Dihempas Kasus Anak hingga Turun Level, Mimpi KLA Pontianak Tak Tergoyang

  • Bagikan
Anak-anak Kota Pontianak Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Gebyar dan Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) – Pendidikan Masyarakat (Dikmas) . Ist
Anak-anak Kota Pontianak di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Gebyar dan Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) – Pendidikan Masyarakat (Dikmas). Ist

‘Indonesia Layak Anak Diharapkan Terwujud pada 2030’.

Itu tagline apik yang dirancang pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Miliki visi misi besar bagaimana memberikan rasa aman dan nyaman sebuah kota bagi anak-anak Indonesia.
Tak ayal, banyak program masif mendorong daerah produktif memberikan berbagai sumber daya agar realisasi Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) bisa sepenuhnya.

Tujuannya jelas. Agar goals bangsa ini bisa tercapai. Melihat seluruh daerah jadi KLA.

Faktanya, sejak tahun 2005, Kemen PPPA mulai menggalakan program tersebut hingga saat ini.

Mungkin dari kita belum banyak yang tahu pengertian Kota/Kabupaten Layak Anak itu apa dan bagaimana menyebut sebuah Kota Layak Anak?

Kota/kabupaten Layak Anak menurut Kemen PPPA adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

Singkatnya, KLA jadi tumpuan harapan bahwa setiap kabupaten/kota punya tanggung jawab melakukan pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak anak.

Ini ditegaskan dalam hasil Konvensi Anak Dunia. Di mana mencatat ada beberapa hak-hak anak yang harus dipenuhi agar sebuah wilayah jadi layak anak. Seperti :

Hak Kelangsungan Hidup, hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya.

Hak Perlindungan, perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan keterlantaran.

Hak Tumbuh Kembang, hak memperoleh pendidikan dan hak mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial.

Hak Berpartisipasi, hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak.

Indonesia pun mencoba membuat berbagai kebijakan untuk menciptakan hak anak layak dipenuhi.

Pemerintah secara aktif berkomitmen menciptakan kota/kabupaten di Indonesia layak anak. Hingga tahun 2021 ini, tercatat ada 275 daerah mendapat penghargaan kabupaten/kota layak anak (KLA) dari Kemen PPPA. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 yang penerimanya 249 wilayah.

Tercatat juga, tahun 2021 terdapat 4 kota yang mendapatkan KLA Kategori Utama. Keempat kota tersebut adalah Kota Surabaya, Kota Yogyakarta, Kota Denpasar, dan Kota Surakarta.

Di sisi lain, ada 38 kabupaten/kota meraih prediket KLA tingkat Nindya. Sementara 100 kabupaten/kota peraih kategori KLA tingkat Madya, dan 133 kabupaten/kota peraih kategori KLA tingkat Pratama.

Tingkatan tersebut berdasarkan sejauh mana 24 indikator Kota/Kabupaten Layak Anak bisa dipenuhi suatu daerah. Tak hanya, itu, akan ada tim evaluasi setiap tahun dari Kementerian PPPA, untuk mengukur sejauh mana capaian kinerja pelaksanaan 24 indikator yang telah ditetapkan.

Dari 24 indikator yang ada, ada lima kluster. Kluster kelembagaan. Kluster hak sipil dan kebebasan. Klaster lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan. Klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya dan klaster perlindungan khusus.

Nah, bagaimana di Kota Pontianak? Sejauh mana kota berpenduduk 600 ribu jiwa ini mengejar tangga KLA hingga saat ini? Muncul pertanyaan sejumlah pihak, apakah Kota Pontianak sudah layak sebagai Kota Layak Anak?

Mengejar KLA

Wali Kota Pontianak saat memberikan hadiah kepada anak-anak berprestasi Kota Pontianak. Ist
Wali Kota Pontianak saat memberikan hadiah kepada anak-anak berprestasi Kota Pontianak. Ist

Wali Kota Edi Kamtono dalam berbagai kesempatan optimis bisa menjadikan Kota Pontianak sebagai kota aman bagi anak-anak. Kota Pontianak seperti berlari untuk memenuhi segala macam kebutuhan ramah anak agar bisa disebut sebagai Kota Layak Anak.

“Semua butuh proses tapi setiap tahun kita selalu berprogres memenuhi segala yang dibutuhkan kota layak anak ini,” katanya.

Dalam catatan, Kota Pontianak pada tahun 2021 ini masih berkutat mengejar level optimal KLA. Faktanya, penghargaan Kabupaten Kota Layak Anak (KLA) memiliki 5 (lima) peringkat. Pratama, Madya, Nindya, Utama dan KLA.

Catatan Grafik KLA Kota Pontianak beberapa tahun ini. Layout Alipoy
Catatan Grafik KLA Kota Pontianak beberapa tahun ini. (Layout Alipoy)

Sebelumnya, selama dua tahun Kota Pontianak berturut-turut menyandang prediket Pratama di tahun 2011 dan tahun 2012. Sementara tahun 2013-2014, 2017 dan tahun 2018, predikat kota naik satu level menjadi kategori Madya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Pontianak Darmanelly, berujar butuh kerja keras dan upaya agar seluruh aspek KLA bisa dipenuhi. Terutama indikator dan kluster.

“Pelan-pelan kita akan terus meningkatakan status Kota Pontianak menuju target kita,” ujarnya.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: