Bisnis Madu yang Kian ‘Menyengat’

  • Bagikan
M. Purna Dewansyah Saputra
M. Purna Dewansyah Saputra

Jika kita telusuri dengan kata kunci ‘madu dan Covid-19’ pada laman penelusuran mesin pencari google.com misalnya, maka akan didapatkan ratusan bahkan ribuan artikel dan berita yang membahas kedua kata kunci ini.

Realitas ini menarik bila kita tarik ke sektor bisnis madu. Apalagi, bisnis yang memiliki dampak signifikan terhadap petani atau peternak madu yang yang selama ini merasa terpojok akibat tekanan harga yang tidak menentu dari hukum permintaan dan penawaran pasar.

Covid 19 dan Digital Marketing

Kesulitan dan kepedihan pelaku usaha yang diakibatkan virus ini memang terasa nyata. Efek PSBB, PPKM hingga Lockdown memberikan dampak yang perih pada volume penjualan yang berujung pada minimnya laba.

Namun, dibalik kesulitan ini pun datang kemudahan. Ini sangat pas menggambarkan perilaku konsumen saat ini. Dulu, penjualan hanya dikenal langsung, tatap muka atau bahasa kerennya sekarang offline. Tapi, hantaman pandemi membuat itu berubah. Berbelanja kini hanya andalkan smartphone dan jari saja.

Yups, era sekarang adalah layanan digitalisasi. Era teknologi informasi yang mendominasi. Ini seolah memberikan angin segar untuk meningkatkan volume penjualan dan pendapatan bagi setiap wirausaha. Terutama madu.

Faktanya, bicara madu Kalimantan Barat maka madu asal Kabupaten Kapuas Hulu jawabannya.

Madu Kapuas Hulu terkenal akan produk madu hutan yang unggul. Madu dihasilkan petani di seputaran daerah aliran sungai (DAS) Kapuas dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Bisnis madu hutan asal Kapuas Hulu, saat Covid 19 sangat potensial. Apalagi, dengan pemasaran canggih atau digital marketing bisa jadi momentum tepat bagi bisnis ini ‘menyengat’ dari sektor volume penjualan.

Keyakinan konsumen akan madu sebagai herbal yang mampu meningkatkan imunitas, harusnya memudahkan penjualan di jalur digital marketing.

Ini seyogianya bisa dimanfaatkan petani/peternak madu hutan di Kapuas Hulu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bagi mereka.

Saatnya Menyengat

Momentum Covid 19 dan digital marketing menjadi isu yang sangat sentral di masa pandemi ini. Melalui momentum ini kita mengharap peningkatan kesejahteraan bagi peternak madu hutan. Khususnya, di Kabupaten Kapuas Hulu.

Ini jadi pekerjaan rumah (PR) bagi petani. Selama ini, para peternak madu telah menjaga kemurnian dan kehigeinisan madu hutan dengan baik. Ini terbukti dengan telah tersertifikasinya produk madu hutan Kapuas Hulu pada Biocert, MUI dan BPOM.

Selajutnya, PR bagi pemerintah daerah (baik eksekutif maupun legislatif) diharapkan secara kontinyu memberikan perhatian dan pengawasan pada sektor bisnis madu ini.

Pemberian fasilitas kemudahan pinjaman modal kepada pengusaha madu, baik perorangan maupun bersifat lembaga/organisasi dirasa akan meningkatkan ‘daya sengat’ sektor ini.

Selain itu, pengawasan proaktif dan sanksi tegas kepada penjual nakal yang memalsukan/mengurangi kualitas madu hutan Kapuas Hulu harus ditingkatkan.

Jika ditemukan penjual nakal yang mengatasnamakan produk madu hutan dari Kapuas Hulu, dampak masif akan dirasakan oleh semua pihak. Terutama, para peternak yang berjuang dari nol untuk memasarkan produk ini tanpa lelah.

Oleh karena itu, peran semua pihak sangat berarti bagi keberlangsungan bisnis dan nama baik madu hutan yang dihasilkan dari Kapuas Hulu.

Penulis : M. Purna Dewansyah Saputra
Mahasiswa Magister Manajemen UNTAN
Angkatan 45

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: