Merawat Keberagaman dari Sepotong Batik Tulis Singkawang

  • Bagikan
Priska Yeniriatno
PEMBATIK - Priska Yeniriatno (33) pembatik di Kota Singkawang, ikut membangun kekuatan ekonomi kreatif untuk masyarakat lokal, dengan melibatkan peran pemuda. (Agus Wahyuni)

Bermula dari sepotong kain, kemudian dilukis berdasarkan identitas dari karakteristik daerah, lalu mengemasnya menjadi batik tulis, Priska Yeniriatno (33) tidak saja membangunkan kekuatan ekonomi kreatif untuk masyarakat lokal, tetapi ikut andil, bagaimana peran pemuda merawat keberagaman melalui media seni. Langkah kecil itu dimulai dari tempat tinggalnya, Kota Singkawang, sebuah kota kecil, mendapat predikat kota paling toleran se-Indonesia dari lembaga Setara Institute.

Tak banyak yang tahu jika di Kota Singkawang ada central pembuatan batik tulis.  Lokasinya menyebar di tiga penjuru, yakni di Tainam, Singkawang Timur, Sedau, Singkawang Selatan, Pasiran, dan Nyaronkop di Singkawang Barat.

Tiap penjuru adalah representasi dari keberagaman penduduk di Kota Singkawang berada. Singkawang Barat misalnya, selain menjadi jantung kota, ada banyak kampung pecinan di dalamnya. Kawasan ini menjadi ciri khas Singkawang dengan julukan Kota Amoi. Sementara di Nyarumkop adalah daerah perbukitan yang sejuk. Mayoritas warganya beretnis Dayak. Sedangkan Singkawang Selatan beretnis Melayu pesisir.

Adalah Priska  Yeniriatno (33) yang menggagas batik tulis di tiga kampung itu, di mana sebelumnya, Singkawang sama sekali tidak mengenal yang namanya tradisi membatik. Priska mengaku membangun dan mengembangkan batik tulis sama sekali tidak tanpa ada keraguan.

Keinginannya mengalir saja. Prinsipnya sederhana. Selama ia mengenalkan batik tulis di kota kelahirannya, Singkawang. Ia beranggapan, setiap nilai seni yang dihasilkan, bila itu bisa membaur dengan kultur dari masyarakat lokal, dan itu ada nilai ekonomi pemberdayaan di dalamnya,  mereka dengan tangan terbuka menerimanya.

Berangkat dari prinsip itulah, nama Priska kini tidak saja menjadi orang pertama yang mengenalkan batik tulis di Singkawang, tetapi menjadi simbol, bagaimana membangkitkan ekonomi kreatif dengan keterlibatan masyarakat lokal, melalui program pemberdayaan yang ia gagas.

Priska tidak hanya berhasil membangun Kampung Batik Singkawang, tetapi juga berhasil membangun market atau pasar tersendiri, bagaimana karya masyarakat lokal bernilai ekonomi.

Di tiga kampung itulah, Priska bersama warga lokal berkreasi, menciptakan motif-motif baru, dengan memasukkan unsur-unsur kearifan lokal di dalamnya. Misalnya  bunga betabur dan nelayan bejale jala ikan untuk motif masyarakat Melayu pesisir, burung enggang, tengkawang dan sumpit untuk motif khas Dayak dan motif naga untuk khas Tionghoa.

Tapi motif yang paling terkenal, dengan penggabungan dari nilai keberagaman adalah motif “Tiga Penjuru.” Bagaimana menggambarkan corak naga, melayu dan dayak dalam satu potongan kain.

Priska mengatakan motif tiga penjuru mempunyai arti yang menunjukkan  tiga pintu masuk ke Singkawang dan sekaligus sebagai simbol keberagaman suku mulai Melayu, Tionghoa dan Dayak.

“Menariknya untuk motif Tiga Penjuru  ini suka dibeli dari pelanggan di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta dan lainnya. Saya juga heran,” katanya, Senin (22/11/2021).

Untuk harga batik tulis yang ia produksi mulai Rp300.000 – Rp3.000.000 per helai kain. Untuk batik tulis dengan motif tiga penjuru itu adalah harga tertinggi capai Rp3.000.000. Adapun penjualan,  tersedia secara online dan offline. Tepatnya di galeri Kota Singkawang,  Gang Cisadane Kota Singkawang.

Lainnya, batik tulis karya masyarakat Singkawang ini juga kerap mengikuti pameran, baik di tingkat lokal, maupun nasional.  Dan Menariknya, setiap kali pameran, rata-rata penjualan batik khas Singkawang mencapai Rp 30-120 jutaan.  Produk batik tulis yang dipamerkan juga beragam. Mulai dari baju, selendang, sepatu, tas dan lainnya.

Belajar Batik
BEJALAR BATIK – Sekelompok warga belajar membuat batik tulis yang difasilitasi Priska Yeniriatno. Priska sendiri tidak saja membangunkan kekuatan ekonomi kreatif untuk masyarakat lokal, tetapi ikut andil, bagaimana peran pemuda merawat keberagaman melalui media seni. (Agus Wahyuni)

Jatuh Bangun

Priska lahir dan besar di Singkawang. Sebuah kota kecil di Provinsi Kalimantan Barat, dengan mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa dan selebihnya dihuni oleh etnis Melayu, Dayak dan lainnya.

Singkawang, dengan julukan Kota Seribu Kelenteng ini, dikenal dengan pariwisata bahari dan kebudayaan yang beragam. Satu di antara destinasi wisata yang sudah mendunia adalah Cap Go Meh.

Hanya saja di Kota Amoy, julukan Singkawang, sama sekali tidak mengenal dengan tradisi membatik.  Keinginan Priska memasyarakatkan membatik kepada masyarakat lokal, mendapat jalan terjal. Butuh proses yang panjang dan tenaga yang melelahkan, bagaimana mengedukasi masyarakat yang sama sekali tidak pernah membatik.

Saking ingin fokus melestarikan peradaban dengan membatik, ia bahkan rela memilih resign dari pekerjaan dan meninggalkan bisnis fashion, selama ini ia jalankan. Ia rela memilih membatik bersama masyarakat dan menciptakan market batik dari pinggiran kota.

Gerakan membatik di Singkawang mulai titik terang, begitu Priska mulai masuk kampung dengan mengajak ibu rumah tangga untuk diajak bergabung. Di sana, ia mempraktikkan bagaimana proses-proses pembuatan batik tulis itu dikerjakan.

Dimulai dengan menyediakan kain mori berwarna putih polos. Kain itu lalu  diukur lalu dipotong sesuai kebutuhan.  Selanjutnya, kain digambar menggunakan pensil untuk membuat pola motif batik yang diinginkan

Kemudian dilakukan teknik mencanting. Ada alat tulis dari tembaga kecil seperti pena untuk membuat gambar dengan menggunakan cairan malam. Proses berikutnya adalah pewarnaan. Pengerjaan pewarnaan batik tulis.

Setelah dicanting maupun dicap, kain mori dibawa ke tempat khusus pewarnaan. Di tempat khusus ini, ada banyak sekali serbuk warna. Proses pewarnaan dilakukan dengan cara celup hingga seluruh bagian kain yang diinginkan terendam warna yang dikehendaki.

Tahapan berikutnya adalah disorot untuk menghilangkan malam yang melekat pada batik. Caranya dengan mencelupkan batik pada air panas agar seluruh lapisan malam luruh. Walhasil, akan tampak corak batik yang diinginkan.

“Jika ulet dan tekun, belajar membuat batik tulis bisa seminggu sudah mahir,” kata Priska.

Batik Tulis
BATIK TULIS – Batik tulis karya Yeniariatno. (Agus Wahyuni)

Berbeda ketika Priska pertama belajar batik tulis. Ilmu seni membatik itu ia peroleh pada saat berada di  Yogyakarta.  Tepatnya saat ia sedang studi di kampus Atmajaya, jurusan Akuntansi dan membatik  belajar dari eyang angkat di Yogyakarta.

“Waktu kuliah saya menjadi pembantu. Tempat orang berada. Kebetulan di rumah itu, eyang angkat  buka usaha membatik. Saya belajar dari mereka,” katanya.

Proses belajar membuat batik tidak instan seperti sekarang.  Ia justru mendapat pendidikan membatik teknik menahan sabar. Cara itu diterapkan oleh Eyang angkatnya.

“Satu bulan saya hanya belajar membatik dengan garis lurus. Bulan berikutnya garis vertikal, horizontal, begitu seterusnya, sampai jadi motif. Bila dihitung bisa satu tahunan bisa membuat motif,” katanya.

Kini, selain mengajarkan para ibu rumah tangga bisa membatik, Priska kerap mengisi waktu luang, dengan mengajarkan hal yang sama kepada komunitas lainnya. Mulai dari kalangan milenial, pemerintahan dan komunitas lainnya.

Pada Minggu (26/12/2021) siang misalnya, Priska dengan kaos putih  polos, tampak bersemangat mengajarkan cara membatik kepada pengurus Credit Union (CU) Bonaventura Singkawang.

Ini adalah lembaga koperasi simpan pinjam. Konsep pengembangan adalah gerakan yang dirintis oleh Pastor Karl Albrectht Karim, SJ (almarhum). Bibit-bibit Credit Union yang ditabur, berkembang dan mengalami inkultarasi sesuai budaya Kalimantan  menjadi  CU khas Kalimantan.

“Mereka sedang membuat batik khas mereka. Motif sumpit kata Priska. Nantinya dari karya mereka akan dibuat baju seragam,” tambahnya.

Bagi Priska, sepotong kain bila ditekuni dengan serius, bisa menjadi media pemersatu Indonesia tanpa mengenal ras, suku, dan agama. Apalagi, bila dilihat beberapa tahun belakangan, batik kini sudah menjadi pakaian rakyat. Batik yang awalnya adalah pakaian kaum ningrat, kini menjadi pakaian sehari-hari. Jika dulu batik cuma dipakai saat acara tertentu seperti kondangan, saat ini sangat mudah menjumpai batik kapan dan di mana pun.

Market-market inilah yang ingin diciptakan dari Priska dan masyarakat lokal, bagaimana mengenalkan karya seni membatik, dengan motif khas daerah bisa diterima oleh masyarakat luas. Karena setiap desain motif  selalu ada pesan yang ingin disampaikan.  (Agus Wahyuni)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: