Iptu Inayatun: Penyidik Perempuan yang Emban Misi hingga ke PBB

  • Bagikan
Iptu. Inayatun Nurhasanah saat misinya ke Afrika Tengah. Ist
Iptu. Inayatun Nurhasanah saat misinya ke Afrika Tengah. Ist

Bangui, Afrika Tengah 2021

Deru mobil memecah keheningan malam. Suara bising menyeruak dalam sunyi. Jalanan sempit tampak lengang. Padang ilalang tumbuh subur di kiri kanan jalan yang berkelok. Kontras dengan pekat malam hari itu. Sepi, tandus dan lapang. Seperti tak berpenghuni.

Tiba-tiba.

Arrêter,” teriak seorang pria dalam bahasa Prancis. Artinya berhenti. Senjata laras panjangnya mengacung ke arah depan. Lampu sorot di bawah dada pria itu menyilaukan mata.

Suasana tegang.

Dari arah depan, sejumlah pria berseragam keluar dari tank panser. Di lambung tank tampak tulisan UN besar berwarna hitam. Mereka juga siaga dengan AK-47 mengarah ke asal suara.

“Arrêter,” sekali lagi terdengar. Kali ini, tak hanya satu senjata tapi belasan senjata mengarah ke pasukan yang diketahui berasal dari pasukan perdamaian di bawah United Nations (UN).

Tampak perempuan ramping di sisi tank. Namanya Iptu Inayatun Nurhasanah. Dengan posisi siaga, lantas berbisik ringan di telinga pria besar di sebelahnya.

“Mereka meminta berhenti komandan,” kata wanita itu.

“Tahan,” jawab sang komandan.

Tak lama, terjadi negosiasi. Cukup alot. Usut punya usut, para pencegat merupakan tentara Bangui yang berpatroli malam itu.

Kesalahpahaman diselesaikan. Pasukan UN yang kala itu tengah mengawal utusan PBB melanjutkan perjalanan.

Kajadian ini bukan baru pertama. Inayatun menganggap hal biasa dalam tugas sebagai pasukan perdamaian di bawah kontingen Garuda di daerah misi.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: