Bupati Yohanes Ontot Buka Festival Paradje Pesaka Negeri XVIII Sanggau

7 Oktober 2026 16:43 WIB
Foto: insidepontaianak.com -- Bupati Sanggau, Yohanes Ontot memukul gong tanda dibukanya Festival Paradje Pesaka Negeri ke-XVIII.

SANGGAU, insidepontianak.com – Bupati Sanggau Yohanes Ontot resmi membuka Festival Paradje Pesaka Negeri ke-XVIII di halaman Keraton Surya Negara Sanggau, Rabu (7/10/2026).

Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tujuh kali yang kemudian dilanjutkan dengan pemukulan rebana.

Sebelum acara pembukaan, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab keliling Kota Sanggau. Kirab tersebut menjadi bagian dari ritual adat sebagai simbol ikhtiar membersihkan negeri dari berbagai marabahaya dengan melafazkan doa-doa.

Usai membuka festival, Bupati Sanggau Yohanes Ontot mengapresiasi konsistensi Keraton Surya Negara dan masyarakat adat Melayu dalam melestarikan Festival Paradje.

“Saya kira Paradje ini dari waktu ke waktu semakin baik, semakin luar biasa penataannya dan tampilannya. Kalau sifatnya ritual, kan itu dari zaman ke zaman bisa tidak berubah, mungkin tempatnya berubah,” ujar Yohanes Ontot.

Menurutnya, pelaksanaan Festival Paradje tidak hanya mempertahankan nilai ritual dan tradisi, tetapi juga menghadirkan berbagai tampilan budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas.

“Tampilan dan sebagainya oleh masyarakat adat Melayu dan juga keraton ini selalu menampilkan sesuatu yang luar biasa untuk ditonton, dilihat oleh masyarakat luas selain masyarakat adat Melayu,” katanya.

Yohanes menjelaskan, pelaksanaan Festival Paradje tahun ini memiliki cerita tersendiri. Kegiatan yang semula direncanakan digelar pada September 2026 harus ditunda karena Kabupaten Sanggau saat itu menghadapi kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.

Menurutnya, penundaan tersebut bukan berarti pemerintah mengabaikan pelestarian budaya. Sebaliknya, keputusan itu merupakan bentuk tanggung jawab untuk memastikan pelestarian budaya berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat dan lingkungan.

“Penundaan kegiatan bukan berarti mengabaikan budaya. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, visi Pemerintah Kabupaten Sanggau, yakni Sanggau Berkelanjutan, Maju, Berkeadilan, tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pelayanan publik.

Menurut Yohanes, pelestarian adat, budaya, karakter dan jati diri masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang. Budaya harus dipahami, dijaga, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ia berharap Kabupaten Sanggau dapat terus berkembang menjadi daerah yang maju dan modern tanpa kehilangan karakter serta jati diri budayanya.

Generasi muda juga diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus tetap memegang teguh adat dan budaya yang menjadi identitas daerah.

“Terima kasih sekali lagi, selamat dan sukses untuk Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri Sanggau ke-18. Selamat dan sukses,” tutupnya.

Paradje Momentum Memperkuat Persatuan

Sementara itu, Pangeran Ratu Surya Negara H. Gusti Arman menjelaskan bahwa Paradje memiliki filosofi sebagai ikhtiar untuk melakukan pembersihan negeri dari mara bahaya, malapetaka dan sifat-sifat buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Paradje tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat dan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, mempererat persaudaraan serta memohon perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

Ia mengajak seluruh masyarakat Sanggau menjaga persatuan dan tidak menjadikan perbedaan suku maupun agama sebagai alasan untuk saling membedakan.

“Siapa pun yang lahir di Sanggau, tumbuh di Sanggau, mencari kehidupan di Sanggau, membangun keluarga di Sanggau, maka ia adalah bagian dari masyarakat Sanggau,” ujarnya.

Raja Sanggau tersebut menegaskan, masyarakat Dayak, Melayu dan berbagai suku lainnya merupakan bagian dari sejarah serta kehidupan Kabupaten Sanggau. Karena itu, menurutnya, persatuan dan sikap saling menghormati harus terus dijaga demi kehidupan masyarakat Sanggau yang harmonis.

“Kalau kita bersatu, kita kuat. Kalau kita terpecah, kita akan mudah dilemahkan,” tegasnya.

Pembukaan Festival Paradje Pesaka Negeri ke-XVIII turut dihadiri Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Brigjen Pol (Purn) Dr H A.A. Mapparessa, Ketua DPRD Kalbar Alolsius beserta anggota, Kepala Dinas Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol Totok Lisdiarto, raja-raja se-Kalimantan Barat, Wakil Bupati Sanggau, jajaran Forkopimda Sanggau, Ketua dan anggota DPRD Sanggau, paguyuban, tokoh agama, tokoh masyarakat serta undangan lainnya. (*)


Penulis : Ansar
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar