banner 468x60

Wiku: Pembukaan Kegiatan Sosial-Ekonomi Dilakukan dengan Hati-hati

  • Bagikan
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito.(BNPB)

JAKARTA, insidepontianak.com – Indonesia saat ini secara bertahap kembali melakukan pembukaan kegiatan sektor sosial-ekonomi. Pembukaan secara bertahap ini dilakukan setelah kondisi pandemi Covid-19 terkendali ditandai terus menurunnya penambahan kasus setiap harinya sejak puncak kedua pada bulan Juli 2021. Penurunan ini telah berlangsung selama 13 minggu berturut-turut.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, kondisi saat ini merupakan hasil dari penanganan kasus yang sebelumnya melonjak. Maka keputusan untuk melakukan pembukaan secara bertahap didasarkan pada pola peningkatan kasus.

“Melihat ke belakang, peningkatan kasus tidak terlepas dari peningkatan aktivitas dan mobilitas masyarakat selama masa liburan,” kata Wiku dalam siaran pers, kemarin.

Wiku memaparkan, perkembangan kasus positif dalam sepekan terakhir turun menjadi 6.826 setelah mencapai angka tertinggi 542.236 selama lonjakan kedua. Penurunan kasus juga berkaitan erat dengan penurunan angka kesembuhan, dikarenakan jumlah kasus yang menurun. Pekan lalu saja, ada 12.567 orang sembuh, sementara jumlah kesembuhan tertinggi di lonjakan kedua 176.934 orang.

Pada kasus aktif atau pasien yang membutuhkan perawatan medis, juga terus menurun jumlahnya. Pada saat puncak kedua jumlahnya mencapai 542.236 kasus atau 18,84 persen, kini turun menjadi 16.388 atau 0,43 persen.

Sejalan itu, angka positivity rate juga mengalami penurunan drastis menjadi 0,56 persen setelah mencapai 26,76 persen saat puncak kedua. Serta tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan atau Bed Occupancy Rate (BOR) menjadi 5,69 persen dari sebelumnya 77,77 perse  pada saat puncak kedua.

Wiku menambahkan, dalam rangka pembukaan secara bertahap, perlu belajar dengan cara melihat jauh ke belakang pada penanganan pandemi sejak tahun 2020. Mencermati pola peningkatan kasus,  akan menjadi pembelajaran penting dalam pembukaan bertahap.

Seperti peningkatan kasus, terjadi 2 minggu pasca periode Idulfitri 2020. Kasus meningkat 214 persen dan berlangsung selama tujuh pekan, meski bisa ditekan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah.

Namun, terang Wiku peningkatan serupa terjadi lagi pada dua minggu setelah libur bersama Maulid Nabi, Natal dan Tahun Baru 2021. Peningkatan ini terjadi saat pemerintah menerapkan kebijakan PSBB transisi. Pada periode ini, kasus meningkat selama 13 minggu hingga mencapai puncak pertama dengan peningkatan 389 persen kasus lebih tinggi.

Dia menerangkan, di tahun 2021, kasus sempat mencapai titik terendah pada 10 Mei. Namun, peningkatan kasus kembali terjadi tiga minggu setelah libur Idulfitri. Meskipun saat itu kebijakan penghapusan mudik telah ditetapkan. Adanya varian Delta memicu lonjakan kasus yang sangat signifikan hingga mencapai puncak kasus kedua, sebesar 880 persen lebih tinggi dibandingkan titik kasus terendah.

Belajar dari tren kasus yang meningkat, penting untuk menganalisis momentum yang tepat untuk pembukaan bertahap. Selain mempertimbangkan data kasus positif dan BOR, juga perlu diperhatikan laju reproduksi efektif (Rt).

Angka ini menunjukkan rata-rata jumlah kasus yang dapat terjadi dari satu orang positif dalam kurun waktu tertentu.

Pada saat lonjakan kasus kedua, Rt nasional adalah 1,41. Saat ini, Rt nasional adalah 0,70. Nilai Rt kurang dari satu menunjukkan potensi penularan yang rendah di masyarakat.

“Oleh karena itu, diharapkan kegiatan dapat dilanjutkan kembali, meski dengan kewaspadaan penuh. Langkah-langkah pengendalian juga sedang disiapkan dengan mempelajari pola peningkatan kasus sebelumnya,” lanjutnya.

Kondisi Covid-19 di Indonesia yang saat ini membaik, tercapai berkat dukungan seluruh lapisan masyarakat, peran tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pengendalian, serta kerja sama berbagai sektor, kementerian dan lembaga.

Oleh karena itu jelas Wiku, dalam periode pembukaan bertahap ini, prestasi tersebut harus dipertahankan. Dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan dalam setiap kegiatan, pengujian ekstensif, dan kesediaan untuk divaksinasi, produktivitas masyarakat dapat terus dilakukan dengan aman.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: