Para Santri Korban Pemerkosaan Herry Wirawan Sulit Lanjutkan Sekolah

  • Bagikan
Pelaku Pemerkosa Santri
Herry Wirawan, guru agama yang diduga mencabuli 12 orang santriwati di sebuah pesantren di Bandung. (Ist)

JAKARTA, insidepontianak.com – Nasib malang dialami santriwati yang jadi korban rudupaksa Herry Wirawan yang tak lain pengasuh mereka. Usia para korban ini masih belasan tahun. Peristiwa yang mereka alami, mengguncang psokologis. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyampaikan, bahwa para santriwati korban pemerkosaan ini, mendapat kesulitan untuk mengakses pendidikannya kembali. Padahal usia mereka masih sangat muda. Mereka masih membutuhan pendidikan.

Meski demikian, Wakil Ketua LPSK Livia Istania Iskandar mengatakan, pihaknya akan terus mengusahakan agar korban dapat kembali melanjutkan sekolah, walau LPSK sendiri mendapatkan informasi ada sekolah yang menolak para korban ini.

“Karena informasi terakhir yang kami dapatkan adalah ada sekolah-sekolah yang menolak, gitu, menolak karena kurikulumnya tidak sesuai dengan kurikulum sekolah biasa dan lagi juga masalah administrasi dan sebagainya,” kata Livia dalam diskusi secara daring yang tayang Minggu (12/12/2021) sebagaimana dilansir dari Suara.com.

Livia mengaku LPSK sudah menyampaikan informasi terkait kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Informasi ini juga disampaikan kepada Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto secara daring dalam diskusi.

Di luar penolakan sekolah karena masalah kurikulum, Livia mengatakan ada juga informasi lain yang diperoleh LPSK.

“Saya dengar-dengar lagi juga karena ada berita berita bahwa mereka ini korban. Jangan sampai terus kemudian kita menghukum anak-anak yang tidak bersalah ini,” kata Livia.

Kasus pemerkosaan belasan santriwati yang dilakukan pimpinan pondok pesantren di Bandung, Herry Wirawan (36), meninggalkan trauma berat bagi para korban. Hal tersebut dilontarkan salah satu anggota keluarga korban.

Salah satu korban, yang tinggal di salah satu Desa di Kabupaten Garut, diketahui terpuruk dan tak bisa melupakan kejadian yang menimpanya sejak 2016 tersebut. Keluarga menyebut perilaku korban belakangan ini menunjukkan tanda

“Kalau ingat dia suka nangis tiba-tiba, histeris,” kata keluarga korban yang juga pengurus di desa tersebut.

Pendampingan untuk para korban, masih terus berjalan. Bahkan sebelum kasus mencuat, para korban telah mendapat pendampingan dari pemerintah, baik dari pemerintah Kabupaten Garut, Provinsi hingga pemerintah pusat.

“Dari psikolog juga sudah rutin melakukan pendampingan, ada juga dari lembaga saksi dan korban,” kata dia, dikutip dari Terkini.id–Jaringan Suara.com.

Atas perbuatan itu, penjara, terasa terlalu ringan untuk pelaku yang dianggap telah merusak masa depan belasan santriawati.

“Jangan pernah dikeluarkan dari penjara. Hukum, kurung terus di sana. Jangan dikeluarkan. Lalu dikebiri, dipotong kemaluannya biar dia tahu apa yang dirasakan anak-anak ini,” kata salah satu

Saat ini kasus tersebut telah masuk ke Pengadilan Kelas IA Bandung. Terdakwa telah menjalani persidangan atas kejahatan yang dia lakukan. Sidang akan kembali dilanjutkan pada 21 Desember mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: