Minggu, Maret 3, 2024
BerandaSosokMardiansyah Herman: Pelari Tercepat Dayak yang Jadi Ketua KONI Bengkayang  

Mardiansyah Herman: Pelari Tercepat Dayak yang Jadi Ketua KONI Bengkayang  

Panas terik dan lintasan berdebu. Siang itu, cuaca tak bersahabat. Tapi tak jadi soal bagi satu sosok satu ini. Berdiri dengan ancang-ancang siaga, siap melesat jauh. Penuh percaya diri dan haus juara.  

 Peluit berbunyi, sosok tak teralu tinggi itu melesat membawa tongkat estafet di tangan kanannya. Ia berlari kencang.  Mata kucingnya tertuju ke depan. Finish, fokusnya. 

 Dialah Mardiansyah Herman. Pelari sprinter 100 meter tercepat yang dimiliki Kalbar dalam ajang atletik. Ia jadi satu dau sekian atlet kebanggaan Kalbar asal Kabupaten Bengkayang. Banyak juara dengan seabrek prestasi lokal hingga nasional.

Masa Kecil

Mardiansyah Herman, Lahir di Dusun Sempayok, Desa Belimbing, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang. Ia lahir pada tanggal 20 Maret 1988.

Masa kecil Herman bersekolah di SD 04 Sempayok, Kecamatan Ledo. Yang dulunya Ledo masih berada pada Kabupaten Sambas, dan masih belum pemekaran wilayah.

Dirinya berasal dari anak petani, di daerah Ledo. Ayahnya bernama Asan, dan ibunya bernama Juana.

Ia empat bersaudara. Ayahnya bercocok tanam dan berkebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Saat di bangku sekolah. Ketika ia masih kelas 2 SD. Herman melihat ada kejuaran Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat sekolah SD di Kabupaten Sambas.

Melihat kakak kelasnya ikut lomba, ia termotivasi seperti mereka dan ingin  menjadi juara atletik pada ajang Porseni tersebut.

Kecintaannya akan olahraga atletik sejak di bangku sekoah dasar tak lepas dari sosok idolanya. Purnomo. Atlet lari 200 meter dan lompat jauh terbaik Indonesia.

“Waktu itu saya di perpustakaan untuk membaca buku. Tak sengaja saya menjumpai buku tentang tokoh dan sosok olahraga atletik pada saat itu. Saya tak akan lupa, bahwa Purnomo jadi lecutan saya untuk ikut lomba lari,” paparnya,

Sejak saat ini, Purnomo jadi role model (teladan) Herman dalam meraih cita-citanya.

Kerja Keras

Berangkat dari kemauan dan tekadnya tersebut. Ia mulai menunjukkan itu lewat kerja keras. Untuk mengasah pola larinya, perjalanan dari tempat tinggalnya di Desa Sempayok dan sekolah yang cukup jauh, ia manfaatkan dengan berlari. Hampir dua kilometer.

Tak ayal saat sampai ke sekolah, tubuh Heran bermandikan keringat. Ia ingat, saat masuk kelas, dari rambut, kening, hingga seragam sekolahnya basah keringat dan sempat jadi lelucon di kelasnya.

“Kaya orang gila kamu Herman. Setiap hari pakaian basah, penuh peluh. Bau dan penuh tahi lalat pakaianmu,” ucap Herman menirukan ucapan teman-temannya.

Mardiansyah Herman saat bertanding mewakili Kabupaten Bengkayang/pribadi
Mardiansyah Herman saat bertanding mewakili Kabupaten Bengkayang/pribadi

Dibenaknya, ia ingin selalu tampil dalam kompetisi dan menjadi sang juara. Namun, tak jarang akibat peluh yang terus membahasi seragamnya. Ocehan dan olokan teman-teman sejawatnya, terus menghujani kedua kupingnya itu.

Tapi, tak menyulutkan semangat Herman dalam berlatih. Pergi awal dan pulang paling cepat dengan kuda-kuda siaga berlari selalu ia tunjukan kepada sekelilingnya.

Meski, selalu diejek. Guru olahraganya saat itu, Pak Martinus selalu memotivasinya. Guru ‘baik’ nya itu kerap mendorongnya berlatih disiplin agar dapat mengikuti kompetisi Porseni tingkat sekolah.

“Kamu punya bakat, larimu cepat. Nanti saya bimbing,” begitu kata guru olahraga Herman berpesan kepadanya.

Kelas 3 SD, ia pun tampil di ajang Porseni. Tapi, apa daya Porseni ditunda tanpa alasan jelas.

Herman kecewa dan gundah. Ia sudah mempersiapkan jauh hari untuk ikut dalam kompetisi itu. Meski gagal, guru dan orangtuanya menasehati Herman akan banyak kejuaraan lain yang bisa ia ikuti.

Baru, ia bisa lega dan makin fokus pada keinginanya itu. Apalagi, Herman masih muda. Ajang kompetisi masih banyak di waktu berikutnya.

Baru, setahun berikutnya. Kelas 4 SD. Herman kembali mengikuti ajang Porseni yang lama ditunggu.

Alhasil, lari sprint 100 meter ia taklukan dan menjadi yang terbaik. Tak hanya itu, lompat jauh juga menjadi yang terbaik tempo itu.

Para penonton dan juri  terkejut. Anak kelas 4 SD yang biasa itu mampu lompat mencapai hingga 4 meter.

“Waktu itu dipikiran saya hanya juara, terus berlari dan melompat sejauh-jauhnya,” ucap Herman mengenang.

Mulailah, aliran prestasi mengalir. Hingga ia duduk di kelas 6 SD, beberapa ajang perlombaan diikutinya dengan menoreh juara terbaik.

Bahkan, saat SD itu, Herman sudah merambah tingkat provinsi mewakili Sambas pada ajang Porseni atletik tingkat SD se-kalimantan Barat. Hasilnya bisa ditebak, ia menjadi yang terbaik.

Mulai Disiplin

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tarsisia Bengkayang menjadi pilihan Herman melanjutkan sekolah berikutnya.

Ketika itu, orang tuanya memasukannya ke dalam asrama. Kehidupannya mulai berubah. Segala peraturan di tempat barunya tersebut, mesti ia taati.

Herman yang telah terbiasa dengan hidup sederhana dan disiplin waktu pun tak begitu sulit dalam beradaptasi. Hari demi hari ia lalui dan lewati.

Ia bersyukur kedua orangtuanya memasukkannya ke dalam asrama.

“Saya bersyukur, pola hidup saya teratur dan disiplin di dalam asrama,” ucapnya.

Herman menyampaikan. Di dalam asrama ia belajar hidup disiplin dan mandiri, serta dapat survive dengan keuangan yang minim.

“Waktu belajar, istirahat, olahraga dapat dimanajemen dengan baik,” katanya.

Sampailah di suatu moment, ketika ia ingin mengikuti Pekan Olahraga lintas Bengkayang (Porlisbeng). Herman makin berlatih keras. Ada moment saking lompatan jauh, ia melewati bak batas lompatan. Sehingga melanggar pagar pembatas.

“Saya pun direhap,” ucapnya tertawa saat mengingat kejadian itu.

Prestasi tingkat remaja ia raih tanpa kesulitan. Padahal, diikuti atlet SMA dan lebih dewasa. Tapi, ia berhasil menyabet juara.

Masih SMP, Herman lantas mengikuti seleksi porda tahun 2002. Ia mewakili Kabupaten Bengkayang. Itu, adalah ajang besar pertama kali Kabupaten Bengkayang ikut serta pada Pekan Olahraga Daerah (Porda). Ada 200 kontingen dari Kabupaten Bengkayang yang ikut dari semua cabang olahraga.

Namun meski pertama kali. Dirinya berhasil menyabet juara pertama lompat jauh, dengan jarak lompatan 6 meter lebih. Lawannya tak tanggung-tanggung, mereka para atlet yang biasa mengikuti turnamen tingkat Nasional.

Tapi, sekali lagi bukan Herman namanya jika tak tertantang. Meski tak juara pertama, ia mampu jadi juara ketiga di ajang itu.

Sempat Terpuruk

Setelah lulus SMP, Herman masuk SMA Borneo Bengkayang. Karena berprestasi ia mendapatkan beasiswa gratis masuk ke sekolah itu.

Ia masih ingat, Suryaman Gidot jadi kepala sekolah di SMA Borneo, sebelum menjadi bupati.

Saat itu, ia harus bersiap mengikuti pekan olahraga daerah (Porda) tahun 2006. Namun nahas, Herman jatuh sakit. Ia divonis komplikasi.

Cukup berat bagi Herman yang masih duduk di bangku sekolah. Kala itu, Herman masih remaja, belum lulus sekolah.

Beberapa bulan tak masuk sekolah. Ia masuk Rumah Sakit Bengkayang. Di perjalanan sakit itu pula. Ia sempat akan dipindahkan ke Rumah Sakit Antonius akibat sakitnya berat yang dideritanya.

Herman pun banyak mendapatkan suport dan doa dari teman-temannnya serta orang sekitar, untuk dapat semangat melawan penyakit yang ia derita.

Kejuaraan Porda tahun 2006 gagal ia ikuti.  Padahal sudah dipersiapkan untuk bertanding jauh-jauh hari.

Tak sampai di situ, ujian terus menimpanya. Setelah pemulihan dari sakit. Di tahun 2007, ketika kelas tiga SMA, akibat sakit, belajar tak maksimal. Sehingga ia tak lulus SMA saat itu.

“Saya merasa malu. Tertekan, dan tak percaya diri. Saya siswa berprestasi malu rasanya tak lulus sekolah,” ucapnya sedih.

Herman mengungkapkan ada rasa penyesalan yang mendalam dirasakannya. Akan tetapi support dan motivasi.

Ia bangkit kembali, ke sekolah lagi. Sehingga di tahun berikutnya, ia berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.

Mulai Bangkit

Menginjak bangku kuliah, Herman dapat tawaran beasiswa prestasi dari Universitas Tanjungpura, yaitu beasiswa PMDK. Tetapi, orang tuanya melarang untuk kuliah. Biaya mahal jadi penyebabnya. Melihat perekonomian ayahnya yang tak stabil dan hanya andalkan hasil kebun.

“Saya sempat nangis dan sedih kesempatan kuliah gagal. Padahal ada beasiswa. Teman-teman pada kuliah. Sedangkan saya mesti menunggu tahun depan sembari mengumpulkan uang,” ucapnya sedih.

Tetapi rencana Tuhan berbeda. Tiba-tiba pelatih dari Pontianak yang memantau bakatnya sebagai atlet sprint dan lompat jauh mencari dan menghubungi sekolahnya. Herman disarankan untuk pergi ke Pontianak.

Tak hanya itu, pelatih mendaftarkan ia kuliah dengan langsung menghadap Rektor Untan.

“Kamu harus kuliah dan saya yang akan melatih kamu ke depannya,”pesan pelatih tersebut kepada Herman.

Herman pun akhirnya kuliah di Untan. Dan masuk pada program studi Penjaskes. Pada saat itu, dirinya banyak mendapatkan beasiswa.

Baik beasiswa kurang mampu dan beasiswa prestasi dan beasiswa lainnya. Tanpa biaya dari orang tua.

Ia mampu mencukupi kebutuhan harian semasa kuliah. Hingga  saat itu ia juga sambil kerja.

Berselang satu tahun lebih perkuliahan. Dirinya tempatkan di mess atlet Kalbar di Untan secara gratis. Penginapan dan makan serta diberi uang saku.

Hal itu merupakan  program Pusat Pelatihan Mahasiswa Prestasi (PPMP) dari Kemenpora yang ia dapatkan karena prestasi yang ia toreh semasa kuliah. Katanya jatah tersebut pun tak banyak, hanya 10 orang terpilih.

Saat kuliah, beberapa turnamen mulai dari tingkat kelas hingga tingkat universitas, berhasil ia taklukan. Uang bonus dan hadiah, ia kumpulkan untuk membeli sepeda motor sebagai transportasi untuk kuliah.

“Alhamdulillah dari hasil bonus dan hadiah, saya dapat membeli sepeda motor untuk transportasi,” timpalnya.

Di tahun 2008, dia sudah menjadi atlet Kalbar dan menjadi juara Kalbar lari 100 meter dan lompat jauh, selalu ia sabet. Lompatan Herman waktu itu berkisar 6,80 M dan lari seratus meter sudah mencapai  rekor 10,80 detik.

Dari hasil rekor tersebut dirinya jadi satu-satunya atlet yang berasal dari suku Dayak yang mampu memecahkan rekor lari 100 Meter dengan waktu terbaik 10,80 detik.

Katanya, selama ini para atlet lahir dari wilayah kota, dan para pelatih kaget, daerah hulu dapat menorehkan prestasi gemilang.

Kemudian di tahun itu pula, ia ikut Kejuaraan Nasional Atletik. Sempat gugup dan pertama kali naik pesawat.

Ia tak menyangka bisa berkompetisi pada turnamen tersebut. Ia berjejer dan bersanding dengan para atlet nasional yang telah melalang buana pada turnamen mancanegara dan internasional, seperti PON, Asian Games, dan Seagames.

Pada saat itu ia mampu memecahkan rekor baru. Selama 20 tahun terakhir, para atlet Kalbar belum pernah tembus semifinal pada Kejuaraan Nasional Atletik.

Namun, dirinya berhasil menembus semifinal atlet sprinter 100 meter  bersaing dengan pelari Top Asia. Salah satunya Suryo Agung dan Jon Murai.

“Saya hanya lolos semifinal pada saat itu. Dan telah memecahkan rekor baru khususnya di Kalbar,” ucapnya.

Kejuaraan itu adalah untuk melihat perkembangan atletik di seluruh Indonesia, yang menjadi terbaik dapat masuk ke Pelatnas.

Salah satu motivasi yang ia ingat ketika rekan senior memberikan sepatu kepadanya. Itu bentuk apresiasi. Siapa tahu saat memakai sepatu itu, bisa melecut semangat rekan seniornya itu.

Paling Berkesan

Herman berlatihan terus dan mengikuti beberapa turnamen di tingkat mahasiswa dan universitas. Satu ketika ia di panggil untuk seleksi Sea Games. Ia berhasil tembus, meski jadi tim cadangan. Pesaing saat itu cukup banyak.

Untuk memecahkan rekor lari 100 meter setiap harinya ia terus latihan. Di tahun 2010, pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ia pernah ditawarkan membela kabupaten lain, dengan iming-iming diberikan bonus yang menjanjikan.

Puluhan juta apabila menang dan memecahkan rekor. Namun ia tolak, karena dirinya ingin membanggakan Kabupaten Bengkayang.

Alhasil ia juara dengan rekor baru lari 100 meter dengan tempuh 10,78 detik. Rasa haru, bangga dan senang jadi satu.

Usaha keras yang ia lakukan selama ini tak menghianati hasilnya. Hingga sampai lulus kuliah beberapa turnamen tingkat Kalbar berhasil diraihnya dengan hasil yang terbaik.

Jadi Ketua KONI Bengkayang

Herman menikah di tahun 2018. Istrinya bernama Yuni Betria, asal Kecamatan Suti Semarang. Saat ini ia bersama istrinya sudah mempunyai dua anak.

Meski berprestasi dibidang olahraga, ilmu pengetahuan umum juga harus belajar. Hal itu ia lakukan demikian dibangku kuliah. Karena menurutnya, ilmu umum lainnya teramat penting.

Mardiansyah Herman saat menjadi Ketua KONI Bengkayang/pribadi
Mardiansyah Herman saat menjadi Ketua KONI Bengkayang/pribadi

“Kalau berprestasi olahraga tanpa pendidikan yang cukup akan susah kedepannya. Seperti atlet-atlet yang sudah kita ketahui. Banyak yang menganggur setelah masa jayanya sebagai atlet,” terangnya.

Setelah selesai kuliah, ia pulang ke tempat asalnya. Sembari mengimplementasikan ilmunya dan melatih siswa pelajar dalam berolahraga atletik.

Di tahun 2013, Ia juga dipanggil untuk membantu kepengurusan KONI Bengkayang waktu itu.

Hari demi hari berlalu. Mengajar dan aktif di kepengurusan KONI ia lalui, mulai dari staf hingga sekretaris.

“Saat itu saya belajar bagaimana membangun dan menjalankan roda organisasi,” katanya.

Hingga di tahun 2020, dirinya menjabat sebagai Ketua KONI, melanjutkan kepengurusan sebelumnya.

Herman mulai membenahi KONI. Pembenahan di dalam, baik kepengurusan yang kurang berjalan, maupun mengaktifkan kembali cabor olahraga yang telah lama vakum dan tak berkembang.

Kini, Kabupaten Bengkayang bisa berbangga.  Dari hanya 12 cabang olahraga (cabor) yang aktif semasa kepengurusan Herman bertambah jadi 28 cabor.

Dalam kiprahnya hingga Herman jadi Ketua KONI, asanya ingin kader muda bisa mengikuti jejak pendahulunya.

Membuat generasi muda unggul adalah bagian tugas Herman. Tujuannya, menciptakan sistem perekrutan atlet yang mumpuni.

Pesan untuk generasi muda, jangan pernah takut mencoba. Jangan karena berbagai keterbatasan, mimpi pun pupus. Teruslah berusaha dengan kemampuan sekecil apapun yang dimiliki.

Berlatih, disiplin, tekad dan kerja keras adalah modal dasar untuk jadi atlet unggul. Ia yakin, usaha tak akan menghianati hasil. Perjuangan tak akan sia-sia. Selama mau, dan mau berusaha, apapun rintangannya bisa diatasi.

Tak ada kesulitan yang tak bisa ditanggung, tak ada asa yang tak bisa diraih. Begitu juga mimpi dan harapan. Teruslah bermimpi tanpa putus harapan.(Baruna). ***

 

 

RELATED ARTICLES

Berita Populer