banner 468x60

Pembukaan Sektor Masyarakat Perhatikan Prinsip Kehati-hatian

  • Bagikan
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito.(BNPB)

JAKARTA, insidepontianak.com – Sejumlah sektor kegiatan masyarakat mulai dibuka kembali, pasca Covid-19 melandai di sejumlah daerah di Indonesia. Kendati demikian, prinsip kehati-hatian tetap diterapkan agar kasus virus itu tak kembali merebak, mengingat akan memasuki periode Natal dan Tahun Baru.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, pembukaan bertahap Indonesia mempelajari pengalaman dari empat negara di Eropa. Pembukaan ini, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas yang aman dan nyaman namun tetap memperhatikan lonjakan kasus di berbagai negara sebab berpotensi importasi kasus di Indonesia.

“Dari kenaikan kasus di 4 negara ini, kita dapat belajar bahwa pembukaan aktivitas masyarakat yang terlalu tergesa-gesa dan tidak menerapkan prinsip kehati-hatian dapat mengakibatkan lonjakan kasus yang sangat tajam,” kata  Wiku dalam keterangan pers, kemarin.

Empat negara dimaksud ialah Austria, Belanda, Belgia dan Jerman. Keempatnya kini mengalami kenaikan kasus yang signifikan. Bahkan lebih banyak dari periode Nataru tahun lalu. Padahal awal tahun 2020 atau awal pandemi pemerintah setempat mengimplementasikan wajib lockdown dan penggunaan masker.

“Namun, begitu kasus menurun di bulan Mei, pembatasan longgar sehingga aktivitas kembali normal dan masker tidak menjadi kewajiban,” ujarnya.

Dampaknya, terjadi kenaikan kasus lagi pada September 2020 yang terus mencapai puncaknya pada akhir tahun 2020. Di Belgia, kenaikan kasus paling signifikan karena tidak menerapkan pembatasan aktivitas dan wajib masker saat awal kasus mulai naik.

“Lonjakan kasus yang terjadi menyebabkan keempat negara kembali memberlakukan lockdown dan wajib masker,” imbuh Wiku.

Selanjutnya, pada awal 2021 setelah kasus mulai menurun, perlahan empat negara ini melonggarkan pembatasan aktivitas dan kewajiban masker tidak lagi seketat awal.

Kebijakan ini bertahan sekitar delapan bulan. Sayangnya, berdampak pada kasus yang melonjak tajam hingga lebih dari 180 kali lipat. Karena itu, saat ini Austria, Belanda dan Jerman kembali lockdown dan wajib masker, kecuali Belgia.

Melihat kasus empat negar itu, Wiku mengingatkan pentingnya masyarakat disiplin terhadap protokol Kesehatan. Selain itu, vaksinasi bagi yang belum melaksanakannya.

“Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa vaksin tetap tidak bisa mencegah naiknya kasus jika tidak dibarengi dengan penerapan disiplin protokol kesehatan,” tegas Wiku.

Namun, upaya meningkatkan cakupan vaksinasi dosis lengkap harus terus dilakukan. Sebagai upaya perlindungan maksimal kepada minimal 70 persen populasi masyarakat.

Sementara itu, menjelang periode Nataru mendatang, dia meminta kepala daerah sudah mempersiapkan Langkah untuk mengantisipasi lonjakan kasus tersebut.

“Tren kasus secara nasional dan regional harus terus dipantau. Karena apabila trennya naik, segera ditindaklanjuti. Antar bupati dan wali kota harus saling berkoordinasi, mengingatkan dan bahu-membahu di wilayahnya mengalami kenaikan kasus,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyebutkan pelonggaran kegiatan masyarakat mesti dibarengi dengan disiplin protokol kesehatan.

“Jangan sampai kendor. Justru harus makin diperketat,” kata Edi.

Di sisi lain, Edi menyebutkan, Kota Pontianak berpotensi masuk varian baru. Terlebih sekembalinya pekerja migran Indonesia dari Malaysia, baik yang masuk melalui jalur perbatasan resmi maupun tidak resmi.

“Seperti halnya terjadi di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Australia yang kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19,” tutur Edi.

Maka itu, dia menekankan pentingnya protokol kesehatan mulai dari memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, agar dilaksanakan secara disiplin oleh masyarakat. Sehingga, pembukaan sejumlah sektor masyarakat bisa berjalan aman. (And)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: