Selasa, Maret 5, 2024
BerandaLingkunganOrang Rimba dan Kelangkaan Pangan (Bagian III)

Orang Rimba dan Kelangkaan Pangan (Bagian III)

Perubahan lingkungan dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga turut mempengaruhi pasokan pangan Orang Rimba. Termasuk Orang Rimba yang masih tinggal di daerah yang berhutan. Sebagai contoh Orang Rimba yang tinggal di wilayah Sungai Terap, yang secara administratif masuk ke wilayah Desa Jelutih Kecamatan Bathin XXIV Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. 

Tumenggung Nyenong menceritakan jika dahulu, madu adalah bahan pangan sekaligus sumber ekonomi Orang Rimba.

Dulu setiap tahun, kala musim tamanam hutan berbunga, pohon-pohon sialang (pohon tempat lebah hinggap dan bersarang) dipenuhi oleh sarang-sarang lebah yang menyimpan madu yang dalam bahasa rimba di sebut babing.

“Zaman tekelah bambing rapa yoya benyok pado sialong-sialong di dalam rimba. Namun kini la hopi lagi, la jerong sialong kini ado rapanye (pada waktu dulu banyak babing lebah di pohon sialang dalam rimba. Namun kini sudah jarang pohon sialang ada madunya),” kata Nyenong.

Menurut Nyenong hilangnya lebah di hutan disebabkan musim bunga tidak lagi sama. Hujan panas yang tidak lagi menurut musimnya telah menyebabkan bunga-bunga kayu juga tidak lagi banyak.

“Iyoi karena bunga-bunga di rimba kini la piado lagi jadi rapa jugo pindok kesanoi. Piado makononnye (ini karena bunga di rimba sudah tidak ada, jadi lebah juga tidak ada lagi di sana,” kata Nyenong.

Sedikitnya bunga di hutan, tidak hanya menghilangkan madu, namun juga kehilangan musim buah. Biasanya Orang Rimba akan berpesta kala musim buah tiba, namun beberapa waktu belakangan ini musim buah sudah semakin jarang, tetap ada yang berbuah namun tidak lagi lebat sebagaimana dulu.

Tidak hanya itu, kondisi sungai juga makin surut. Sungai Jelutih salah satunya, dulu cukup lebar sekitar 2 meter dan dalam, sedada orang dewasa. Kini airnya tinggal sedikit dan semakin dangkal.

“Aik sungai jugo kini la makin kecik dan hopi lagi delom. Jadi ikan-ikan yoya habis hilang. Nakop kini la jerong bulih (Ai sungai juga sudah semakin kecil dan tidak lagi dalam. Jadi ikan-ikan di sungai juga hilang. Menagkap ikan di sungai kini sudah sangat jarang dapat,”kata Warai (30) istri Tumenggung Ngelembo.

Dengan semakin sulitnya ikan di sungai, para perempuan rimba terpaksa untuk memakan hewan air lainnya seperti katak dan siput.

Kondisi sulit yang dialami suku-suku di pedalaman ini, ditengarai sebagai dampak perubahan iklim. Ibaratnya kini, suku ini dua kali mengalami kesulitan.

Pertama, ketika hutannya hilang kini mereka terkena dampak ikutan perubahan iklim yang disebabkan oleh hilangnya hutan.

Secara global komitmen untuk mencegah perubahan iklim harus terus dilakukan dan mulai melakukan tahap implementasi.

Indonesia turut berkomitmen untuk berperan aktif dalam pengendalian perubahan iklim dengan target menurunkan emisi sebagai penyebab perubahan iklim.

“Kondisi Orang Rimba yang sudah terdampak perubahan iklim ini, harusnya mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan,” kata Sukmareni Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi.

Disebutkannya, dukungan yang paling tepat untuk Orang Rimba saat ini adalah dalam bentuk pengakuan hak dan ruang penghidupan.

“Orang Rimba belum mampu untuk bersaing langsung dengan kelompok masyarakat lainnya, hal ini disebabkan karena lemahnya keberadaan Orang Rimba dalam segi politik, sosial dan ekonomi,” kata Reni.

Untuk itu menurutnya Orang Rimba perlu perlakuan khusus dengan mengalokasikan lahan yang memadai untuk sumber penghidupan.

“Bagi mereka yang tidak lagi punya hutan dan tinggal dalam kondisi tidak layak, seharusnya mereka mendapatkan bantuan, baik dalam penyediaan sarana dan prasarana penunjang kehidupan, maupun layanan untuk mengembangkan kapasitas dan potensi diri,” kata Reni.

Ketika Orang Rimba sudah punya sumber penghidupan yang layak, barulah bisa dilakukan edukasi untuk edukasi hidup bersih dan sehat, guna peningkatan kesehatan Orang Rimba.

Ketika sumber ekonomi masih belum mampu untuk dipenuhi secara baik, maka faktor untuk mendorong hidup bersih dan sehat juga masih belum bisa dicapai dengan baik.

“Untuk itu pengakuan ruang hidup dan adanya sumber kehidupan yang bisa diakses orang rimba adalah suatu keharusan yang penting untuk dilakukan,” kata Reni. (ril)***

Abdul Halikurrahman
Abdul Halikurrahmanhttps://insidepontianak.com/redaksi/
Koordinator Liputan Insidepontianak.com
RELATED ARTICLES

Berita Populer