukan jasa ojek online, ia dan sesama ojek pangkalan kerap memasarkan jasanya melalui pesan WhatsApp. Profesi ini di ikuti 7 rekan lainnya, termasuk dirinya.

Tiga lainnya masih berstatus pelajar. Ia bersama rekan-rekan itu menamakan profesi ngojek mereka bernama Gorams drivers. (Fauzi)

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: