Peneliti Sebut Aplikasi Kesehatan dan Perangkat Wearable Hanya untuk Orang Kaya, Orang Miskin?

  • Bagikan
Seorang perempuan mengenakan smartwatch saat berolahraga. [Shutterstock]
Seorang perempuan mengenakan smartwatch saat berolahraga. [Shutterstock/Suara.com]

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sebuah studi baru mengungkap bahwa alat kesehatan digital seperti aplikasi hingga perangkat wearable (smartband atau smartwatch), cenderung tidak berguna untuk orang miskin.

Teknologi ini disebut hanya efektif untuk mereka yang berpenghasilan tinggi.

Studi yang diterbitkan di International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity.

Peneliti menguji apakah fitur kesehatan digital seperti pesan teks, petunjuk berbasis web, atau pelacak langkah bisa mendorong pengguna untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka.

Hasilnya, teknologi itu nyatanya tidak efektif bagi mereka yang berstatus ekonomi rendah.

Alat kesehatan digital disebut hanya berlaku efektif untuk mereka yang memiliki penghasilan cukup baik.

Studi ini memperkuat argumen bahwa teknologi kesehatan digital justru memperlebar kesenjangan antar kelompok.

Kondisi ini membuktikan bahwa itu hanya dirancang untuk mereka yang memiliki banyak uang dan akses pendidikan, sebagaimana diungkap The Verge, dikutip Suara.com, Minggu (28/11/2021).

Peneliti beralasan, masyarakat dengan ekonomi rendah cenderung memiliki literasi kesehatan digital yang rendah pula.

Artinya, mereka masih belum mampu menggunakan teknologi tersebut untuk aktivitas kesehatannya.

Faktor lain, mereka juga tidak bisa mengoperasikan alat atau menerapkannya secara efektif.

Mereka juga tidak memiliki waktu sebanyak orang kaya untuk melakukan hal-hal fisik dengan alat kesehatan digital seperti berjalan-jalan atau olahraga.

Alat kesehatan digital memang kerap kali diklaim sebagai cara untuk mengatasi kesenjangan di bidang kesehatan.

Sebab, teknologi ini dihadirkan dalam bentuk lebih mudah dan murah.

Orang-orang pun semakin banyak untuk mendapatkan akses ke teknologi digital, baik dalam bentuk ponsel ataupun perangkat wearable.

Kemudian, peneliti menyimpulkan bahwa pelaku industri mungkin kesulitan dalam meyakinkan kegunaan alat kesehatan digital ke masyarakat berpenghasilan rendah.

Belum lagi tujuan perusahaan untuk memperkenalkan produk kesehatan digital adalah fokus keuntungan.

Artinya, fokus perusahaan seringkali ditujukan ke konsumen yang memang suka membeli produk buatannya.

Peneliti melanjutkan, jika bidang kesehatan semakin digital, seperti memanfaatkan catatan kesehatan elektronik, pelacakan pasien dari rumah, atau pemanfaatan telemedicine, maka peralihan ke teknologi bisa memperburuk kesenjangan dua kelompok tersebut.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: