Reses di Sanggau-Sekadau, Aloysius Serap Aspirasi Konstituen: Keluhan Jalan, BBM, hingga Sawit Mendominasi
PONTIANAK, insidepontianak.com – Pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan masih mendominasi aspirasi masyarakat Sanggau-Sekadau. Keluhan ini diserap langsung oleh Ketua DPRD Kalimantan Barat, Aloysius, saat menggelar masa reses di belasan titik.
Dalam agenda tersebut, Aloysius bertatap muka langsung dengan konstituen, perangkat desa, badan permusyawaratan desa (BPD), tokoh adat, serta tokoh masyarakat untuk mendengarkan berbagai persoalan warga.
Setiap aspirasi yang masuk dicatat secara rinci untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat agar ditelaah dan ditindaklanjuti.
Aloysius mengungkapkan, meski ketentuan mengatur pelaksanaan reses minimal 10 titik dengan sekitar 200 peserta per titik, ia justru turun menjangkau lebih banyak tempat.
"Kita reses di belasan titik. Setiap hari ada tiga titik," ungkapnya.
Dari belasan titik yang didatangi, masalah infrastruktur masih menjadi keluhan utama. Kondisi jalan dan jembatan yang rusak dinilai berdampak langsung terhadap mobilitas warga, akses pelayanan publik, hingga kelancaran aktivitas ekonomi.
Menurut Aloysius, tingginya volume usulan ini harus direspons melalui perencanaan yang terukur, mengingat keterbatasan anggaran daerah membuat tidak semua kebutuhan dapat direalisasikan sekaligus.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menyelaraskan hasil reses dengan usulan yang telah masuk melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), mulai dari tingkat desa, kabupaten, hingga provinsi.
“Jangan sampai program itu seolah-olah tiba-tiba jatuh dari langit. Kita harus melihat usulan yang sudah masuk melalui musrenbang, lalu mengawal agar kebutuhan masyarakat bisa ditindaklanjuti,” tegas Aloysius.
Ia memastikan hasil reses tidak akan berhenti sekadar sebagai catatan dewan, melainkan dikaji berdasarkan tingkat urgensi, kewenangan pemerintah, serta kemampuan fiskal daerah.
Selain infrastruktur, Aloysius juga mendapati keluhan warga terkait distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih memicu antrean panjang di Kabupaten Sanggau dan Sekadau.
Persoalan tak kalah penting turut dirasakan oleh para petani kelapa sawit. Sejumlah pabrik dilaporkan mulai membatasi pembelian Tandan Buah Segar (TBS) lantaran tangki penampungan Crude Palm Oil (CPO) penuh.
Kondisi ini dipicu oleh kendala pengangkutan dan distribusi CPO di tengah musim kemarau berkepanjangan, yang membuat petani terpaksa mengantre panjang demi menjual hasil panen.
“Keluhan masyarakat sekarang, pabrik-pabrik agak membatasi pembelian buah. Bukan tidak membeli sama sekali, tetapi petani harus mengantre,” ujarnya.
Aloysius menilai persoalan ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah karena berisiko memukul pendapatan petani sawit. Ia pun sempat mengupayakan komunikasi dengan kementerian terkait di Jakarta untuk membuka peluang izin sandar bagi kapal pengangkut CPO di kawasan Tayan dan Toba, meski hingga kini belum membuahkan hasil optimal.
Ia berharap pemerintah sigap mengantisipasi dampak kemarau berkepanjangan terhadap distribusi komoditas perkebunan, agar kendala operasional tidak terus-menerus membebani masyarakat.***
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment