Sabtu, Februari 24, 2024
BerandaGaya HidupPuisi Chairil Anwar Bikin Lukman Sardi Terpuruk: Saya Hidup Untuk Apa?

Puisi Chairil Anwar Bikin Lukman Sardi Terpuruk: Saya Hidup Untuk Apa?

MEDAN, insidepontianak.com – Aktor Lukman Sardi mengalami perasaan tak menentu ketika membaca karya Chairil Anwar. Padahal, ‘Derai-Derai Cemara’ adalah puisi yang selama ini tidak begitu familiar baginya.

Ya, Lukman Sardi adalah satu dari tujuh aktor yang pilih membacakan karya Chairil Anwar dalam proyek antologi video puisi ‘Aku, Chairil’ garapan Mira Lesmana dan Riri Riza.

Dalam video tersebut, Lukman Sardi membacakan puisi ‘Dera-Derai Cemara’ karya Chairil Anwar. Sementara untuk video pada puisi itu merupakan karya Ria Papermoon.

“Puisi ini tuh, tidak begitu familiar bagiku untuk karya-karya Chairil Anwar, tapi begitu kubaca, aku merasakan sesuatu yang dalam,” aku Lukman Sardi di Instagram Story-nya, @lukmansrd, dikutip pada Sabtu (29/4/2023).

Dalam postingan itu, tergambar suasana peluncuran serial antalogi seni video ‘Aku, Chairil!’ yang diluncurkan Miles Films pada Jumat (28/4/2023), tepat tanggal kematian Chairil Anwar.

Dan, Lukman Sardi yang hadir didaulat untuk menceritakan prosesnya. Dia pun bercerita soal proses yang cukup panjang untuk berusaha menghafalkan puisi tersebut.

“Saya begitu baca ‘Derai-Derai Cemara’ tuh wah itu jadi menjadi favorit saya. Meski gak hafal semuanya sampai sekarang, prosesnya cukup panjang. Tapi semua rasa saat membacakan puisi masih saya rasakan sampai sekarang,” ungkap Lukman Sardi.

Cerita pemain film ‘Sang Pencerah’ itu, dia merasakan bagaimana rasanya terpuruk dan hancur dimana bulir-bulir air mata sudah hampir menetes di pipi. Tapi di balik itu, seolah ada kekuatan yang entah darimana datangnya, mendorong agar tetap optimistis.

“Saya merasakan terpuruk. Ada rasa ingin menangis tetapi di balik itu ada rasa optimisme, entah bisa dicapai atau enggak. Itu yang saya rasakan. Saya belum pernah menemukan seperti itu,” sambungnya.

Bahkan, ketika membacakannya, Lukman Sardi menyadari bahwa hidup adalah untuk terus berjuang dan bertahan sampai pada titik dimana nantinya sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi.

Nah, sebelum sampai di titik itu, terus berjuang dan memberikan yang terbaik adalah satu-satunya pilihan dalam hidup. “Terus saya mikir saya hidup untuk apa? Survive, kasih yang terbaik, menang, jadi sesuatu pilihan sampai disaat titik tertentu kita sebagai manusia gak bisa apa-apa,” tuturnya.

Sebagai informasi, selain Lukman Sardi ada enam aktor yang membacakan puisi karya Chairil Anwar. Mereka adalah Jerome Kurnia untuk puisi ‘Sajak Putih’, puisi ‘Pemberian Tahu’ dibacakan Christine Hakim, dan ‘Kesabaran’ oleh Reza Rahadian.

Lalu puisi ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ dibacakan Nicholas Saputra, ‘Kepada Kawan’ oleh Ine Febriyanti dan Lukman Sardi, serta puisi ‘1943’ oleh Happy Salma. Dan, semuanya dapat ditonton di Indonesiana TV. (Adelina)***

Abdul Halikurrahman
Abdul Halikurrahmanhttps://insidepontianak.com/redaksi/
Koordinator Liputan Insidepontianak.com
RELATED ARTICLES

Berita Populer