Sabtu, Februari 24, 2024
BerandaLingkunganPerdangangan Satwa Liar di Kalbar Masih Marak

Perdangangan Satwa Liar di Kalbar Masih Marak

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kejahatan terhadap satwa liar di Kalimantan Barat masih saja marak. Mulai dari trenggiling, buaya hingga burung.

Satwa yang harusnya harusnya hidup bebas ini malah ditangkap dan diperjualbelikan. Dari jumlah itu, burung berkicau diketahui paling banyak yang diperdagangkan.

“Satwa yang jadi korban lebih banyak burung, dibanding hewan mamalia, reptil,” kata pengamat burung yang juga dokter hewan di pusat penyelamatan burung berkicau Wak Gatak, Yayasan Planet Indonesia, Happy Ferdiansyah, Kamis (24/8/2023).

Adapun burung berkicau yang masih banyak diperdagangkan seperti burung kacer, murai batu, cucak rawa, cica daun besar, cica-daun sayap biru kalimantan, pleci, burung madu-sepah raja, cicilin, betet-ekor, serindit melayu dan teong mas.

Total burung berkicau sendiri ada 202 jenis burung, 57 di antaranya termasuk jenis dilindungi diperdagangkan.

Menurut Happy, pasar burung berkicau bukan hanya pasar lokal. Tapi juga padat internasional sangat tinggi. Apalagi burung di Indonesia sudah lebih 1.800 jenis. Dari total jenis 17 ribuan burung.

“10 persen jenis burung di dunia ada di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, biaya rehabilitasi juga sangat besar. Pengurus Pusat Penyelamatan Burung Berkicau Wak Gatak atau P2B2 Wak Gatak ini mencatat, jika satu burung Rp3. 500 untuk biaya perawatan.

Artinya, 100 burung dikalikan tiga bulan mencapai Rp31 juga. Belum lagi jasa staf perlawanan yang selama tiga bulan mencapai Rp54 juta dan rehabilitasi kandang dan volunteer yang mencapai belasan juta.

“Kalau di kalkulasikan Rp102 juta. Ini belum dihitung biaya pemeriksaan lain seperti pemeriksaan laboratorium dan transportasi,” ucapnya.

Secara evaluasi ekonomi, kata dia, perdagangan burung tidak kalah dengan peradangan satwa yang lain. Dan satwa burung jadi korban paling banyak. Hal ini lah yang mendasari Yayasan Planet Indonesia membuat rescue center burung.

“Burung juga satwa yang paling mudah stres dan mudah mati jika jadi korban perdangangan satwa dibandingkan yang lain,” katanya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, Fachrudin Mangunjaya mengatakan, satwa liar ini memasuki fenomena kepunahan. Jika dulu hal ini disebabkan karena bencana. Tapi saat ini disebabkan karena ulah manusia.

Menurutnya, ada empat hal mendasar yang menyebabkan perdagangan satwa liar meningkat. Pertama adanya pasar.

“Kalau tidak ada pasar, peradangan ini tentu tak marak,” terangnya

Di samping itu, ada faktor mendorong seperti adanya perlombaan burung. Untuk itu, pendekatan perubahan prilaku menjadi penting. Agar perdangan burung dan satwa liar tak makin marak.

Salah satunya melalui keagamaan menjadi penting. Tak kalah penting juga penegakkan hukum.

“Ini akan dapat merubah prilaku. Penegakan hukum penting. Kalau tidak ada tentu tak ada efek jera,” ujarnya.

 Kepala BKSDA Kalbar, Wiwied Widodo berharap ada sinergisitas semua pihak untuk melakukan perubahan prilaku masyarakat.

Utamanya media. Media diharapkan dapat berperan aktif mendukung upaya perlindungan dan menekan jumlah kasus perdagangan satwa liar ilegal termasuk upaya-upaya untuk mendorong perhatian dan partisipasi para pihak dalam menekan perdagangan satwa liar. (Andi)***

Abdul Halikurrahman
Abdul Halikurrahmanhttps://insidepontianak.com/redaksi/
Koordinator Liputan Insidepontianak.com
RELATED ARTICLES

Berita Populer