banner 468x60

‘Cocokhen’ ala Masyarakat Madura Kalbar: Dari Harap Berkah hingga Ajang Silaturahmi 

  • Bagikan
Ustad memberikan taushiah saat acara muludhen atau cocokhen kelompok di salah satu mushola tau masjid di Kecamatan Pontianak Utara . Ist
Ustad memberikan taushiah saat acara muludhen atau cocokhen kelompok di salah satu mushola tau masjid di Kecamatan Pontianak Utara . Ist

“Ya robbi shalli ala Muhammad. Ya robbi shalli alayhi wasallim. Ya robbi balllighul wasiilah. Ya robbi khusshoh bilfadliilah. Ya robbi shalli ala Muhammad. Ya robbi shalli alayhi wasallim,” bait sholawat Al Barzanji mengalun nyaring.

Suara itu berasal dari puluhan pria, tua muda di rumah putih tanpa pagar di Gang Bersama, Kelurahan Sungai Jawi No 26 itu. Rumah milik keluarga almarhum Haji Hafi.

Pagi itu tanggal 19 Oktober 2021. Dalam penggalan Arab, terhitung 12 Rabiul Awal. Bulan ketiga dalam hitungan Islam. Hari spesial bagi kaum muslim. Hari kelahiran manusia agung, Rasulullah SAW.

Mereka bukan pengajian tapi merayakan hari penuh kesyukuran. Tampak, puluhan pria paru baya duduk sambil mengikuti bacaan sholawat Barjanzi. Ada lebih dari 50an yang hadir.

Hanya terdengar sholawat, tanpa ada pembicaraan lain. Mereka khusyu melantunkan puji-pujian dalam bahasa Arab itu. Pujian itu ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan ini biasa disebut maulid. Kata ini cukup akrab di telinga. Maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir.

Dalam tradisi maulid, bacaan sholawat jadi hal ‘wajib’. Berisi kisah hidup nabi, sunah, tauladan tertuang dalam lirik sholawat itu.

Di indonesia sendiri, setiap daerah punya cara sendiri memeriahkan hari lahir Rasulullah tersebut. Begitu juga di Kalbar. Dari sejumlah etnis besar di Kalbar, yang paling kentara dalam merayakan hari syukur itu adalah masyarakat Madura.

Dalam catatan, etnis Madura di Kalbar mencapai 6,27% dari jumlah penduduk. Etnis nomor lima terbesar setelah Dayak, Malayu, Tionghoa dan Jawa dengan menempati tiga wilayah, Kubu Raya, Mempawah dan Kota Pontianak.

Muludhen atau Cocokhen

Sekjen IKBM Kalbar, M Fauzi saat diundang acara mulufhen arau cocokhen di Kecamatan Pontianak Utara. ist
Sekjen IKBM Kalbar, M Fauzi saat diundang acara mulufhen arau cocokhen di Kecamatan Pontianak Utara. ist

Tokoh Madura Kalbar, M Fauzie, berujar sejak Islam masuk ke Nusantara, perayaan maulid sudah diperkenalkan. Saat itu, tradisi orang terdahulu jika datang ke rumah orang diberi makanan, terutama dari hasil bumi. Budaya itu pun masuk ke kawasan Madura, tepatnya di Pulau Madura, Jawa Timur.

“Jadi sejak saat ini, seluruh warga Madura merayakan hari lahir Rasulullah,” kata Sekjen Ikatan Keluarga Besar Madura Kalbar ini.

Orang Madura hampir memiliki kesamaan dengan etnis lain, suka hidup berkelompok. Jadi, dimana ada etnis Madura pasti ada yang namanya maulid.

Masyarakat Madura, menyebut maulid dalam dialek mereka muludhen.

Muludhen biasa juga disebut cocokhen. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya mencocokkan.

“Ketika masuk bulan Rabiul awal, maka sejak tanggal 1 hingga berakhirnya bulan muludhen akan dilaksanakan. Nah, itu namanya mencocokkan. Mengepaskan masuknya bulan dengan hari kelahiran Rasulullah. Itu disebut cocokhen dalam bahasa kami,” katanya.

Proses muludhen ini tak lama. Tak sampai 2 jam. Hanya butuh 1,5 jam saja. Bacaan sholawat hingga ceramah singkat jadi agenda utama ketika maulid berlangsung. Hidangan buah pun disajikan. Usai semua proses dijalani, buah yang dihidang jadi rebutan.

Tak ada kata malu. Mereka, tua muda saling berebut untuk dapatkan buah yang diincar. Jika beruntung, maka posisi buah ‘mahal’ bisa di depan mata. Alhasil, tawa kerap pecah saat acara rebutan berlangsung. Baru, proses akhir adalah makan besar alias berat.

Satu Bulan Penuh

Faktanya, masyarakat Madura di mana pun tinggal akan melaksanakan maulid. Meski tak banyak uang di kantong.

Kata Fauzi, masyarakat Madura sangat ‘radikal’ dalam memaknai hari lahir Rasulullah.

“Orang Madura dimana saja pasti merayakan maulid. Baik itu ada atau tidak uang. Itu sudah tradisi dan kebanggaan. Jika tak merayakan, ada yang kurang,” ungkapnya.

Saking antusiasnya, cocokhen ala masyarakat Madura itu bisa berlangsung satu bulan penuh. Hingga masa akhir bulan Rabiul Awal.

“Bukan satu hari. Tak hanya perayaan di hari H saja, tapi berlaku hingga satu bulan,” ucapnya tokoh masyarakat Pontianak Utara ini.

Biasanya giliran. Jika hari ini ada di rumah satu, maka hari berikutnya di rumah warga lain.

“Siapa duluan yang ngundang. Biasanya ada yang waktunya hampir bersamaan. Serentak. Tapi hingga akhir bulan pasti ada yang muludhen,” jelas Fauzi.

Ajang Silaturahmi dan Syukur

Dalam tradisinya, muludhen di masyarakat Madura lebih kepada silaturahmi antar tetangga dan saudara. Ketika datang diundang untuk maulid, maka tuan rumah akan menjamu sebagai tamu.

“Undangan itu ke tetangga dekat. Yang lama tak ketemu, pas muludhen itu bisa ketemu. Itu momen terbaik pas maulid itu,” ungkap Fauzi yang mantan anggota DPRD Kota Pontianak ini.

Merayakan hari lahir, juga bentuk syukur kita kepada Allah SWT, karena telah mengirim manusia terbaik dan bisa membawa jalan terang.

“Ini rasa syukur kita kepada sang pencipta. Menjamu tamu dengan makanan dan hasil bumi, sudah menjadi berkah ke depan. Sekaligus sebagai upaya memohon rejeki manfaat, makanya kita berbagi kepada orang terdekat kita,” paparnya.

Saprahan dengan Buah

Muludhen masyarakat Madura seperti digelar saprahan. Bedanya hidangannya buah, bukan makanan berat. Ist
Muludhen masyarakat Madura seperti digelar saprahan. Bedanya hidangannya buah, bukan makanan berat. Ist

Nah, menariknya muludhen atau cocokhen ini, tak hanya menjamu dengan makanan berat, nasi dan lauk pauk saja. Tamu yaang datang juga akan disuguhi buah-buah, yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan.

Hidangan dari buah hingga makanan khas Madura tersaji. Wajit, Cucor, Lopes, Dodol jadi menu tambahan saat maulid. Buah-buah segar dengan nampan akan disusun rapi di ruang tengah rumah. Bahkan, hingga ke pelataran depan. Tergantung tamu. Semakin banyak, makin penuh buah yang disajikan tuan rumah.

Biasanya buah-buahan dalam nampan itu dikelilingi para tamu. Seperti saprahan. Jika saprahan hidangannya berupa makanan lengkap, muludhen  khas Madura ini adalah berbagai jenis buah. Dari buah murah hingga buah mahal, tergantung lagi siapa yang ngundang.

“Jika punya uang, tentu buahan jenisnya banyak. Tapi jika pas-pasan, maka biasanya sedikit buah. Siapa cukup keuangan juga, tak musti memberatkan,” terang Fauzi.

Bagi yang tak mampu menggelar maulid di rumah, biasanya akan membawa saprahan buah sederhana ke mushola terdekat.

“Kalau mampu, biasanya di rumah. Kalau tidak, nitip satu dua nampan ke langgar di gang atau masjid tak jauh dari rumah. Biasanya kelompok,” paparnya.

Muludhen akan dibuat semeriah mungkin. Karena tak hanya orang tua yang datang, para remaja hingga anak-anak tak mau ketinggalan. Anak-anak yang paling menunggu waktu maulid ini.

Pulang Kampung saat Maulid

Masih menurut Fauzi, jika orang pulang kampung hanya di hari raya, tapi tidak untuk masyarakat Madura. Ketika masuk bulan Rabiul Awal, maka warga Madura di seluruh tanah air akan pulang.

“Iya, sudah tradisi turun temurun,” ucapnya.

Tak hanya pulang kampung, warga Madura ketika tanggal 12 Rabiul Awal tiba, seluruh keluarga wajib berkumpul. Seperti masyarakat Tionghoa. Mereka Biasa menyebutnya berkumpul dan makan tahun baru.

“Semua Harus pulang, harus ngumpul. Tak sempat, harus dikasi kabar. Bagi yang bekerja, biasanya tinggal di rumah. Tak hanya membantu tapi berkumpul bersama keluarga besar,” katanya.

Pesan Damai

Tahun ini perayaan maulid sedikit berbeda. Pemerintah menggeser hari libur yang awalnya tanggal 19 Oktober menjadi tanggal 20 Oktober 2021. Namun, bagai masyarakat Madura maulid tetap dirayakan di hari lahir Rasulullah.

Meskipun berbeda, tapi kalangan Madura, terutama di kota Pontianak masih menggelar muluthen dengan meriah. Tapi, dengan protokol kesehatan. Seperti diungkap tokoh pemuda Madura, Mat Romli.

“Kita sudah minta warga yang laksanakan cocokhen untuk disiplin prokes,” ujarnya.

Para tokoh ini lantas membawa pesan damai. Menurut mereka, muludhen di kalangan Madura bukan hanya untuk orang Madura saja, tapi untuk semua etnis. Menjaga kata harmonis merupakan prioritas di tengah keberagaman budaya dan adat istiadat.

“Maulid seperti hakekatnya rasa syukur hingga silaturahmi, ini yang terus kita cairkan bagaimana silaturahmi kita dengan semua kalangan. Karena, ketika kita mengundang acara maulid, semua tetangga, apapun etnis dan sukunya tetap kita undang,” ucapnya.

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: