Sabtu, Februari 24, 2024
BerandaLingkunganPeringati Hari Mangrove, LPHD-SAMPAN-PT BSM Kolaborasi Tanam Mangrove di Desa Dabung Kubu...

Peringati Hari Mangrove, LPHD-SAMPAN-PT BSM Kolaborasi Tanam Mangrove di Desa Dabung Kubu Raya

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Perayaan Hari Mangrove se-Dunia digelar Lembaga Pengelola Hutan Desa se-Kubu Raya, di Desa Dabung, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (26/7/2024).

Adapun kegiatannya yaitu, penanaman mangrove di Pantai Desa Dabung, melibatkan unsur masyarakat dan para aktivis lingkungan.

Penanaman mangrove ini merupakan program kolaborasi antara SAMPAN Kalimantan Barat, LPHD Kubu Raya, dan PT Belantara Sejahtera Mandiri atau PT BSM.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga didukung pihak UPT KPH Unit XXXIII Wilayah Kubu Raya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau DLHK Kalbar.

Peringatan Hari Mangrove se-Dunia yang digelar di Desa Dabung ini bertajuk: Mangrove Bagus Kita Jaga, Yang Rusak Kita Pulihkan.

Kepala UPT KPH Unit XXXIII Wilayah Kubu Raya DLHK Kalbar, Ya’ Suharnoto menyampaikan, ekosistem mangrove sangat penting untuk dilestarikan.

Sebab, fungsinya untuk menjaga keselarasan lingkungan bumi dan telah menjadi program penting dari Indonesia’s Forestry and Other Land Use (Folu) Net Sink 2030 .

Karena itu, ia mengapresiasi kegiatan penanaman mangrove sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Mangrove se-Dunia, di Desa Dabung hari ini.

”Kerja sama dan sinergi banyak pihak begini sangat bagus untuk menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya,” katanya.

Ia mengungkapkan, hutan mangrove yang terhampar luas di pesisir Kubu Raya, mencapai 16 persen dari luas wilayah kabupaten ini.

Di dalam hutan mangrove tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Mangrove Kubu Raya berdasarkan identifikasi biodiversity mengrove, memiliki aneka organisme atau biota yang sangat besar.

Bahkan, tercatat 67 spesies flora bakau, dengan rincian 33 mangrove sejati dan 34 mangrove asosiasi yang tumbuh secara alami.

Mangrove asosiasi merupakan tumbuhan yang dapat beradaptasi dan memberikan toleransi terhadap faktor lingkungan yang secara ekologis di kawasan pesisir.

Sedangkan mangrove sejati merupakan jenis tanaman yang hidup di daerah pasang surut dan mampu menyerap zat garam, sekaligus memiliki sistem adaptasi mengeluarkan kelebihan zat garam yang tidak dibutuhkan melalui batang dan daunnya.

Adapun mangrove sejati di Kubu Raya mewakili 76,7 persen dari total mangrove sejati di Indonesia dan atau mewakili 55 persen spesies mangrove sejati global.

Ekosistem mangrove Kubu Raya berdasarkan tutupannya juga dinilai masih sangat terjaga. Bahkan, 80 persen masih dalam keadaan baik.

“Dan 20 persen mengalami kerusakan baik disebabkan ulah manusia maupun faktor alam sehingga patut untuk kita pulihkan atau rehabilitasi,” ucap Ya’ Suharnoto

Penanaman mangrove di desa Dabong yang menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Mangrove se-Dunia ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memulihkan 20 persen hutan mangrove yang mengalami kerusakan tersebut.

Ketua LPHD Dabong, Ridwanto menyampaikan, total mangrove yang akan ditanam oleh pihaknya tahun ini sekitar 10.000 bibit.

Kegiatan penanaman itu di bagi dalam 4 tahap. Sekarang ini tahap ketiga, di mana strategi penanaman dari wilayah terbuka dalam hutan desa, bergerak menuju area perairan.

”Total luas hutan Desa Dabong hampir 3.000 hektar di mana luasan mangrove mencapai 2.500 hektar,” kata Ridwanto.

Dia meyakini, penanaman mangrove ini perlahan bisa memulihkan kerusahaan yang telah terjadi. Pulihnya Mangrove dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat khususnya nelayan.

Koordinator Pendamping Desa Kubu dari Perkumpulan SAMPAN Kalimantan, Agnes Milinia, mebambahkan, kegiatan penanaman mangrove ini bisa mengatasi persoalan kerusakan lingkungan. Yang penting, gerakannya konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, dampak kerusakaan hutan mangrove di beberapa wilayah di Kubu Raya, telah mengancam empat jenis flora punah berdasarkan kajian dari pihak iucnredlist.org.

Empat jenis flora yang terancam punai itu di antaranya, berus mata buaya (bruguiera hainesii), dungun (heritieria globosa), gedabu (sonneratia ovata), dan terumtum (aegiceras floridum).

Berus mata buaya, menurut data iucnredlist.org, hanya tercatat sebanyak 203 pohon tersisa di seluruh dunia. Selain itu, dalam ekosistem mangrove Kubu Raya terdapat spesies satwa langka seperti Nasalis Larvatus (Bekantan/Kera Hidung Besar) dan Irrawaddy Dolphin (Ikan Pesut).

Pimpinan PT Belantara Sejahtera Mandiri, Johnny Kurniawan memandang bahwa hutan mangrove memiliki nilai ekologi, nilai ekonomi, dan nilai sosial yang sangat tinggi.

Mangrove menjadi sumber pangan, mata pencaharian bagi masyarakat lokal. Selain itu, Hutan mangrove memiliki potensi besar dalam mitigasi perubahan iklim dengan kapasitasnya yang besar, dalam menyimpan karbon.

Dengan begitu, mangrove Kubu Raya dapat berkontribusi besar terhadap masyarakat dunia dalam menghadapi ancaman krisis iklim.

Karenanya mangrove yang bagus perlu dijaga, yang rusak dipulihkan kembali. Itu sebabnya, PT BSM (TAPG) berkomitmen mendukung menjaga dan memulihkan mangrove Kubu Raya lewat program kerja sama melibatkan 20 Lembaga Pengelola Hutan Desa se-Kubu Raya.***

Abdul Halikurrahman
Abdul Halikurrahmanhttps://insidepontianak.com/redaksi/
Koordinator Liputan Insidepontianak.com
RELATED ARTICLES

Berita Populer